Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Category:

Cerita Bernilai

Tukang Becak yang Merindukan Surga

Kini, setiap akhir pekan, saya bersama rombongan sahabat kami, Taufan Rotorasiko mengunjungi Dapil Kab. Cilacap dan Kab. Banyumas. Bagi saya, perjalanan ini bukan sekedar pekerjaan, akan tetapi perjalanan yang penuh inspirasi. Layaknya Caleg DPR RI, sudah pasti kegiatan bersilaturahmi dan mendengar aspirasi warga menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Kabupaten Cilacap memiliki kilang minyak yang berkontribusi lebih dari 40% produksi minyak di Indonesia, ada juga pasir besi, dan penghasil aspal yang cukup banyak. Akan tetapi, jalanan di Kab Cilacap, di beberapa bagian rusak, berlubang dan tak layak untuk daerah penghasil minyak bumi dan aspal.Continue reading

Dua Capres Satu Gerbong Kereta

Tak menyangka, ketika saya menuju ke Jakarta, menggunakan kereta Commuter line jam 10.34 dari Bogor, asyik dengan update di social media dan urusan I am President yang belum kelar-kelar, utamanya kontak dengan ‘sahabat-sahabat’ saya yang kini sudah berubah status–berubah saldo–tepatnya usai mendapat hadiah.

Saya berpikir keras untuk move on.. berjalan terus setelah ‘mimpi buruk’ yang saya pikir akan indah pada akhirnya.

Continue reading

Lost in Angeles…

Ini kali kedua saya mengunjungi Amerika Serikat. Dahulu, 2010 saya mengunjungi negeri Paman Sam sebagai hadiah kemenangan dalam kontes Golden Tiket to USA sekaligus menapaktilasi sejarah hidup Barack Obama dan berbuah menjadi sebuah buku berjudul “Tapak Tilas Barak Obama”.

Sebenarnya tak ada dalam benak saya untuk kembali ke Amerika Serikat, walaupun jika melihat visa USA yang masih 3 tahun lagi masa belakunya, semoga saja saya mendapat kesempatan untuk kembali mengunjungi USA. Pucuk dicinta ulam pun tiba; doa disampaikan, keberuntungan pun tiba. Saya mendapat kesempatan pergi ke USA, tepatnya ke kota Los Angeles, dalam rangka mengikuti Congres of Indonesian Diaspora (CID) atau Kongres Diaspora Indonesia, tanggal 6-8 Juli 2012 yang dilaksanakan di Los Angeles, California.

Saya berangkat ke Los Angeles sebagai salah satu delegasi dari organisasi kepemudaan yang saya ikuti. Oh ya, mungkin pembaca ada yang baru tahu tentang ‘diaspora’; diaspora itu dalam bahasa umumnya adalah perantau. Congres of Indonesian Diaspora (CID) ini mempertemukan lebih dari 2000 perantau pemegang passport Indonesia atau memiliki garis keterunan Indonesia dari berbagai kalangan yang tersebar di lebih dari 40 negara di seluruh dunia. Sebuah momen luar biasa, menandai peneguhan komitmen Indonesia untuk menjadi pemain penting di dunia internasional. Salah satu diaspora Indonesia yang terkenal di Amerika Serikat, pastinya Maya Soetoro-Ng, adiknya Barack Obama, Presiden Amerika Serikat saat ini.

Ada dua agenda penting yang saya jalani selama di Los Angeles, yang utama adalah mengikuti Kongres Diaspora Indonesia yang memungkinkan saya memiliki alasan luar biasa untuk mencintai Indonesia, karena bertemu dengan banyak sekali orang Indonesia yang kini tersebar di luar negeri dan memiliki satu kecintaan yang sama kepada Negara Republik Indonesia. Para Diaspora Indonesia ini kini menjadi ilmuwan, artis, professional, pengusaha dan aneka peran yang membanggakan dan seharusnya menjadi kekuatan luar biasa untuk membangun Indonesia hingga memiliki peran penting dalam memposisikan Indonesia supaya memiliki posisi penting dalam percaturan dunia.

Terkait Diaspora Indonesia ini, akan saya tuliskan beberapa hal tentang orang-orang Indonesia yang saya temui selama di Los Angeles, dari kalangan profesi, mulai artis hingga security masjid; dari Cinta Laura yang studi di Columbia University of New York sampai cerita tentang Muhammad Joban yang menjadi pendakwah dari penjara ke penjara di California, dari anak SD yang berprestasi internasional hingga para pensiunan berkewarganegaraan Amerika Serikat, yang kangen kembali ke Indonesia untuk mengabdi kepada bangsa, tapi terbentur oleh kebijakan pemerintah yang tak mengijinkan adanya kewarganegaraan ganda dan kebijakan imigrasi lainnya. Padahal mereka sangat mencintai Indonesia dan berkeingingan menghabiskan masa tuanya yang masih produktif di negeri yang mereka cintai, Indonesia.

Agenda kedua adalah menjelajah Los Angeles, sebisanya, semampunya, karena waktu yang sedikit dan luasnya Los Angeles. Jelajah Los Angeles ini akan saya beri tema Lost in Angeles, ‘tersesat’ di Lost Angeles, yang belakangan, ternyata bukan hanya sekedar judul, akan tetapi berubah menjadi kenyataan. Selama di Los Angeles ini saya menjelajah beberapa lokasi yang menjadi ciri khas kota Los Angeles yang mendunia, seperti Hollywood, Beverly Hills, Santa Monica Beach, Malibu Beach (karena film Baywatch), UCLA (University of California Los Angeles), Universal Studio Hollywood. Tempat-tempat di Los Angeles menjadi terkenal karena beberapa menjadi setting cerita dan latar belakang lokasi dalam film-film yang mendunia. Oleh karena itu, saya pun sempat mengunjungi Rodeo Drive, Santa Monica Prominade, The Groove dan beberapa lokasi lainnya.

Los Angeles juga adalah kota museum, karena lebih dari 300 museum berada di Los Angeles, dan beberapa menjadi lokasi kunjungan utama bagi para turis local maupun manca negara. Beberapa museum yang saya kunjungi adalah: Grammy Museum, Japan American Museum, African American Museum, Natural History Museum of Los Angeles, California Science Center, Ripley’s Believe It or Not, Museum of Guiness World Record, Pacific Asia Museum.

Di Los Angeles pula banyak landmark yang telah mendunia, seperti Walt Disney Concert Hall, Griffith Observatory, Staples Center (markas LA Lakers), Rose Bowl di Pasadena, serta tempat-tempat lainnya. Landmark Los Angeles itulah yang menggambarkan bagaimana Los Angeles kemudian dikenal di seluruh dunia.

Kota Los Angeles yang penuh keragaman juga tercermin dari kulinernya, sehingga selama saya berada di LA, saya merasakan makanan dari 4 benua, yaitu Asia (Korea, China, Jepang, Arab), Eropa (Italia, Perancis), Amerika (Amerika Serikat), Afrika (Mesir). Makanan asal benua Australia saja yang belum saya rasakan. Keunikan masakan dari berbagai benua itu tentu saja menjadi catatan tersendiri yang berkesan dalam hati dan lidah saya yang juga petualang.

Saya melengkapi cerita Lost in Angeles ini dengan informasi tentang tranportasi public di Los Angeles yang terdiri dari Metro Rail Train (MRT), Metro Bus, Taxi dan penyewaan mobil. Untuk taxi, saya tak rekomendasi, karena harganya mahal; apalagi sewa mobil, kecuali terpaksa. Yang paling aman adalah kenal dengan orang Indonesia yang mau berbaik hati meminjamkan mobil selama kita menjelajah di LA. Dan alhamdulillah saya mendapat keberuntungan terakhir itu.

Satu tambahan, yang melengkapi buku ini adalah Lost in Angeles+: perjalanan sehari ke Las Vegas, yang berbarengan dengan kedatangan Manado State University Choir, Paduan Suara Universitas Manado, yang menjadi peraih 2 medali emas dalam World Choir Game, kompetisi paduan suara tingkat dunia yang diikuti oleh lebih dari 60 negara. Sangat membanggakan menempuh perjalanan bersama mereka. Last but not least, tentu saja, menjelajah sebuah kota, tak lengkap kalau tak memberikan informasi tentang souvenir khas dan kejadian-kejadian unik dan lucu yang saya alami selama Lost in Angeles ini.

Tentu saja, bukan hanya apa yang terlihat di mata yang akan saya ceritakan, akan tetapi apa yang terbersit di hati dan terinspirasi di pikiran pun akan saya ulas, supaya memberikan masukan bagi kita di Indonesia, untuk meniru hal-hal baik dan inovatif serta menyikapi hal-hal negative yang ada di LA.

Bagi saya, ada misi khusus terkait dengan YatimOnline yang saya kelola 3 tahun ini, dan Alhamdulillah beberapa pertemuan dengan orang-orang baik, membuat saya makin optimis untuk mengembangkan YatimOnline ke tahap yang lebih baik dan bermanfaat. Demikian juga dari beberapa lokasi yang saya temui, banyak hal yang bisa dipelajari untuk mengembangkan YatimOnline.

Semoga saja tulisan dalam buku Lost-in-Angeles ini menambah pengetahuan dan mungkin beberapa bisa menginspirasi pembaca. Kritik dan sarannya sangat diharapkan untuk membuat tulisan dalam buku ini menjadi lebih baik.

YatimOnline dan Singapura

Senin pagi, saya mengumpulkan adik-adik yatimonline. Ada perlombaan Kidspreneur yang diadakan oleh tabloid, majalah dan website ternama di Jakarta. Konsepnya sederhana, 2 anak usia 9-14 tahun yang didampingi oleh 1 orang dewasa, menyusun rencana bisnis untuk diajukan dan dilombakan. Pemenangnya mendapat hadiah uang dan jalan-jalan ke Singapura.

Ya.. Singapura.

Kata Singapura rupanya menjadi magnet bagi anak-anak yatimonline, dan juga bagi saya.

Maka, semakin giatlah kami menyusun rencana, hingga muncul 3 rencana bisnis yang akan dieksekusi oleh anak-anak SD dan SMP di yatimonline.

1. Jualan dengan cara menitipkan ke warung-warung. Hanya modal kemasan saja

2. Jualan makanan di sekolah, makanannya dibawa oleh anak-anak

3. Jualan dompet/aksesoris dari bahan-bahan plastik.

Nah… ketika pembicaraan berlangsung, kemudian muncul ide sari saya, untuk memberi hadiah kepada mereka, menang atau tidak menang, maka mereka akan saya ajak piknik ke Dunia Fantasi….

Gembiranya mereka…

Ketika pembicaraan makin seru, saya menerima BBM dari teman yang sedang di Bangkok, Thailand, menanyakan no HP, katanya nanti akan ada seseorang yang menghubungi…

Hmmm, ada apa ya.. penasaran. Tumben-tumbenan nih Dimas nanya no HP saya.

Dan, BB saya pun berdering. Ada telpon dari Chika, kawan Dimas. Menanyakan satu hal yang bagi saya sangat mengejutkan..

“Kang.. bisa ikut ke Singapura ngga ya, Jum’at- Sabtu ini?”

Hah… Beneran.. kaget banget saya nerima telpon itu…

Saya langsung bilang… “Kosong kok.. ngga ada acara..”

Padahal, saat itu ada rencana mau trip ke Hongkong.. Tapi, saya sanggupi saja rencana perjalanan ke Singapura…

Agak aneh.. karena, saat yang sama, saya dengan anak-anak yatimonline sedang merundingkan tentang rencana ‘pemenangan lomba’ KidsPreneur yang hadiahnya ke Singapura. Eh, malah saya duluan dikasih trip ke Singapura.

Alhamdulillah, walaupun masih terasa anehnya….

Rencana trip ke Hongkong pun saya batalkan, karena harus keluar uang sendiri. Dan saya pun berniat betul untuk trip ke Singapura, menemani kawan-kawan yang menang dalam program Fast Browse & Win darr Plasa.MSN.com…

Allah selalu memberi berlipat jika kita ikhlas memberi. Saya percaya dan sangat yakin tentang hal itu…

Terima kasih. Insyaallah cerita selama di Singapura akan lebih indah dan menjadi bahan yang akan saya ceritakan untuk anak-anak yatimonline nantinya…

 

Kakek Penjual Pisang Ambon

Kakek itu usianya sudah 70-an. Renta, tapi tetap berusaha mandiri. Meletakkan dagangannya: pikulan yang isinya pisang ambon. Ada 3 tandan; dan beberapa pisang ambonnya berserakan.

Saya menghampiri, berbincang dan memang berniat membeli.

“Aki.. berapa harga pisang ambonnya?”

“20 ribu se-sikat (tandan)”

“Beli satu Ki”..

Saya biasanya nawar, karena harga 1 tandan pisang ambon Rp 20.000 itu cukup mahal. Tak berani nawar, karena saya sudah sangat menghargai ada seorang kakek yang masih berusaha mandiri dengan berjualan pisang ambon.

Ketika mengambil pisang ambon untuk saya, tangan kakek itu gemetaran, karena memang sudah uzur usianya.

“Biar saya yang ngewadahin” kata saya, berniat membantu

“Ngga usah, khan saya yang jualan”

Saya tak jadi membantu.

Saya nanya lagi: “itu pisang yang kepisah-pisah kenapa?”

“Biasa, pohon pisangnya rubuh, anak-anak suka main-main di kebon pisang; jualnya jadi susah”

Oh….

Ternyata, masih ada orang-orang yang berusaha mandiri, menjadi solusi untuk dirinya sendiri.

Kakek itu memang tak akan menjadi tukang pisang ambon di usia 70, jika saja anak-anaknya bisa menjamin kehidupan di hari tua. Akan tetapi, setiap kehidupan pasti memiliki jalannya sendiri; oleh karena itu, saya yakin, apa pun yang dilakukan seseorang di usia berapa pun, adalah bagian dari usaha untuk memaknai hidupnya sendiri.

 

Tentang Wakil Rakyat: Sederhana itu Tidak Sederhana

Suatu kali saya pernah mengisi pelatihan di sebuah mesjid komplek perumahan di Bogor, atas undangan remaja mesjidnya. Saya saat itu bicara sebelum salah satu ustadz terkenal di Bogor, yang juga anggota DPR. Usai acara, saya bertemu dengan Sang Ustadz; yang sedang berbincang santai dengan panitianya..

Panitianya menyampaikan sesuatu yang membuat saya kagum.

“Kang.. kami malu sama Ustadz. Tadi Ustadz datang jalan kaki saja dari gerbang depan komplek. Ketika kami tanya, ngga pake kendaraan Ustadz?”

Ustadz sejenak diam, dan menjawab:

“Kendaraannya sudah saya infak-kan untuk dakwah”..

Subhanallah..

Ustadz ini wakil rakyat yang benar-benar merakyat. Dia tak ragu hidup sederhana, bahkan rela berjalan kaki dan ber-angkot-ria, demi kemajuan dakwah.

Hidupnya sederhana; akan tetapi sederhana itu sebenarnya tidak sederhana, karena keluarnya dari jiwa.

Jika sederhana sekedar citra, maka sederhana hanya jadi make-up dan seremoni belaka.

Sesuatu yang muncul dari jiwa, selalu menyentuh hati dan menarik jiwa juga.

Di sela berita tentang mewahnya gaya hidup wakil rakyat, masih banyak pribadi-pribadi wakil rakyat yang sederhana, karena sesungguhnya rakyat yang mereka wakili, masih hidup dalam kesederhanaan.

Jika ingin menemui Sang Ustadz, sesekali naiklah commuter line Bogor-Jakarta, siapa tahu ketemu dengan beliau. Sapa lah, karena sesungguhnya kepemimpinan soal teladan, dan teladan itu hanya muncul dari jiwa yang sederhana.

Demokrasi Sekong

Ketawa sendiri baca judul tulisan ini..

Hehehe..

Ya.. katanya reshufle itu hak prerogatif presiden, tapi partai politik malah punya posisi kuat menentukan ina-ini-inu-nya menteri.

Katanya kabinet presidensiil, tapi parlemen tetep aja punya dominasi dalam perjalanannya.

Katanya SBY mau paling depan memberantas korupsi, tapi karena jalannya mundur, jelas aja SBY jadi paling belakang.

Demokrasi apa namanya kalau begini?

Demokrasi sekong alias sakit. Demokrasi masuk angin karena kebanyakan menguap, ngantuk dan bermimpi untuk menyelesaikan masalah.

Rotasi eksekutif berdampak pada legislatif; pastinya. Karena beberapa menteri baru itu sebelumnya duduk di legislatif dan malah ada bapaknya jadi menteri, anaknya dititip di legislatif.

Pak Beye, semoga pemerintahannya khusnul khotimah hingga akhir ya…

Selamat menempuh hidup baru buat para menteri.

Pak Beye.. titip Pak Dahlan Iskan ya… itu mutiara. Bukan untuk memoles wajah Bapak, tapi beliau bisa mentenramkan kami, rakyat yang masih punya harapan.

Hai, pengamat-pengamat politik yang bermunculan bermodalkan kertas hasil penelitian… awasi mereka ya, bukan hanya dari pikiran, tapi juga kepedulian bagi kami yang tak terlalu pintar tapi cinta kepada negeri ini…

Sekian.

Anak Saya Ngga Mau ke Surga

Ritual shalat maghrib berjamaah dengan puteri saya, sangat menyenangkan. Biasanya usai salam, berdzikir, kemudian Naya (5 th) –dengan mukena strawberrynya–akan membaca do’a untuk kedua orang tua, lengkap dengan terjemahnya.

robbana a tina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah wakina adzabannar

Ya Allah, sayangilah kedua orang tuaku seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.

Di sampingnya, Andra (3 th), ikut menengadahkan tangan, sambil lirik-lirik matanya.

Hafalan surat pendeknya pun Naya langsung bacakan. Surat An Naas, Al Ikhlas, Al Falaaq. Biasanya setelah itu Naya nagih diceritakan tentang dongeng Islami dari Al Quran. Saya ambil yang gampang aja deh, cerita dari surat Al Fiil. Ditambah cerita lebay dikit lah, tanpa menghilangkan maksud suratnya.

Continue reading

Imam yang Diresehufle

 

 

Terburu-buru saya mengisi shaf terdepan. Sholat Ashar saat itu. Di sebuah mesjid di pinggir jalan. Khusyu dan sunyi shalat jamaahnya.

Imamnya sudah lumayan tua, dan ketika berpindah ke gerakan ruku, Sang Imam mengeluarkan suara yang minim, tak terdengar. Saya ikuti dengan sudut mata saja, rekan jamaah di sebelah untuk ruku. Dikomando oleh gerakan, bukan suara.

Dari ruku, berganti gerakan ke i’tidal..

sami allahu liman hamidah….

tak terdengar lagi, minim.

Sekali lagi, saya dikomando oleh gerakan, bukan oleh suara.

Continue reading

Wasiat Mesjid 1 Milyar

Dari beberapa ustadz (ulama) di kampung saya, ada satu orang yang belum naik haji. Orangnya sederhana; tapi ilmunya dalam sekali. Punya pesantren tradisional.. Anaknya pun kini punya pesantren.

Dulu, waktu saya jadi kreatif Naik Haji Gratis di SCTV… saya (tadinya) mengusulkan beliau ini yang mendapat ‘jatah’ Naik Haji Gratis. Tapi karena alasan gender, maka, beliau tak terpilih…

Kemarin, usai ‘ziarah’ ke Monas dan mengikuti Kampanye Zakat di Bundaran HI.. saya ngobrol dengan anaknya… yang merupakan ibu dari 2 anak yatim yang kami bina di Pondok Yatim Menulis…

Saya bertanya tentang ayahnya…. Beliau yang menjadi ustadz dan ulama itu..
BS=saya, AU=Anak Ustadz

Continue reading