Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Category:

Kisah Inspiratif

Uniknya Legislatif Amerika Vs Legislatif Indonesia

Saat ini saya berada di Washington DC, Amerika Serikat, mendapatkan hadiah trip Golden Ticket dari US Embassy di Jakarta. Tujuannya untuk menapaktilasi kisah hidup Barack Obama, Presiden Amerika Serikat, yang rencananya akan datang pertengahan November ini.

Beberapa destinasi sudah dilalalui; salah satu yang menarik adalah kunjungan ke Capitol Hill, komplek gedung legislatif di Amerika Serikat.

Usai kunjungan ‘studi banding’ bukan anggota dewan, dan tidak menggunakan uang Negara serta (mudah-mudahan) tidak menyusahkan rakyat; saya mencatat beberapa perbedaan antara Capitol Hill (komplek legislaltif Amerika Serikat) yang berisi Senator dan Congressman; dengan apa yang terjadi di legislatif Indonesia. Boleh setuju boleh nggak; tapi ini laporan pandangan mata dan hati; atau mungkin matahati.

1. Di Amerika ada seorang presiden yang kemudian menjadi senator—John Quincy Adams. Di Indonesia, mana ada Presiden yang mau jadi anggota dewan?


Continue reading

Tentang Wakil Rakyat: Sederhana itu Tidak Sederhana

Suatu kali saya pernah mengisi pelatihan di sebuah mesjid komplek perumahan di Bogor, atas undangan remaja mesjidnya. Saya saat itu bicara sebelum salah satu ustadz terkenal di Bogor, yang juga anggota DPR. Usai acara, saya bertemu dengan Sang Ustadz; yang sedang berbincang santai dengan panitianya..

Panitianya menyampaikan sesuatu yang membuat saya kagum.

“Kang.. kami malu sama Ustadz. Tadi Ustadz datang jalan kaki saja dari gerbang depan komplek. Ketika kami tanya, ngga pake kendaraan Ustadz?”

Ustadz sejenak diam, dan menjawab:

“Kendaraannya sudah saya infak-kan untuk dakwah”..

Subhanallah..

Ustadz ini wakil rakyat yang benar-benar merakyat. Dia tak ragu hidup sederhana, bahkan rela berjalan kaki dan ber-angkot-ria, demi kemajuan dakwah.

Hidupnya sederhana; akan tetapi sederhana itu sebenarnya tidak sederhana, karena keluarnya dari jiwa.

Jika sederhana sekedar citra, maka sederhana hanya jadi make-up dan seremoni belaka.

Sesuatu yang muncul dari jiwa, selalu menyentuh hati dan menarik jiwa juga.

Di sela berita tentang mewahnya gaya hidup wakil rakyat, masih banyak pribadi-pribadi wakil rakyat yang sederhana, karena sesungguhnya rakyat yang mereka wakili, masih hidup dalam kesederhanaan.

Jika ingin menemui Sang Ustadz, sesekali naiklah commuter line Bogor-Jakarta, siapa tahu ketemu dengan beliau. Sapa lah, karena sesungguhnya kepemimpinan soal teladan, dan teladan itu hanya muncul dari jiwa yang sederhana.

Demokrasi Sekong

Ketawa sendiri baca judul tulisan ini..

Hehehe..

Ya.. katanya reshufle itu hak prerogatif presiden, tapi partai politik malah punya posisi kuat menentukan ina-ini-inu-nya menteri.

Katanya kabinet presidensiil, tapi parlemen tetep aja punya dominasi dalam perjalanannya.

Katanya SBY mau paling depan memberantas korupsi, tapi karena jalannya mundur, jelas aja SBY jadi paling belakang.

Demokrasi apa namanya kalau begini?

Demokrasi sekong alias sakit. Demokrasi masuk angin karena kebanyakan menguap, ngantuk dan bermimpi untuk menyelesaikan masalah.

Rotasi eksekutif berdampak pada legislatif; pastinya. Karena beberapa menteri baru itu sebelumnya duduk di legislatif dan malah ada bapaknya jadi menteri, anaknya dititip di legislatif.

Pak Beye, semoga pemerintahannya khusnul khotimah hingga akhir ya…

Selamat menempuh hidup baru buat para menteri.

Pak Beye.. titip Pak Dahlan Iskan ya… itu mutiara. Bukan untuk memoles wajah Bapak, tapi beliau bisa mentenramkan kami, rakyat yang masih punya harapan.

Hai, pengamat-pengamat politik yang bermunculan bermodalkan kertas hasil penelitian… awasi mereka ya, bukan hanya dari pikiran, tapi juga kepedulian bagi kami yang tak terlalu pintar tapi cinta kepada negeri ini…

Sekian.

Anak Saya Ngga Mau ke Surga

Ritual shalat maghrib berjamaah dengan puteri saya, sangat menyenangkan. Biasanya usai salam, berdzikir, kemudian Naya (5 th) –dengan mukena strawberrynya–akan membaca do’a untuk kedua orang tua, lengkap dengan terjemahnya.

robbana a tina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah wakina adzabannar

Ya Allah, sayangilah kedua orang tuaku seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.

Di sampingnya, Andra (3 th), ikut menengadahkan tangan, sambil lirik-lirik matanya.

Hafalan surat pendeknya pun Naya langsung bacakan. Surat An Naas, Al Ikhlas, Al Falaaq. Biasanya setelah itu Naya nagih diceritakan tentang dongeng Islami dari Al Quran. Saya ambil yang gampang aja deh, cerita dari surat Al Fiil. Ditambah cerita lebay dikit lah, tanpa menghilangkan maksud suratnya.

Continue reading

Imam yang Diresehufle

 

 

Terburu-buru saya mengisi shaf terdepan. Sholat Ashar saat itu. Di sebuah mesjid di pinggir jalan. Khusyu dan sunyi shalat jamaahnya.

Imamnya sudah lumayan tua, dan ketika berpindah ke gerakan ruku, Sang Imam mengeluarkan suara yang minim, tak terdengar. Saya ikuti dengan sudut mata saja, rekan jamaah di sebelah untuk ruku. Dikomando oleh gerakan, bukan suara.

Dari ruku, berganti gerakan ke i’tidal..

sami allahu liman hamidah….

tak terdengar lagi, minim.

Sekali lagi, saya dikomando oleh gerakan, bukan oleh suara.

Continue reading

Wasiat Mesjid 1 Milyar

Dari beberapa ustadz (ulama) di kampung saya, ada satu orang yang belum naik haji. Orangnya sederhana; tapi ilmunya dalam sekali. Punya pesantren tradisional.. Anaknya pun kini punya pesantren.

Dulu, waktu saya jadi kreatif Naik Haji Gratis di SCTV… saya (tadinya) mengusulkan beliau ini yang mendapat ‘jatah’ Naik Haji Gratis. Tapi karena alasan gender, maka, beliau tak terpilih…

Kemarin, usai ‘ziarah’ ke Monas dan mengikuti Kampanye Zakat di Bundaran HI.. saya ngobrol dengan anaknya… yang merupakan ibu dari 2 anak yatim yang kami bina di Pondok Yatim Menulis…

Saya bertanya tentang ayahnya…. Beliau yang menjadi ustadz dan ulama itu..
BS=saya, AU=Anak Ustadz

Continue reading

Rok Mini Bang Kumis

Berita tentang kejahatan pemerkosaan di angkutan umum wilayah ibukota menyita perhatian banyak pihak. Bukan sekali terjadi, tapi modusnya hampir sama. Korbannya adalah karyawati yang pulang larut malam, pelakuknya adalah sopir tembak yang hobi minuman keras, bersama dengan beberapa temannya.

Berbagai solusi dilontarkan, mulai dari pemakaian seragam untuk sopir angkutan umum (nah lho?), hingga macam-macam solusi yang tidak substantif.

Yang paling lucu adalah ketika Bang Kumis menyarankan kepada para wanita untuk tidak mengenakan rok mini ketika naik angkutan umum. Ya iya lah, memang sebaiknya, untuk menjaga kehormatan wanita itu sendiri, pakaian yang tidak sesuai dengan konteks tidak sepantasnya dikenakan; akan tetapi, jika solusi ‘jangan pakai rok mini naik angkot’ ini dikemukakan untuk mencegah pemerkosaan, rasa-rasanya aneh dan absurd. Seolah menyalahkan wanita sebagai sumber masalah; padahal kejahatan itu terjadi memang si pemerkosa sudah berniat.

Bang Kumis seperti mengulangi cara pandangnya terhadap Jakarta; dengan segunung masalah yang menimpa Jakarta, dengan mudahnya mengatakan bahwa itu salah satunya disebabkan oleh: “masyarakat Jakarta tidak berkualitas’..

Waduh.. kalau pemimpin sudah keliru melihat masalah begini, agak repot juga rakyatnya…..

Yang jelas, nanti kalau saya ketemu dengan Bang Kumis, saya pasti akan nanya:

“Bang.. Bapak Abang  saudaranya Mickey Mouse ya?”

“Kenapa?”

“Kok Abang urusin Rocknya Mini (Mouse)?”

Hehehe….

Kekerasan dalam Film “Lima Elang”

13149349061005654029

Di setiap Lebaran, menjadi rutin bagi keluarga kami untuk menonton film anak-anak–anak kami usia jelang 5 tahun.Kami cinta film Indonesia, oleh karena itu, daripada film Kungfu Panda 2, kami lebih memilih nonton film “Lima Elang”. Yang membuat lebih menarik lagi, karena saya juga adalah anggota Pramuka, ketika masih SMA dan sangat senang ketika film “Lima Elang” ini juga dikeluarkan oleh Kwarnas Pramuka. Pasti seru dan hitung-hitung nostalgia…

Continue reading

Kenapa Malas Nge-Blog?

Menengok blog Lebah Cerdas.. rasanya lama sekali.. jadi malu sendiri. Padahal blog ini sudah bisa menghasilkan 4 buku Cerita Bernilai…

Hmmmm..

Kenapa saya malas nge-blog?

Coba pikirin dari sisi kambing hitam dulu, baru kambing putih…

Sisi kambing hitam, maksudnya sisi nyalahin pihak lain.. Yup… pokoknya bukan saya yang salah karena malas ngeblog.. ini dia alasan ‘kambing hitam’ malas ngeblog..

1. Sekarang ada Blackberry, dan dengan BB inilah interaksi internet makin mudah. Aplikasi yang compatible dengan BB pun jadi pilihan.

2. Sekarang ada micro-blogging semacam twitter. Beneran, karena twitter lebih mudah aplikasinya dengan smart phone, maka twitter jadi pilihan. Belum lagi respon di twitter lebih langsung, jadi bisa ngobrol..

3. Jarang ikutan lomba lagi… nah.. terus terang saja, salah satu yang mendorong saya ngeblog adalah karena ikutan lomba-lomba alias kompetisi ngeblog.

4. Lagi ngga bikin buku.. hmmm, ini juga alasan kambing hitam….

Continue reading