Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Category:

teROHIS

Anak SMA Sudah Jadi Pembimbing Haji

Kelas 3 SMA memang tidak dibolehkan aktif dalam organisasi apa pun, baik OSIS maupun DKM. Akhirnya, saya dan Novi Hardian ditunjuk untuk menjadi panitia dadakan. Kami berdua kebagian jadi panitia untuk Manasik Haji. Pekerjaannya menyiapkan alat-alat untuk praktek manasih haji itu. Mulai dari miniatur ka’bah, makam Ibrahim, jumroh, hingga petunjuk rute tempat selayaknya pelaksanaan haji beneran.

Pekerjaan yang cukup berat adalah membuat kiswah untuk menutup ka’bah. Warisan dari panitia sebelumnya adalah kain hitam yang di bagian atasnya diberi garis kuning. Saya puny ide untuk memberi tambahan tulisan kaligrafi dengan dibordir.

Continue reading

Pejuang Hijab

Ketika saya kelas 1 SMANSA Bogor, kakak kelas tidak banyak yang berhijab. Ada salah satu kakak kelas yang sangat saya kagumi. Namanya RA. Saya kenalnya karena sama-sama ngaji di Majlis Taklim Al Ihya Bogor. Berhijab sejak SMP, kakak kelas bermata teduh dan sangat antusias kalau ngobrol ini, tidak menunjukkan ketakutannya ketika masuk SMA mengalami diskriminasi dalam hal pemakaian hijab. Saat itu hijab dilarang dikenakan oleh siswa SMA.

Tidak sendiri, bersama teman-teman karibnya, RA memperjuangkan hijab sebagai jalan hidupnya.
Kami, para adik kelas, yang laki-laki, hanya bisa mendoakan saja, dan sebagai bagian dari anak-anak Rohis, tentu seringkali berdiskusi secara internal dengan RA dan kawan-kawan lainnya.
Pertentangan hijab tersebut meluas, hingga masuk ke ranah pengadilan. Tentu sebuah kondisi yang menegangkan, bagi seorang siswa SMA yang harus menghadapi pengadilan.
Akan tetapi, saya lihat, karena yang diperjuangkannya adalah jalan hidup, maka tak ada gurat ketakutan diantara RA dan teman-temannya.
Bahkan, kondisi ketegangan tersebut membuat tumbuhnya solidaritas dan silaturahmi di antara para orang tua. Mereka mengadakan pengajian; uniknya, salah satunya selalu mendoakan agar Pak Ng, Kepala Sekolah SMAN 1 Bogor, bisa segera naik haji. Sama sekali tak ada hal-hal negatif tentang Pak Ng, lebih fokus kepada agara dibukakan hidayah, hati dan kebaikan bagi pak Kepala Sekolah SMAN 1 Bogor.
Tak semua sekuat RA dan kawan-kawannya. Ada yang harus membuka hijab dan mengenakan wig, atau memilih mengenakan hijab ketika lulus SMA nanti.
Interogasi demi interogasi dialami Teh RA dan kawan-kawannya. Dialog antara siswi SMA yang mempertahankan tuntutan akidah dengan seorang Kepala Sekolah yang bermaksud menegakan aturan hingga di titik Kepala Sekolah mengeluarkan siswi yang tetap memaksakan diri untuk berhijab.
Tak patah semangat, solidaritas makin kencang, hingga pihak-pihak seperti Kemendikbud hingga LBH pun jadi upaya untuk memperjuangkan hijab tersebut.
Pengadilan Negeri Bogor adalah saksi bagaimana kemudian massa turut menjadi pressure grup bagi perjuangan sekelompok remaja yang berhadapan dengan kekuasaan, memperjuangkan akidahnya tanpa takut akan akibatnya, karena yakin Allah Bersama mereka.
Dan keputusan pengadilan pun akhirnya memenangkan RA dan kawan-kawan sampai bisa bersekolah kembali di SMAN 1 Bogor dengan mengenakan hijab.
Itulah yang mengawali maraknya penggunaan hijab di SMA se Bogor dan mungkin se Indonesia. Walaupun negara belum selesai dengan hal tersebut; karena di masa-masa berikutnya, persoalan hijab ini tetap menimbulkan polemik ketika menjadi bagian dari seragam sekolah.
Saya bersama teman-teman yang lain di Rohis, salut dan bangga dengan semangat RA dan kawan-kawan yang lain. Yang saya inget, saya pernah ‘nangis’ di depan RA, untuk menyampaikan bahwa adik-adik Rohis kelas 1 ini sangat mendukung perjuangan kakak kelas yang kami banggakan; walaupun kami belum paham sempurna tentang perjuangan yang dilakukannya.
Tonggak sejarah, bahwa SMAN 1 Bogor adalah kawah candradimuka bagi pembentukan karakter dari orang-orang yang memperjuangkan akidahnya; dengan cara-cara yang baik dan berharap kebaikan untuk semua orang; berharap ada hikmah besar dari peristiwa yang dialaminya.

Kekuatan spiritual itu pula yang kemudian tahun 2013, RA menuliskan buku In God We Trust: Meretas Hijab dari Indonesia sampai Amerika; karena di Amerika, RA menghadapi diskriminasi yang de javu, seperti pernah dihadapinya di masa SMA; tentu dengan tingkat tantangan yang berbeda; karena yang dihadapinya adalah institusi US Army.
Saya beruntung berada satu rentang masa remaja di SMANSA Bogor; sehingga bisa belajar banyak dari karakter RA dan teman-temannya.
Allah Melindungi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.
Sekarang RA berdomisili di Amerika Serikat dan menbuka klinik dokter gigi di beberapa kota disana.
#teROHISin God We Trust

Kepala Babi Cikal Bakal Pengadu Domba

Gak semua cerita tentang #teROHIS itu nyenengin. Mei 1998, saat panas2nya suasana jelang reformasi; saya dan teman biasa membersihkan teras mesjid, termasuk tempat wudhu juga. Mesjid kami berada di pinggir jalan. Saat itu jam 06-an; masih pagi. Tiba-tiba, ada mobil pick up yang lewat pelan-pelan di samping mesjid. Dan… swiiiiiing… seseorang yang mengenakan topi untuk menyembunyikan wajahnya, melemparkan sesuatu ke arah mesjid. dan ternyata, yang dilempar itu.. kepala babi….. masih ada darahnya… kami sangat kaget… teman saya langsung membungkus kepala babi tersebut dengan karung. mengamankan. dan beruntung saat itu mesjid masih sepi, jadi tidak ada yang tahu kejadian tersebut, kecuali kami, marboth. Kami langsung kontak Pak Rektor. Rektor memberikan keputusan bijak. Kesepakatan langsung dibuat. Jangan sampai berita ini tersebar ke seluruh mahasiswa, bisa kacau. Karena ini mungkin saja provokasi dari pihak tertentu untuk mengadu domba. Kepala babi itu pun kami kubur di belakang kampus. Kondisi kampus pun aman; walaupun kami dengar kemudian, teman-teman marboth di mesjid Amaliah, Juanda, juga mendapatkan perlakuan yang sama. Tapi, mereka melakukan tindakan yang hampir sama. Kami tidak mencari siapa yang melempar kepala tsb, kami hanya menjaga agar tindakan mereka tidak membuat kacau kondisi kampus. Orang lain boleh bertindak buruk terhadap kita. Akan tetapi, kita bisa memilih bersikap baik terhadap tindakan buruk tersebut. #teROHIS. True Story

Kursi dan Ayat Kursi

Ketika pindahan ke mesjid baru, saya dan teman-teman marboth Mesjid Al Kautsar tidak punya tempat tinggal lagi, karena mesjid lama dirobohkan. Jadilah, saya bersama sahabat saya dibangunkan ruangan kotak dari triplek dengan kasur seadanya. Berbatasan dengan tumpukan bahan bangunan yang masih bisa dimanfaatkan, seperti kusen, kursi-kursi, rak dan beberapa meja. 
Beneran marboth tanpa mesjid. Suatu kali, karena kami menginap di kotak marboth tersebut, malam-malam, teman saya yang sering terbangun malam, tiba-tiba membangunkan saya…
“Akh.. itu kayanya ada putih-putih yang ngoprek bahan bangunan.. hantu kali ya..” sambil mengintip dari balik jendela yang tidak ada kacanya. Lubangnya kecil tapi cukup untuk melihat ke tumpukan bahan bangunan tsb.
Teman saya ini mungkin punya pengalaman sama hantu dan identik dengan pakaian putih-putih…
Kemudian, kami pun segera makin mendekat untuk memastikan, apakah sesuatu berbaju putih itu benar-benar hantu; sambil baca-baca ayat kursi; dan akan mengambil keputusan kalau ayat kursi tidak mempan, mungkin bisa pake kursinya sekalian.
Karena hantu tersebut kelihatannya sedang mengambil kursi chitoos atau apa gitu…
Semakin dekat, kami akhirnya bisa melihat saat sesuatu berbaju putih itu membalik ke arah kami. Kok hantu itu ada tali peluit di lengan kanannya… hehehe.. ternyata bukan hantu… tapi security yang lagi cari-cari bahan bangunan yang mungkin masih bisa dipake….
Teman saya pun lega. Nggak jadi bersyakwasangka. Dan saya bisa tidur tenang kembali, istirahat sejenak, dan tidur kembali…

Nyewa Kereta Api Bogor-Jakarta

Ada yang pernah nyewa kereta sampai seluruh gerbongnya gak? Nah, anak SMANSA Bogor, dimotori anak2 OSIS dan anak rohisnya bisa nyewa kereta saat mengunjungi Festival Istiqlal I tahun 1991 di Jakarta. Khan keren bisa ngelobby PJKA sampai diijinin antar jemputnya (Bogor-Jakarta) pake kereta; satu angkatan 1992 sekali angkut. Yg tinggal di depok; nyegat dan kejar2an ditarik sama anak yg di kereta karena kereta berhenti di setiap stasiun tapi pintu tertentu aja yg dibuka. Alhasil.. warga yg cuma bisa melihat kereta lewat… melongo aja… gak bisa ikutan naik. Catatan. Saat itu penumpang kereta gak sepadat sekarang. #teROHIS. Rohis itu nggak cupu.. tapi bisa ngelobby dan mentingin banyak orang.. walaupun ada yang keningnya kena timpuk penumpang… hehehe

Nyewain Sarung Jum’atan

Mungkin ada yang kenal dengan Kang Elang Gumilang? Developer Rumah Sederhana Elang Group asal Bogor yang sudah membangun lebih dari 10.000 rumah? Pemenang berbagai penghargaan Wirausaha dan Nominator termuda di dunia untuk Ernst & Young Entreprenuership Award? Tahu gak, kalau karir bisnis pertamanya saat SMP, sebagai Rohis, adalah menyewakan sarung sebelum jum’atan? saat itu siswa SMP masih mengenakan celana pendek biru. #teROHIS.

Tawuran STM vs DKM

Suatu hari, saya jalan depan jl. kantor batu, deket SMAN 1 Bogor. Saat itu bersama dengan teman-teman rohis, sepulang pengajian. Tiba-tiba ada anak-anak STM yang keliatannya lumayan limbung jalannya (entah mabok, entah lapar)….
Mereka nyegat.. nanya dengan ekspresi diteler-telerin… pertanyaannya standar: “anak mane lu?”…
saya yang jawab, maju dengan pede-nya, padahal badan paling kecil.. “kita anak DKM… emang kenapa?”
anak STM itu nanya lagi: “emang DKM itu SMA mana?
saya jawab: “bukan sekolahan, DKM itu Dewan Keluarga Musholla SMAN 1 Bogor”…
oh gitu…
anak STM-nya langsung melipir. Gak jadi ngajak berantem atau malak…bukan takut berantemnya, mungkin lebih takut didoain….
colek Novi Hardian Eko Hardjanto…. saat itu saya barengan mereka… hehehe

Lima Belas

“Pertanyaan terakhir… Man Kaana.?”… belum beres pertanyaan, saya pencet bel sekeras-kerasnya dan temen saya yg jadi juru bicara Tim Cepat Tepat Agama Islam SMANSA Bogor menjawab kalem: “15”…
Semuanya tegang.. karena kalau jawaban kami benar, kami jadi juara satu, kalau jawaban kami salah, kami jadi juara 3. Lawan saat itu adalah MAN 2 dan SMA 5.
Juri melanjutkan pertanyaan: “man kaana dalam bacaan Alqur’an dibaca menjadi mang kaana; dalam ilmu tajwid dikenal dengan hukum ikhfa dalam membaca. Pertanyaannya.. Berapakah jumlah huruf ikhfa?”…
Dan.. juri langsung menyebut…

“Jawaban 15 adalah betuuuul. 100 utk Regu B, Rohis SMA 1 Bogor..”…

Ya pertanyaannya memang tentang jumlah huruf ikhfa dan jawabannya memang 15. Entah darimana ilham yg turun ke juru bicara kami ini. Hehehe… akhirnya mengantarkan Rohis Smansa Bogor mempertahankan gelar kembali.

Itulah sepenggal cerita #anakrohis saat adu cepat tepat agama Islam se-Kota Bogor. Saat itu saya yg memang nekat, kerjaannya memang tukang mijit bel; yg jawab biasanya alumni pesantren diantara kami.. Miftahudin Badru dan Eko Hardjanto yg dikirim sebagai perwakilan Kota Bogor ke Tngkat Jawa Barat.

#teROHIS.

Kalau Marah, Jangan Langsung Pulang

Forsipram (Forum Silaturahmi Pelajar Muslim) se Bogor adalah organisasi Rohis antar SMA/sederajat se Kota Bogor. Saya diamanahi menjadi Ketua I. Ketua Umumnya Kang AM. Ketika itu pertemuan Forsipram (Forum Silaturahmi Pelajar Muslim) di SMAKBO. Karena mengikuti aturan, maka pertemuan dibatasi dengan hijab. Mulailah AM memimpin rapat. Saya yang ada di barisan ikhwan ikut juga. Di seberang, tertutup hijab warna hijau gelap adalah akhwat dari beberapa SMA di Kota Bogor.
Pertemuan dimulai. Diskusi berlangsung lancar. Di beberapa saat ada pembahasan yang lumayan berat.
Hingga akhirnya… kondisi hening. Hening sekali.
Kami para ikhwan juga tidak tahu, dan menduga para akhwat sudah meninggalkan masjid. Setelah berbisik pelan, akhirnya, kami, para ikhwan pun meninggalkan mesjid. Rapat bubar walaupun tidak ditutup seperti semestinya.

Beberapa hari kemudian, ketika ketemu di sekolah, salah satu akhwat yang mengikuti rapat di SMAKBO tersebut ketemu dengan saya, dan menyampaikan pesan.

“Akhi, mohon maaf nih dari para akhwat… saat rapat kemarin, kalau memang ada yang kurang pas, terus marah… mohon jangan ninggalin rapat begitu saja, kita juga jadi tidak enak. Kita nungguin lumayan lama”

Hah….

Jadi, yang ninggalin rapat itu rupanya ikhwan duluan, karena menyangka akhwatnya sudah meninggalkan rapat. Karena ikhwannya sudah meninggalkan mesjid, akhwatnya pun menyusul keluar mesjid. Jedanya cukup lama. Efek dari keheningan waktu itu. Efek dari hijab hijau gelap itu. Efek dari materi diskusi yang berat dan menguras hati. Padahal akhwatnya, masih di dalam Mesjid, walaupun tidak ada respon. Menunggu, mungkin sedang membahas internal.

Hehehe..
Karena saking gak keliatannya, terjadilah miskomunikasi.
#teROHIS

Dari Panah-panahan Jadi Buku

Ada yang pernah baca buku Super Mentoring, sebagai panduan mengisi kegiatan Mentoring Agama Islam di SMA? Begini ceritanya… konten dari buku tersebut mulai dikumpulkan tahun 1991, ketika Mentoring Agama Islam mulai diadakan di SMAN 1 Bogor. Saya saat itu kelas II, bersama Novi HardianEko Hardjanto dan Ahmad Safari (tim Rohis DKM SMANSA Bogor) mulai menyusun buku tersebut, berbekal materi panah-panahan yang disampaikan oleh Mr. H (amniyah nih… hehehehe) serta tambahan dari buku Bimbingan Karir dari Bimbel Nurul Fikri. Karena waktu itu, kami baru pertama kali mengenal materi panah-panahan tersebut, jadilah butuh usaha lebih keras untuk memahami buku tersebut. Beruntunglah, hal ini terbantu karena teman-teman akhwat DKM SMANSA asal Depok, Santi Widhia and the gank, lebih dulu mendapatkan materi dan paham terkait materi-materi mentoring tersebut.
Di Bogor saat itu belum menjamur banyak rental komputer, apalagi digital printing. Printernya masih pake printer gulungan yang brisik (epson), dan Om Bill Gates belum menemukan windows explorer, jadi masih pake wordstar.
Beruntunglah ada yang bisa ngetik pake WS 6, dengan hafalan .pm, .lh, dst… akhirnya tersusunlah materi mentoring berukuran 1/4 quarto. Dan saya beserta Ahmad Safari (yang di rumahnya ada komputer, sehingga saya sering menginap dan jadi basecamp kita di luar sekolah), bolak balik ke rental komputer di Jl Empang (samping mesjid Empang), yang sekarang jadi toko alat pancing ikan. Lumayan jauh juga.

Berikutnya; kalau jaman sekarang, tinggal digital printing dan minta potong ukuran tertentu. Jaman baheula, ya harus nyusun sendiri, mikirin letak halaman, ukuran yang sama, dan demi penghematan, 1 quarto isinya 4 halaman; kemudian digunting manual dan distreples. Beneran dipas-pasin supaya tepat urutannya dan pas digunting juga ngepas bentuknya.

Jadilah buku kecil materi mentoring dengan huruf roman 10 dan jadi buku panduan bagi saya dan mentor-mentor lain untuk menyampaikan 24 materi mentoring untuk satu semester.
Efeknya, saya yang katagori paling dhuafa soal ilmu mentoring, jadi sekalian belajar, sambil ngetik. Lumayan. Dan gaya menulis dari buku ini pula yang mempengaruhi gaya menulis saya di kemudian hari.

Beberapa tahun kemudian, kompilasi materi tersebut dibukukan oleh tim Syahrul Komara dan diterbitkan sehingga bisa menjangkau banyak sekolah di Indonesia, bahkan menjadi bahan penelitian dari seorang mahasiswa S2 dari Jepang.. Yo Nonaka yang konsern dengan pergerakan jilbab di Indonesia (arigato gozaimaska) dan mewawancarai kami.

Buku Mentoring sudah berkembang menjadi buku Game, Panduan Manajemen, sampai ke Mentoring SMP yang dikomandoi oleh Edi Wahid.

Panah-panah materi itu rupanya menjadi panah-panah cinta kepada Sang Pencipta dan Kekasih Sang Pencipta….Semoga jadi ilmu yang bermanfaat.

#Mentoring #teROHIS.
Catatan indahnya:
Penulis materi panah-panahan itu kini menjadi salah satu Gubernur terbaik di Indonesia. Dr. Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat)..

Btw.. ada yang inget gak materinya tentang apa aja?
Colek Kang Muhammad Ruswandi yang ngurusin perbukuan Mentoring…. masih adakah stoknya? Kangen baca lagi nih… dan mau saya pake untuk bahan kurikulum di YatimOnline…