Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Category:

Happy Jump

Happy Jump Over RCTI

Alhamdulillah. Syukur tak terkira, ketika nama saya disebut oleh VJ Daniel dan Luna Maya sebagai salah seorang yang mendapatkan Golden Ticket to USA; berangkat ke Amerika, menapaktilasi jejak langkah Obama, mulai dari masa kecil hingga remaja di Hawaii, karir politik sebagai senator Illinois di Chicago dan menjabat sebagai Presiden di Washington DC. Plus, kunjungan ke Microsoft Camp di Seattle.

Berkah luar biasa…

Memang tak mudah dan sepertinya tak mungkin. Tapi ini terjadi. Memang perlu untuk bermimpi, supaya terkejut ketika mimpi itu menjadi kenyataan dan menikmatinya.

Perjalanan memperoleh Golden Ticket memang perjalanan tak biasa buat saya. Membawa misi untuk mengenalkan Pondok Yatim Menulis supaya bisa bersentuhan dengan dunia maya, akhirnya terlaksana. Mimpi orang kampung untuk bisa ke Amerika Serikat, yang katanya Land of Hope, akhirnya diberikan jalan oleh-Nya.

Oleh karena itu, ekspresi kemenangan yang saya lakukan, sepertinya ‘keterlaluan’; berlari kesana kemari, seperti orang bingung. Tak apa.. itulah rasa yang membludak karena bisa mewujudkan mimpi.

Saya masih ingat pantun kampanye saya yang menggunakan identitas kesukuan, yaitu Sunda:

Tokecang, tokecang bala gendil tosblong

Angeun kacang, angeun kacang sapariuk kosong

Arjuna Mencari Cinta, Bawa Kaktus Pake Kargo

Inilah Baban Sarbana, Dari Ciapus ke Chicago

Bang Malih Ke Pasar Turi, Beli Jamu Telornya Lima

Pilih Saya Hai Para Juri, Biar Ketemu Barack Obama

Hahahahha..itulah pantun yang spontan saya buat.. Saya ingin menjadi orang Sunda; dimana pun saya berada. Itulah wujud nasionalisme versi saya.. Mencintai budaya daerah sebagai akar dari budaya nasional.

Saya pun masih ingat ketika Luna Maya dan VJ Daniel menanyakan:

“Apa yang kamu lakukan ketika tiba di Amerika?”

“Update status (di fb dan twitter)…!” jawab saya, spontan!

Disambung dengan pertanyaan Putra Nababan, ketika ada tanya jawab dengan juri..

“Isi update statusnya apa?”

“Alhamdulillah… saya sampai di Amerika Serikat. Buat Anak yatim.. bermimpilah. Tidak ada yang Tidak Mungkin…!” jawab saya. Dalam…

Betul.. saya ikut kompetisi ini, ingin sekaligus memberikan referensi mimpi kepada anak-anak yatim di Ciapus. Supaya mereka bisa bangkit dan mendunia. Kasihan sekali jika referensi mimpi-nya sedikit.

Dan yang saya paling ingat, adalah ketika ditanya tentang Putra Nababan. Saya katakan, bahwa saya punya anak bungsu yang dipanggil dengan nama yang sama, tapi intonasi berbeda.. Andra, anak bungsu saya, biasa dipanggil bunda-nya: PUTRANA BABAN (anaknya Baban: Sunda)..hehehehe. Dan saya lihat Putra Nababan juga tergelak. Senang bisa membuat orang tertawa.

Pertanyaan Putra Nababan berikut yang tak terlalu baik saya jawab adalah soal

“Bagaimana seharusnya Bangsa Indonesia menyambut kedatangan Obama?”

Walaupun akhirnya Obama tak jadi datang Juni ini; tapi saya jawab:

“Sambutlah Obama sebagai manusia, yang pernah tinggal di Indonesia dan ingin membawa keluarganya untuk kembali mengingat masa-masa hidup yang menjadi salah satu pembentukan jati dirinya. Bahwa ada permasalahan dengan kebijakan tentang Israel, itu terkait dengan jabatannya sebagai Presiden AS. Saya memilih menyambut Obama sebagai orang yang ingin bernostalgia…”

Waktunya tak cukup memang….

Dan, akhirnya… pengumuman pun disampaikan.

Tegang… Nervous

Meloncatlah saya ketika berhasil lolos. Menangis dalam hati. Haru dan bahagia.

Saya salami Tristam Perry, Ayu Soetoro dan Putra Nababan. Saya toss dengan Kerabat Kotak (fansnya Kotak) dan Jameelian (fansnya Mulan Jameela). Emosional.

Ternyata do’a anak yatim dan orang tua, terkabul.

Saya pun terpilih bersama Dimas Novriadi dan Vivi Hasyim. Bahagia juga, karena ada 2 blogger yang terpilih.

Tuhan Maha Tahu, yang saya lakukan, semoga dipelihara niatnya…

Malam itu sungguh malam yang luar biasa. Bukti kekuatan do’a dan kehendak dari Yang Maha Kuasa.

Terima kasih untuk semuanya. US Embassy, RCTI, peserta kompetisi (Big 10 yang jadi finalis)….pemirsa di rumah.

Masih panjang perjalanan. Pergi ke Amerika dan (Semoga) bertemu Obama, adalah awal baru untuk meraih mimpi baru.

Semoga!

Happy Jump Over Singapura

Tak terduga, saya mendapat kesempatan untuk berwisata ke Singapura. Bersama pemenang Fast Browse & Win yang diselenggarakan oleh Plasa MSN.

Berkumpul dini hari di Terminal 2D Bandara Soekarno Hatta, sudah terlihat antusiasme para pemenang yang membawa 1 orang yang diajaknya. Kebanyakan dari pemenang yang masih single, membawa ibunya. Ada yang membawa kakaknya, ada juga yang membawa temannya.

Rapih sekali cara menghandle pemenang dan kami, dari beberapa media. Saya hadir mewakili blogger, ada teman media dari Okezone.com dan PCPlus juga. Mulai dari pemberian name-tag untuk identitas bagasi, hingga kaos dan topi yang bertuliskan Fast Browse & Win. Rapi.

Pesawat Lion Air menerbangkan kami ke Singapura, jam 06.15 dan sampai di Changi Airport jam 09.30. Bergegas ke imigirasi, sambil tak lupa foto-foto di beberapa lokasi. Hingga tiba di pengambilan bagasi. Karena saya keasyikan nge-twit, maka bagasi saya pun terbawa kembali ke dalam dan saya harus menunggu kembali. Asyik nge-twit dan update status, saya celingak-celinguk, melihat sekeliling, ternyata saya ketinggalan. Teman-teman satu rombongan sudah berangkat lebih dulu ke Merlion Park.

Segera saya menelpon panitia, @chikastuff, mencari tahu nomor kontak panitia yang lainnya. Alhamdulillah akhirnya bisa tersambung juga. Akan tetapi, masalahnya adalah, ternyata bis rombongan tak bisa kembali. Jadi, saya harus menyusul ke Merlion Park pake taksi.

Hmmm.. Hari pertama sudah begini. Salah saya juga, terlalu asyik nge-twit sampai lupa ngeliat rombongan. Segera saya ke Money Changer, karena pake taksi harus bayar $ Singapura.

Saya ngantri menunggu taksi. Tak lama, taksi pun datang.

“Merlion Pak” kata saya dengan logat Sunda Inggris. *Mer-li-yon. Begitu bunyinya.

“What… ?” Jawab Supir taksi bingung; dengan logat Sing-Lish alias Singapura English.

“Mer-li-yon Park Sir” kata saya menegaskan, tetap dengan logat Sunda.

“Oh.. Mer-lai-yon Park… oke…” Jawab Pak Supir Taksi, baru nyadar.

Saya juga baru nyadar, atau emang bawaan, nyebut Merlion Park dengan logat Sunda, jadinya Mer-li-yon; bukan Mer-lai-yon.. Hehehe.. Lidah Sunda memang sulit beradaptasi.

MERLION PARK

Meluncurlah saya ke Merlion Park, taksi bayar taksi SG$ 18. Sampai disana, rupanya rombongan sudah mau pulang. Segera saya menemui panitia, mohon maaf karena saya tertinggal. Anehnya, ternyata, peserta dianggap sudah cukup dan ikut semua. What? Berarti saya ngga masuk itungan ya? hehehehe… Never mind; gak apa-apa lah. Yang penting sudah ketemu, dan bisa langsung gabung. Oh ya, pemandu-nya orang India, yang bernama Pak Rahmat.

Merlion Park itu gak besar-besar banget. Posisinya yang strategis dan memang menjadi ikon Singapura. Kita bisa foto dengan background Patung Merlionnya, atau bisa juga dengan background Hotel Marina Bay Sands Singapura yang terkenal dengan bentuk kapal pesiar di atas penopang 3 gedungnya itu. Atau, bisa juga berfoto dengan background keduanya. Pemandangan luar biasa.

Small but Beautiful. Mewakili Singapura banget.

Puas berfoto-foto, rombongan kembali ke bis. Sebelum sampai, ada yang jual es dung dung, kalau di kampung saya, es nong-nong; cuma, ini agak modern. Lumayan enak. Harganya SG$ 2.

GALERI COKELAT

Kami pun berangkat menuju Galeri Cokelat. Letaknya tak jauh. Di Galeri Cokelat ini segala macam cokelat dengan aneka rasa dijual. Mulai dari rasa kopi, durian, jagung; pokoknya segala macam ada. Saya pun ingat dengan anak-anak yatimonline binaan di kampung; maka saya beli 2 kotak cokelat berbentuk Patung Merlion dengan rasa durian dan jagung. Harganya $SG 12. Lumayan, murah, meriah dan banyak.

Usai dari Galeri Cokelat, kami diajak ke toko souvenir. Melihat-lihat anek souvenir khas Singapura. Lucunya, di toko itu pun dijual batik. “Batik Singapura” kata penjaganya. Para penjaga toko bilang: “Rupiah Can”, maksudnya “Kaleng Rupiah?” Hehehe, rupanya mereka ngerti, kalau yang datang orang Indonesia, jadi mereka bilang bisa bayar pake rupiah.

Usai belanja, rupanya perut sudah memberi alarm, lapar. Bergeraklah kami ke Park Mall, dekat National Museum of Singapura untuk makan siang.

KUBILAI KHAN RESTAURANT

Pas masuk ke parkiran Park Mall, kayanya gak meyakinkan nih tempat makannya. Ternyata, setelah sampai ke restoran, lumayan juga resto-nya. Namanyai Kubilai Khan Restaurant. Mungkin masih saudara sama Shah Rhuk Khan. :). Pak Rahmat, pemandu kami, mengatakan, bahwa makanannya prasmanan, dan kami boleh milih sayuran yang sudah matang dan siap santap atau makanan mentah yang harus dimakan dulu. Saya pun memilih yang kedua. Mirip-mirip tepayaki. Minumnya? Yummy.. ada es cendol, buah naga dan es kacang merah. Mana yang saya minum? Semuanya dikombinasikan jadi satu. Hahahaha.. Enak pokoknya.

Makan enak, perut kenyang, bawaannya ngantuk. Tapi, ada kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Karena hari Jum’at, kami pun bergegas ke Mesjid. Lokasinya di dekat Orchard Road. Mesjidnya tersambung dengan perkantoran. Namanya Mesjid Al Falah

JUM’ATAN DI MESJID AL FALAH

Sudah ramai mesjid terisi. Jam 13.15. Tepat waktu. Ketika kami masuk ke Mesjid, terdengar sayup-sayup adzan. Bahasa Qur’an tidak kenal logat ternyata. Dimana-mana, suara adzan, ya seperti itu juga.

Perut kenyang, siang hari, Jum’atan, kombinasi yang lengkap untuk mengantuk dan tertidur. Hehehehe. Saya tertidur dan bangun kemudian Shalat Jum’at. Usai shalat Jum’at, disambung Shalat Ashar yang dijama’. Alhamdulillah.

Hujan gerimis mulai mengguyur Singapura. Kami bergerak menuju Kantor Microsoft Singapura yang letaknya tak jauh dari Merlion Park. Semua peserta kini menggunakan topi, takut hilang dan ketinggalan, katanya.

KANTOR MICROSOFT SINGAPURA

Kantor Microsoft Singapura ini gak terlalu besar, letaknya di Lantai 5. Yang unik, viewnya langsung ke Marina Bay Sands Hotel, jadi indah banget. Betah kalau ngantor disini.

Kami dipandu oleh karyawan Microsoft Singapura, melihat kemajuan teknologi yang dikreasi oleh Microsoft. Kelihatan sekali, para peserta dan pemenang Fast Browse & Win antusias. Saya juga antusias; tapi, apalagi pernah berkunjung ke kantor pusat Miscrosoft di Bellaveu, Seattle, USA.

Kemajuan teknologi mulai dari Microsoft Surface, yang main komputer touch screen berasa nge-DJ, sampai main-main game mirip xBOX tapi ukuruannya jumbo. Benar-benar berasa jadi anak kecil kembali. Ternyata, kemajuan teknologi a la Microsoft itu membawa kita kembali untuk belajar sambil bermain; kembali menemukan antusiasme belajar anak-anak pada diri kita. Dan itu sangat bagus.

Dari Microsoft Singapura, kami berangkat menuju acara utama. BELANJA. Destinasi: CHINA TOWN

BELANJA DI CHINA TOWN

Untungnya, Pak Rahmat, pemandu rombongan, tahu, toko mana yang harga jualnya paling murah; atau malah itu toko temannya Pak Rahmat? Ah, tak apa-apa lah, yang jelas, kami menuju China Town dengan antusiasme tinggi, karena bakalan membelikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Saya jadi ingat titipan Naya, puteri saya, “Abi, beliin boneka ya?” Langsung saya mencari boneka. Ya, gak nemu boneka tangan, akhirnya pilihan saya jatuh ke boneka khas Singapura. Yang asyik, harga untuk setiap souvenir, $SG 10 untuk 3 barang; dan tak harus barang yang sejenis. Memudahkan sekali.

Saya pun membeli 3 boneka, 4 kaos, 1 topi kecil China dan 1 butir kelapa (kalau ini bukan untuk dibawa pulang, tapi untuk diminum di tempat, karena kehausan).

Dan ternyata, setiap toko di ChinaTown itu harganya sama saja. Bisa-bisanya pemandu saja ini sih. Tak apalah. Yang jelas, enjoy shopping. Lebih asyik lagi, ternyata oh ternyata, kebanyakan turis yang belanja ke ChinaTown adalah orang Indonesia. Kedengeran dari bahasanya dan kelihatan dari perilaku belanjanya. Hehehe.

Puas belanja di Chinatown, tadinya kami akan kembali ke Marina Bay. Tapi, karena kesorean, kami pun sepakat untuk langsung menuju rumah makan di Jl. Bengcoloon, jaman dulu sih namanya Jalan Bengkulu; sekarang berganti jadi Bengcoloon. Sepanjang perjalanan, agak heran juga saya, karena tidak kelihatan hiruk pikuk orang berjalan kaki di sepanjang jalan utama, padahal hari ini week-end. Ternyata, para pekerja Singapura hampir semuanya menggunakan MRT yang ada di bawah tanah. Bagus sekali ya? Andaikan Jakarta sudah memiliki transportasi massal di bawah tanah, kemacetan akan segera hilang di jalan-jalan utama Jakarta. Hotelnya bagus, di pusat kota, memudahkan sekali untuk menelusuri kehidupan Singapura.

BENGCOLOON RESTAURANT

Tiba di Hj. Mariyah Bengcoloon Restaurant, kami disambut dengan sajian makanan khas Indonesia. Rendang, sup, ayam goreng, sayur dan tentu saja sambal. Makanan yang enak dan sangat cocok dengan lidah orang Indonesia, karena yang masak memang orang Indonesia. Nikmat sekali.

Makan malam usai, destinasi selanjutnya adalah chek in ke Orchad Parade Hotel di Orchad Road yang sangat terkenal itu.

MENGINAP DI ORCHAD PARADE HOTEL

Orchad Road, Singapura; jalan utama yang sangat terkenal, rapi dan tertata; menjadi pemandangan yang sangat menarik. Saya membayangkan, andaikan saja Jakarta dikelola dengan benar, maka jalan-jalan utama di jakarta bisa seperti Orchad Road.

Sampai di Hotel, langsung check in. Hotelnya bagus, tapi tidak bagus bagi seorang blogger seperti saya; karena tidak ada free wifi. Hehehe. Tak apalah, tanpa wifi, berarti ada beberapa kegiatan lain yang bisa saya lakukan. Jalan-jalan misalnya.

Lewat twitter, saya pun bertanya tentang destinasi belanja yang menarik di Singapura. Tersebutlah nama Mustafa Center. Saya belum tahu saat itu, saya pikir semacam grosir atau toko kecil lah. Saya mengajak teman sekamar dan beberapa teman lain untuk jalan ke Mustafa Center, katanya harga barang disana lebih murah.

Ke Mustafa Center di dekat Little India, kami memilih menggunakan MRT. Harus transit dulu di stasiun Goody Gant, sebelum disambung ke Ferrer Park. Kami pun menggunakan mesin untuk membuat Smart Card, dengan destinasi Ferrer Park, harganya $SG 2.4. Cukup murah. Caranya pun mudah, tinggal masukkan data destinasi MRT dan akan keluar harga tiketnya. Masukan uang $SG, jika tak ada uang pas, maka akan keluar kembaliannya. Smart Card dengan tujuan yang tepat pun sudah kita peroleh. Hati-hati, jangan salah turun stasiun, bisa jadi smart cardnya tak berfungsi ketika keluar.

MUSTAFA CENTER

Ternyata Mustafa Center tak seperti dalam bayangan saya. Mustafa, yang dulunya adalah seorang pedagang kaki lima dan diusir-usir Satpol PP-nya Singapura itu kini menjadi komplek belanja yang sangat besar. Serupa mall sendiri. Salut. Dan inilah salah satu Singaporean Dream, bahwa setiap orang yang bekerja keras, pasti akan menuai sukses. Mustafa Center wujudnya.

Kami pun belanja sepuasnya di Mustafa Center. Karena ada beda perilaku belanja perempuan dan laki-laki, maka kami janjian untuk bertemu di lokasi tertentu usai belanja selama 1 jam. Betul saja, ternyata, hanya dala waktu 30 menit, kami, para laki-laki, sudah bosan belanja, dan tak jago dalam menawar. Barang pertama yang kami temui dan sukai, ya langsung dibeli. Beda dengan perempuan, bisa saja menawar dulu, atau melihat-lihat di lokasi yang berbeda, siapa tahu menemukan harga yang lebih murah.

Ramai sekali Mustafa Center ini, nyaris seperti pasar malam. Dan inilah pusat belanja yang buka 24 jam; karena biasanya, pusat belanja di Singapura sudah tutup jam 22.00, apalagi di akhir pekan. Selain belanja, kami pun bisa menikmati makanan yang kebanyakan disajikan oleh orang India, seperti martabak dengan berbagai isi dagingnya. Enak, tapi gede banget porsinya.

Karena MRT terakhir jam 23.00, maka jam 22.30 kami sudah keluar dari Mustafa Center. Kembali menuju hotel. Ketika sampai kembali di Orchad Road, tak lupa kami berfoto untuk mengabadikan Orchad Road di malam hari. Indah, rapi dan tertata. Itulah kesan yang didapatkan.

Kembali ke kamar hotel, mandi air hangat dan langsung bersiap tidur. Malam pertama di Singapura, menjadi malam yang menyenangkan, mengeyangkan dan melelahkan.

Besok, kami akan mengunjungi Universal Studio Singapura di Sentosa Island. Pengalaman yang pastinya seru.

Saya pun tidur dengan penuh senyum.

 

Happy Jump Over Hollywood

Salah satu target utama turis ke Hollywood adalah berfoto dengan latar belakang tulisan Hollywood di atas bukit, atau disebut Hollywood Sign.

sore itu, saya pergi untuk berburu foto Hollywood Sign. Agak sulit kalau menggunakan kendaraan umum, kami pun diantar oleh mobil. Banyak jalan yang bisa digunakan untuk bisa mendapat posisi ideal agar tulisan Hollywood Sign jelas terlihat.

Siang itu, kami dibawa melalui jalur Beachwood, sebuah jalan menanjak, bukan jalan raya, yang dari jauh terlihat tulisan Hollywood di atas bukit. Saya yang memang sudah memburu pose ini, sangat bersemangat, hingga meminta driver kami untuk terus mencari posisi paling ideal.

Mudah saja cara mengetahuinya, dari banyaknya orang yang bertujuan sama, kami pun menuju posisi tersebut. Benar saja, kami saling membantu mengambil foto.
Ketika sedang asyik memfoto, tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang datang menghampiri dan meminta tolong untuk difoto di depan Hollywood Sign. Tentu saja, salah satu dari kami dengan senang hati membantu. Selalu saja ada peluang untuk berbuat baik. Hehehe

Selain melalui Beachwood, untuk difoto dengan latar belakang Hollywood Sign, bisa dilakukan di Griffith Observatory, yang jauh lebih jelas, karena letaknya di ketinggian dengan variasi empat dan angle yang lebih banyak.

Cukup memuaskanlah, karena bisa berfoto di Hollywood Sign dan menjadikanya display picture di BB akun facebook saya, keliatan bener dari Hollywood.

Happy Jump Over Beverly Hills

Jetlag berpengaruh pada jam tidur rupanya. Termasuk hari ini. Rasanya malah sekali bangun pagi. Usai shalat subuh, saya tidur sejenak, dan berjanji dalam hati untuk jogging di pagi hari, jam 6 pagi. Ya.. mala mini kami menginap di Beverly Hills, diajak oleh salah satu kawan kami.

Banyak hal yang terbersit dalam benak ketika menyebut kata Beverly Hills. Bagi yang sudah pernah melihat serial televisi Beverly Hills 90210, tentu tahu bagaimana glamournya anak muda dalam serial televisi tersebut. Dan saya baru tahu kalau 90210 itu ternyata adalah kode pos. Mungkin 90210 adalah kode pos paling terkenal di kalangan anak muda di seluruh dunia.

Joging pagi pun dimulai dengan mengitari komplek perumahan mewah Beverly Hills. Karena takut tersesat, saya mengambil jalur yang aman saja, sekaligus mengingat tanda-tanda dan belokan, sehingga ketika kembali, tak tersesat.

Rumah-rumah di Beverly Hills indah banget. Besar-besar dan semuanya memiliki taman di bagian depan dan sampingnya. Sangat asri. Kebanyakan dari rumah-rumah di Beverly Hills tak memiliki pagar, terbuka begitu saja. Sepanjang saya jogging, tak pernah menemui orang-orang di depan rumah, bisa jadi karena saya jogging kepagian atau memang tuan rumahnya taka da, karena kebanyakan rumah di Beverly Hills dimiliki selebritis yang belum tentu tinggal di dalam.

Di beberapa rumah yang menurut saya cukup bagus, saya berhenti, untuk sekedar berfoto dan menduga-duga, kira-kira pemiliknya selebriti Hollywood atau bukan? Sebenarnya ada tour khusus untuk mengunjungi lokasi rumah-rumah selebriti Hollywood di Beverly Hills, tapi taka pa, menikmati udara bersih Beverly Hills dan pemandangan indah dari rumah-rumah penuh taman, sudah cukup menyegarkan.

Tujuan utama jogging sebenarnya bukan sekedar menyegarkan badan saja, akan tetapi juga untuk mencari ‘Beverly Hills Sign’, tanda Beverly Hills, untuk difoto, terus diupload ke facebook/twitter atau sekedar mengubah status BB saja. Hehehe.

Sepanjang jalan menuju Beverly Hills sign itu, saya melihat di depan rumah, Koran-koran terbungkus rapi yang sepertinya dilempar oleh pedagang Koran; mungkin itu Koran langganan. Di jalan yang masih sepi itu, kebanyakan adalah para gowes-er alias pengendara sepeda yang melewati jalur yang sudah dibuat, tepat berada di sisi jalan utama.

Akhirnya saya sampai di Beverly Hills Sign, yang juga menjadi tanda pintu keluar Beverly Hills Hotel yang kabarnya dimiliki oleh Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei Darussalam. Perlu dibuktikan kebenaran kepemilikannya. Berfotolah saya di depan Hotel Beverly Hills tersebut, tentu saja dengan gaya favorit saya: melompat.

Walaupun jalanan sepi, tentu saja kami tak berani utk menyeberang sembarangan.
Setelah puas berfoto, kami pun kembali ke alamat tinggal. Akan tetapi, rasanya belum puas melihat rumah-rumah artistic, tertata indah dan memiliki taman yang luas tersebut.

Ada keunikan yang menarik perhatian saya, yaitu tanda penolakan pembangunan rel Subway di bawah lahan Beverly Hills. Memang di California, beberapa wilayah bisa memiliki peraturan yang berbeda, tergantung dari musyawarah antar warganya; termasuk menyangkut penolakan terhadap pembanguan rel subway. Pemerintah pun mengapresiasi keputusan warga, dengan tidak membangun rel subway yang melewati Beverly Hills.