Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Category:

Kisah Inspiratif

Gerakan “Satu Hari Tanpa Nasi”, Kebijakan Pemerintah atau Alibi?

Menonton diskusi di sebuah televisi swasta, tentang rencana pemerintah (dan katanya sudah dijalankan di beberapa daerah), tentang Gerakan Satu Hari Tanpa Nasi sebagai upaya untuk menguatkan ketahanan pangan nasional.

Agak kaget mendengarnya, campur geli juga, paling tidak sama gelinya dengan pertanyaan dari penelpon di acara tersebut.

Bangsa Indonesia memang pengkonsumsi nasi yang cukup besar, rata-rata mengkonsumi 130 kg beras per tahun; lebih dari dua kali lipat bangsa Amerika yang rata-rata per orang mengkonsumsi 60 kg per tahun.

Harga beras sebenarnya sedang merangkak naik; tapi tak diekspos seperti harga cabe. Produksi beras juga sedang menurun; tapi tak terlalu diekspos juga.

Nara sumber dari pemerintah, yang sudah pasti orang pinter, menjelaskan tentang ’salah kaprah’ karena bangsa bangsa Indonesia lebih memberi perhatian kepada beras, buktinya ketika ada swasembada, beras yang jadi perhatian utama; ketika ada raskin, beras juga yang jadi perhatian utama.

Argumen yang aneh.

Continue reading

Kontribusi Obama untuk Indonesia

Prof. Dick Baker; seorang ahli politik hubungan Asia – Amerika, berbincang santai di kebun belakang belakang East West Center, Hawaii. Sebuah pusat kajian tentang budaya Timur dan Barat; yang memiliki sejarah terkait dengan kelahiran Obama.

Di salah satu asrama mahasiswa inilah Stanley Ann Dunham bertemu dan terpikat dengan Lolo Sutoro, pria asal Bandung yang memperoleh beasiswa East West Center.

Indonesia memang dikenal oleh Amerika; yang paling dikenal oleh mereka tentu saja Bung Karno yang saat itu mengatakan “Go to Hell….” Itu yang dikenal orang tentang Indonesia. Tentu, kini hubungan Indonesia dengan Amerika bukan lagi soal Surga atau Neraka; tapi ada hubungan edukasi yang saling membekali.

Continue reading

Obama Dilempar Buku

Baru saja membuka internet, langsung tertuju berita tentang Obama yang ditimpuk buku. Memang, risiko menjadi pemimpin itu; baik saja bisa ada yang benci; sebaliknya, buruk kelakuan pun pasti ada yang cinta. Kejadiannya di Philadelphia, ketika Obama bersama wakil presiden Joe Biden, berkampanya untuk kongres. Pria bugil yang melemparnya, akhirnya tertangkap. Mungkin sekedar mencari sensasi; atau ada tujuan tertentu?

Saya jadi ingat, ketika di Chicago, berada satu lift dengan seorang veteran perang Vietnam, dia melihat buku yang sedang saya pegang “Dream From My Father”-nya Obama; langsung saja dia bilang: “Don’t believe that guys.. the book is about fairy tale…” katanya begitu. Saya kaget juga. Apa urusannya dia dengan buku yang saya baca.

Continue reading

SBY, Wasior, RMS, URUGUAY dan Harga Diri

Menggema suara di Stadion Utama..

“Sayonara.. Sayonara.. Mari Berjumpa Pulang

Buat Apa Nurdin.. Buat Apa Nurdin.. Nurdin itu Tak Ada Gunanya….”

Di ujung Indonesia;

Bencana Wasior di Papua menelan lebih dari 100 jiwa. Seorang anak Papua bernama Boaz Salosa mencetak gol di Senayan, Jakarta.

SBY membatalkan rencana ke Belanda. RMS biang keladinya. SBY bicara tentang harga diri bangsa. SBY ‘takut’ terkait dengan pengadilan. Kesebelasan Uruguay datang. SBY ada di Istora. Menyalami setiap pemain; dan entah melambai kepada siapa.

Skor 1 : 7 untuk Indonesia. Boaz Salosa, asal Papua yang mempersembahkan golnya. Hanya satu gol. Gol yang teramat cantik; gol yang tercipta karena Boaz yang berkali-kali diabaikan PSSI ketika cedera tak luntur cintanya kepada merah putih; tak pernah lepas Garuda dari dadanya.

Continue reading

10 Pelajaran Penting Napak Tilas Barack Obama

Setelah menempuh perjalanan cukup melelahkan dan sangat menyenangkan di Seattle, Washington DC, Chicago dan Honolulu, berikut saya tuliskan pelajaran penting yang saya dapatkan dari Golden Ticket Trip to USA.

Terima kasih kepada US Embassy Jakarta, RCTI dan teman-teman seperjalanan: Michael Tjandra, Dian Agustin, Dimas Novriandi, Vivi Hasyim, George A Santulli, Lawrence Clamage.

Enjoy!

1. Cintai keluarga

Obama adalah seorang family-man; laki-laki yang mencintai keluarga dan mendapat balasan cinta yang lebih banyak lagi dari keluarganya. Ketika menjadi cucu tunggal (sebelum kelahiran Maya Sutoro) dari Gram dan Toot, di era perbedaan ras masih menjadi masalah; Obama mendapat cinta tak terbatas dari orang-orang di sekelilingnya.

2. Berbuat untuk komunitas

Ketika keadaan ekonomi keluarganya sudah membaik, Obama tak lupa dengan akar hidupnya. Obama, melalui Center for New Horizon, yang terletak di Jl. Marthin Luther King Jr. berbuat dan berbagi dengan komunitasnya. Aktivitas dan kesungguhannya ini adalah awal mengakarnya sosok Obama di grass root. Obama menggunakan cara-cara persuasi dalam politik, terbawa oleh cara-cara persuasinya ketika menjadi Community Activist.

Continue reading

Obama dan Kegagalannya

Sabtu pagi kami diantar oleh Mr. Marshall Jacobson, guide yang akan mengantarkan keliling Chicago. Usianya sudah 50-an; tapi hafal betul dengan kota Chicago dan segala hal yang terkait dengan Obama.

Perjalanan dimulai dengan melihat kantor Obama pertama kali, ketika tiba ke Chicago. Obama berkantor sebagai law officer, dan saat itulah Obama bertemu dengan ‘bos’-nya; atau supervisornya, yaitu Michelle Robinson.

Obama tinggal di sebuah apartemen kecil, di dekat Kenwood Academy; sebuah daerah yang banyak orang kulit hitamnya dan identik dengan musik jazz. Di wilayah itu pula terdapat rumah Eliijah Muhammad dan Muhammad Ali.

douglas2

Kami pergi ke Law School – University of Chicago, kampus dimana Obama pernah menjadi dosen; mengajar Hukum Konstitusi. Adalah Prof. Douglas R. Bard yang menelpon Obama, setelah mengetahui bahwa ada keponakan George Pain, yang berkulit putih, menjadi Presiden dari Harvard Law Review (presiden di organisasi tersebut dari kalangan Afrika Amerika). Prof Douglas merasa aneh, karena George Pain yang pustakawan itu memiliki keponakan yang berkulit hitam; ternyata itu adalah keponakan dari garis Ann Dunham, ibunya.

Continue reading

Hawaii dan Pelangi

Di setiap kota, kecuali Washington DC, kami melihat kota dari sebuah gedung tertinggi di kota tersebut. Di Seattle kami melihat kota dari Space Needle, di Chicago kami melihat kota dari SkyDeck; di Hawaii ini kami juga melihat kota, tapi tidak dari gedung tinggi, melainkan dengan menggunakan pesawat terbang kecil.

Yup.. serasa menjadi Indiana Jones saja. Naik pesawat kecil untuk bekeliling melihat kota dari udara. Beruntungnya, sore itu cerah sekali, paling tidak, di bagian kami memulai perjalanan.

Continue reading

Di SMA, Obama Tak Pernah Bercita-cita Jadi Presiden…

Malam ini istimewa sekali, karena dinner bersama orang-orang yang terkoneksi dengan pembentukan karakter Obama ketika remaja menuju dewasa.

Eric Kusunoki, pria rendah hati yang hampir seumur hidupnya tinggal di Hawaii; adalah home room teachernya Obama, semacam wali kelas; tidak mengajar, akan tetapi setiap pagi, sebelum masuk kelas, Obama pasti menyediakan waktu 15 menit untuk membahas apa pun yang perlu dibahas.

Continue reading

Hawaii; Negara Bagian Tanpa Mayoritas


sunset

Hari ini adalah hari terakhir dari agenda Golden Ticket trip. Kami akan menemui Dr. Takara; tempat tinggalnya ditempuh dengan perjalanan 1 jam dari hotel. Saya bersiap tidur ketika mengetahui akan menempuh perjalanan selama itu.

Ternyata, pemandangan di kiri kanan kami sungguh indah. Perjalanan yang membuat mata tak bosan. Di kiri, saya bisa melihat gunung dan warna hijau pepohonan; di kanan kami bisa melihat laut yang pagi ini memantulkan warna langit biru berawan yang cerah sekali. Saya tentu saja tak jadi tidur.

Continue reading

Urus Visa ke USA

Sekedar berbagi informasi.

Sebagai persiapan keberangkatan ke Amerika Serikat, terkait dengan “Golden Ticket Winner: Obama Kami Datang” yang disponsori oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat dan RCTi sebagai media partner, maka, saya sebagai salah satu yang alhamdulillah diberi kesempatan untuk berangkat, melakukan beberapa hal yang terkait dengan keberangkatan tersebut.

Yang paling pertama adalah urus visa. Karena passport sudah punya.

Continue reading