Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Category:

Cerita Bernilai

Keren! Di Los Angeles Ada Warung Jawa

Jalan-jalan ke luar negeri lebih dari seminggu, pasti sudah kangen dengan masakan Indonesia. Lidah tak bisa bohong. Begitu juga pengalaman saya ketika traveling ke Los Angeles dan berburu makanan Indonesia hingga menemukan Warung Jawa. Seru!

Rasanya tak lengkap bila saya sudah merasakan makanan dari 4 benua, yaitu Eropa, Amerika, Asia, Afrika. Selama satu minggu traveling di Los Angeles, AS, kalau belum mencicipi makanan dari negeri sendiri, terutama sambal, rasanya ada yang kurang.

Saya termasuk yang sangat menyukai sambal. Kalau kata orang, hambar sayur tanpa garam, lain halnya dengan saya yang ‘haram’ jika makan tanpa sambal!

Niat kuat yang terkumpul selama satu minggu akhirnya terlaksana, ketika saya membaca satu majalah yang memberikan alamat Wong Java House. Wong Java House merupakan, warung Jawa yang ada di Alhambra. Hmmm, lidah sudah melet saja membayangkan makanan yang akan tersaji.

Masalahnya adalah, letak Alhambra agak jauh dari tempat menginap saya di Downtown, LA. Tapi, demi ayam goreng dan semangkuk kecil sambal, ditambah lalapan yang sudah dirindukan, akhirnya saya nekat mengejar makanan istimewa pengobat rindu itu ketempat yang jauh.

Saya menggunakan kereta Metro Rail Train, dari 7th Street Metro Center. Untuk menaiki alat transportasi ini, traveler harus membayar sekitar USD 7 atau Rp 67.300 untuk Tap Card yang artinya, bisa menggunakan kereta dan bus yang terkoneksi selama seharian. Hitung-hitung sebagai persiapan jika tersesat. 

Benar saja, saya tersesat. Turun di stasiun paling ujung karena keenakan naik kereta alias ketiduran. Kemudian, saya bertanya ke orang sekitar dan mereka memberi tahu kalau akan ke Alhambra, turunnya di Memorial Park Station dan dilanjutkan dengan naik Metro Bus 762.

Alhasil, saya kembali lagi naik kereta. Untungnya tiket masih Tap Card selama satu hari, jadi tak perlu bayar lagi.

Turun dari kereta, saya pun menyeberangi 2 blok dan sampai di Fair Oaks. Tak lama berdiri di halte kecil, lewatlah bus 762. Tapi, berhentinya tidak di halte. ‘Supirnya baik hati’ meminta saya mengejar bus.

Ternyata halte tempat saya menunggu, bukan untuk bus 762, tapi 260. Jadilah saya berlari lumayan kencang mengejar bus tersebut. Meskipun capek, tetap bisa terkejar.

Naik Metro Bus, kemudian berlanjut ke Alhambra. Waktu yang ditempuh lumayan lama, sekitar 30 menitan. Tapi, jauh dan lama tak sebanding dengan nikmatnya makanan yang akan saya santap di warung Jawa.

Sampai di Alhambra, ternyata saya harus berjalan kaki lagi lumayan jauh. Mencari alamat dengan nomor rumah 1936, sementara saya berhenti di nomor 1000-an. Berjalan lah saya lumayan jauh. Tak apalah menikmati saja sore yang lumayan indah itu dan rela perut keroncongan.

Jelang pukul 19.00 akhirnya saya sampai di Wong Java House yang beralamat di 1936 West Valley Boulevard Alhambra, LA. Restonya kecil, tapi suasananya asri. Ketika ingin masuk, saya didahului oleh dua gadis yang cukup menarik, sepertinya mahasiswi.

Saya masuk dan langsung merasa seperti berada di Indonesia, mulai dari sapaan dan menu yang disajikan. Langsung saja saya memilih dan memesan ayam bakar ditambah sambal, dengan minuman es kelapa. Yummy….

Rupanya di restoran Wong Java ini menunya lumayan lengkap. Se-Nusantara ada, bukan makanan Jawa saja. Tidak heran, kalau pengunjung yang datang pun beraneka rupa. Termasuk dua gadis di hadapan saya yang sedang ketawa-ketiwi dan tak ada habisnya mengobrol.

Sambil menunggu makanan datang, saya memberanikan diri untuk mengajak ngobrol kedua gadis tersebut. Karena sama-sama dari Indonesia, mereka pun menyambut baik. Ternyata, kedua gadis manis ini adalah mahasiswa bidang keperawatan dan animasi. Gadis yang satu berasal dari Jakarta dan yang satu lagi dari Salatiga, Jawa Tengah. 

Akhirnya, dinner saya yang tadinya hanya sendirian berkat kebaikan dua gadis tadi, jadi bisa bersantap bersama. Asyiknya! Makan di Wong Java House, tidak cuma dapat makanan Indonesia, tapi kehangatan khas Indonesia. Apalagi bisa makan malam bersama pula dengan dua gadis Indonesia.

Obrolan pun makin seru ketika menceritakan kegiatan masing-masing. Yang saya kaget, ketika salah satu dari mereka bilang kalau dia lebih mencintai dan ingin mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, justru setelah berada di Los Angeles. Hal ini dirasakan karena cerita tentang Indonesia yang belum mereka tahu banyak oleh teman-teman bulenya.

Seusainya makan malam, saya ditanya mau pulang menggunakan apa. Saya bilang, saya naik bus dilanjutkan dengan kereta. Beruntung, mereka dengan baik hati menawari saya ikut numpang di mobilnya karena lokasi hotel saya yang berada di Downtown masih satu jalur dengan perjalanan mereka. Saya pun dengan senang hati menerima tawarannya sambil membayangkan, jika naik bus ditambah kereta yang akan memakan waktu hampir 2 jam.

Pulanglah saya dengan perut kenyang dan hati senang. Apalagi, naik mobil kawan-kawan baru sambil bertukar cerita. Ternyata, waktu tempuh saya siang tadi ke Wong Java House dari Downtown yang hampir 2 jam, kini dengan mobil pribadi bisa ditempuh dengan waktu hanya 15 menit saja. Memang, di LA lebih enak naik mobil pribadi daripada naik transportasi umum, apalagi bus.

Wah, pengalaman yang sangat seru dan menyenangkan. Makan di warung yang menyajikan makanan tradisional Indonesia dan mendapat kawan yang keramahannnya khas Indonesia. Kenyang, senang, happy! I love Indonesia.

Baduy Pasti Tak Berlalu

Tiba di Ciboleger jam 10 malam. Perjalanan yang lumayan jauh, setelah sehari sebelumnya shooting di Pantai Sawarna.

Terminal Ciobleger, yang menjadi pintu masuk ke perkampungan Baduy luar, di malam itu, saat bulan puasa, sudah sepi dari kendaraan, tapi masih ramai oleh beberapa anak muda yang nongkrong, ada yang sekedar ngobrol, nyanyi-nyanyi dan beberapa orang bermain bola.

Kang Aad, yang menemani kami selama shooting di Banten ini, segera menemui Jaro alias Kepala Desa Bojong Menteng. Cukup lama juga kami menunggu kang Aad muncul kembali untuk memberikan kabar, apakah kami diterima oleh Jaro atau tidak.

Kang Aad muncul ditemani beberapa anak muda, bukan orang Baduy.
“Pak.. maaf, Jaro-nya sudah tidur, jadi baru bisa ditemui besok pagi saja” kata salah seorang dari mereka.
“Sementara, bisa langsung ke Kang Omo di Rumah Singgah Baduy” lanjutnya.

Continue reading

Tukang Ojeknya Gagu

Entah Tuhan punya maksud apa, dua hari belakangan ini saya bertemu dengan 2 orang tuna wicara yang struggle, tak menyerah dengan keterbatasannya. Kebetulan, di sela pekerjaan kantor, saya membantu sebuah rumah produksi untuk membuat soal dalam Kuis Siapa Lebih Berani yang akan tayang di RCTI. Biasanya, sepulang jam kantor, saya langsung menuju Kebon Jeruk.

Dua kali saya bertemu dengan orang gagu alias tuna wicara. Pertama, ketika naik bis AC Depok – Grogol.  Masuklah seorang bapak yang usianya cukup senja. Tak bicara, akan tetapi langsung menuju ke bagian depan bis. Kemudian dia berbalik dan di dadanya ada plang nama, terbuat dari kardus mie instan yang dipotong persegi panjang, dan dikaitkan dengan tali rafia ke lehernya; persis seperti mahasiswa yang diospek dan mengenakan plang nama di dadanya.

Continue reading

Happy Jump Over Las Vegas

Kami berangkat dari LA jam 11 malam dan sampai di Las Vegas jam 2.30 pagi.

Beristiarahat sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan tour di Las Vegas dini hari dengan menggunakan kendaraan. seru banget, melihat Vegas lengkap dengan lampu-lampunya. Sepertinya Las Vegas tidak pernah tidur, karena dini hari pun masih ada aktivitas di jalanan dan banyak yang 24 jam.

Tour dadakan keliling Vegas ini dilakukan sampai ke downtown, tempat banyak Chapel, tempat menikahkan secara kilat, pasangan-pasangan yang khusus datang kesana untuk menikah. Selebriti pun banyak yang menikah di Las Vegas, yang sensasional mungkin Britney Spears yang menikah kemudian bercerai hanya dalam waktua kurang dari 24 jam.

Kalau saya lebih tertarik dengan sejaraha Las Vegasnya, yang bisa diketahui dari film Bugsy yang membuat Flamingo Hotel Casino di tahun 1930, kini letaknya persis di depan Caesar Palace. Hotel dan Kasino bersejarah itulah yang menjadikan Las Avegas seperti sekarang, kota yang dibanguna di atas gurun, maka berhawa panas, dan kini menjadi destinasi wisata untuk berjudi dan niat-niat lainnya.

Kami kembali ke Hotel Monte Carlo jam 05.30 dan beristirahat. Saya kemudian keluar kamar untuk tour sendirian untuk mengambil gambar dari landmark Las Vgas, mumpung maish pagi dan masih sepi dan langitnya pun masih bersih.

Benar saja, ketika saya keluar kembali jam 7-an, jalanan masih sepi, saya pun mulai berjalan menuju taget utama saya, yaitu Flamingo Hote dan Casino. Rupanya, jalanan di Las vegas diatur sedemikian rupam sehingga untuk menyeberang jalan, kebanyaka harus melalui jembataan. Di sepanjang jembatan itulah banyak orang-orang homeless duduk, dengan kardus bertuliskan aneka kalimat, tapi intinya minta diberi uang. Ada yang minta uag untuk beli bir, ada yang minya uang untuk melatih kursus karate, dan yang agak mendingan, homeless yang membawa mini freezer yang isinya air mineral dingin seharga $1.
Dengan waktu 2 jam, landmark utama Las Vegas sudah bisa saya foto. Termasuk beberapa theme park , mulai dari theme park Paris, hingga New York. masuk Kota Las Vegas smemang seoerti masuk ke Theme Park, karena bangunannya memang serba grand.

Di setiap hotelnya pasti ada kasino, tempat orang-orang berjudi. Sambil lewat saya lihat, banyak wanita-wanita tua yang sejak pagi hari tadi belum beranjak juga dari berbagai mesin judi. Dalam kasino di lobby hotel itu memang tidak diperkenankan memotret. saya hanya lewat saja, berasa lewat di Time Zone saja, dengan segala mesin judi yang ada.

Saya makan pagi di McDonald, beli burger ukuran kecil dan minum kopi dingin. Saya melihat, ternyata bisa refill minumannya selama dalam sekali kunjungan. Lumayan juga ya.

Usai berkeliling dan lumayan melelahkan , saya pun kembali ke kamar dan tidur untuk beristirahat.

Siang, jam 13, semua rombongan check out dari hotel dan langsung menuju Flamingo sebagai titik ketenu. Dari Flamingo, rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok, sesuai dengan minatnya masing-masing, mau kemana. Kalau saya, karena tadi pagi sudah keliling, jadi tak terlalu pengaruh juga, saya ikut kelompok mana saja. Kami janjian untuk bertemu lagi di lokasi yang paling banyak dikunjungi turis, yaitu Air Mancur di depan Hotel Bellagio.l Indah sekali.

Ketika kami berkumpul semua di depan air mancur Hotek Bellagio, rupanya ada atraksi baket dari air mancur yang diiringi oleh musik klasik, sangat mengagumkan.

Sebelum pulang, seperti biasa, kami berburu souvenir. Kali ini saya tak terlalu bernafsu membeli, hinga akhirnya hanya membeli koleksi tempelan kulkas saja, yang harganya lebih murah dari harga di Los Angeles. Membelinya pun tidak di toko-toko seperti Walgreen, akan tetapi di toko-toko tradisional yang berjejer di sisi yang berseberangan dengan hotel-hotel. Hrganya cukup terjangkau.

Anak SMA Sudah Jadi Pembimbing Haji

Kelas 3 SMA memang tidak dibolehkan aktif dalam organisasi apa pun, baik OSIS maupun DKM. Akhirnya, saya dan Novi Hardian ditunjuk untuk menjadi panitia dadakan. Kami berdua kebagian jadi panitia untuk Manasik Haji. Pekerjaannya menyiapkan alat-alat untuk praktek manasih haji itu. Mulai dari miniatur ka’bah, makam Ibrahim, jumroh, hingga petunjuk rute tempat selayaknya pelaksanaan haji beneran.

Pekerjaan yang cukup berat adalah membuat kiswah untuk menutup ka’bah. Warisan dari panitia sebelumnya adalah kain hitam yang di bagian atasnya diberi garis kuning. Saya puny ide untuk memberi tambahan tulisan kaligrafi dengan dibordir.

Continue reading

Uniknya Legislatif Amerika Vs Legislatif Indonesia

Saat ini saya berada di Washington DC, Amerika Serikat, mendapatkan hadiah trip Golden Ticket dari US Embassy di Jakarta. Tujuannya untuk menapaktilasi kisah hidup Barack Obama, Presiden Amerika Serikat, yang rencananya akan datang pertengahan November ini.

Beberapa destinasi sudah dilalalui; salah satu yang menarik adalah kunjungan ke Capitol Hill, komplek gedung legislatif di Amerika Serikat.

Usai kunjungan ‘studi banding’ bukan anggota dewan, dan tidak menggunakan uang Negara serta (mudah-mudahan) tidak menyusahkan rakyat; saya mencatat beberapa perbedaan antara Capitol Hill (komplek legislaltif Amerika Serikat) yang berisi Senator dan Congressman; dengan apa yang terjadi di legislatif Indonesia. Boleh setuju boleh nggak; tapi ini laporan pandangan mata dan hati; atau mungkin matahati.

1. Di Amerika ada seorang presiden yang kemudian menjadi senator—John Quincy Adams. Di Indonesia, mana ada Presiden yang mau jadi anggota dewan?


Continue reading

Malam Pertama di Singapura

Tak terduga, saya mendapat kesempatan untuk berwisata ke Singapura. Bersama pemenang Fast Browse & Win yang diselenggarakan oleh Plasa MSN.

Berkumpul dini hari di Terminal 2D Bandara Soekarno Hatta, sudah terlihat antusiasme para pemenang yang membawa 1 orang yang diajaknya. Kebanyakan dari pemenang yang masih single, membawa ibunya. Ada yang membawa kakaknya, ada juga yang membawa temannya.

Rapih sekali cara menghandle pemenang dan kami, dari beberapa media. Saya hadir mewakili blogger, ada teman media dari Okezone.com dan PCPlus juga. Mulai dari pemberian name-tag untuk identitas bagasi, hingga kaos dan topi yang bertuliskan Fast Browse & Win. Rapi.

Pesawat Lion Air menerbangkan kami ke Singapura, jam 06.15 dan sampai di Changi Airport jam 09.30. Bergegas ke imigirasi, sambil tak lupa foto-foto di beberapa lokasi. Hingga tiba di pengambilan bagasi. Karena saya keasyikan nge-twit, maka bagasi saya pun terbawa kembali ke dalam dan saya harus menunggu kembali. Asyik nge-twit dan update status, saya celingak-celinguk, melihat sekeliling, ternyata saya ketinggalan. Teman-teman satu rombongan sudah berangkat lebih dulu ke Merlion Park.

Segera saya menelpon panitia, @chikastuff, mencari tahu nomor kontak panitia yang lainnya. Alhamdulillah akhirnya bisa tersambung juga. Akan tetapi, masalahnya adalah, ternyata bis rombongan tak bisa kembali. Jadi, saya harus menyusul ke Merlion Park pake taksi.

Hmmm.. Hari pertama sudah begini. Salah saya juga, terlalu asyik nge-twit sampai lupa ngeliat rombongan. Segera saya ke Money Changer, karena pake taksi harus bayar $ Singapura.

Saya ngantri menunggu taksi. Tak lama, taksi pun datang.

“Merlion Pak” kata saya dengan logat Sunda Inggris. *Mer-li-yon. Begitu bunyinya.

“What… ?” Jawab Supir taksi bingung; dengan logat Sing-Lish alias Singapura English.

“Mer-li-yon Park Sir” kata saya menegaskan, tetap dengan logat Sunda.

“Oh.. Mer-lai-yon Park… oke…” Jawab Pak Supir Taksi, baru nyadar.

Saya juga baru nyadar, atau emang bawaan, nyebut Merlion Park dengan logat Sunda, jadinya Mer-li-yon; bukan Mer-lai-yon.. Hehehe.. Lidah Sunda memang sulit beradaptasi.

MERLION PARK

Meluncurlah saya ke Merlion Park, taksi bayar taksi SG$ 18. Sampai disana, rupanya rombongan sudah mau pulang. Segera saya menemui panitia, mohon maaf karena saya tertinggal. Anehnya, ternyata, peserta dianggap sudah cukup dan ikut semua. What? Berarti saya ngga masuk itungan ya? hehehehe… Never mind; gak apa-apa lah. Yang penting sudah ketemu, dan bisa langsung gabung. Oh ya, pemandu-nya orang India, yang bernama Pak Rahmat.

Merlion Park itu gak besar-besar banget. Posisinya yang strategis dan memang menjadi ikon Singapura. Kita bisa foto dengan background Patung Merlionnya, atau bisa juga dengan background Hotel Marina Bay Sands Singapura yang terkenal dengan bentuk kapal pesiar di atas penopang 3 gedungnya itu. Atau, bisa juga berfoto dengan background keduanya. Pemandangan luar biasa.

Small but Beautiful. Mewakili Singapura banget.

Puas berfoto-foto, rombongan kembali ke bis. Sebelum sampai, ada yang jual es dung dung, kalau di kampung saya, es nong-nong; cuma, ini agak modern. Lumayan enak. Harganya SG$ 2.

GALERI COKELAT

Kami pun berangkat menuju Galeri Cokelat. Letaknya tak jauh. Di Galeri Cokelat ini segala macam cokelat dengan aneka rasa dijual. Mulai dari rasa kopi, durian, jagung; pokoknya segala macam ada. Saya pun ingat dengan anak-anak yatimonline binaan di kampung; maka saya beli 2 kotak cokelat berbentuk Patung Merlion dengan rasa durian dan jagung. Harganya $SG 12. Lumayan, murah, meriah dan banyak.

Usai dari Galeri Cokelat, kami diajak ke toko souvenir. Melihat-lihat anek souvenir khas Singapura. Lucunya, di toko itu pun dijual batik. “Batik Singapura” kata penjaganya. Para penjaga toko bilang: “Rupiah Can”, maksudnya “Kaleng Rupiah?” Hehehe, rupanya mereka ngerti, kalau yang datang orang Indonesia, jadi mereka bilang bisa bayar pake rupiah.

Usai belanja, rupanya perut sudah memberi alarm, lapar. Bergeraklah kami ke Park Mall, dekat National Museum of Singapura untuk makan siang.

KUBILAI KHAN RESTAURANT

Pas masuk ke parkiran Park Mall, kayanya gak meyakinkan nih tempat makannya. Ternyata, setelah sampai ke restoran, lumayan juga resto-nya. Namanyai Kubilai Khan Restaurant. Mungkin masih saudara sama Shah Rhuk Khan. :). Pak Rahmat, pemandu kami, mengatakan, bahwa makanannya prasmanan, dan kami boleh milih sayuran yang sudah matang dan siap santap atau makanan mentah yang harus dimakan dulu. Saya pun memilih yang kedua. Mirip-mirip tepayaki. Minumnya? Yummy.. ada es cendol, buah naga dan es kacang merah. Mana yang saya minum? Semuanya dikombinasikan jadi satu. Hahahaha.. Enak pokoknya.

Makan enak, perut kenyang, bawaannya ngantuk. Tapi, ada kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Karena hari Jum’at, kami pun bergegas ke Mesjid. Lokasinya di dekat Orchard Road. Mesjidnya tersambung dengan perkantoran. Namanya Mesjid Al Falah

JUM’ATAN DI MESJID AL FALAH

Sudah ramai mesjid terisi. Jam 13.15. Tepat waktu. Ketika kami masuk ke Mesjid, terdengar sayup-sayup adzan.  Bahasa Qur’an tidak kenal logat ternyata. Dimana-mana, suara adzan, ya seperti itu juga.

Perut kenyang, siang hari, Jum’atan, kombinasi yang lengkap untuk mengantuk dan tertidur. Hehehehe. Saya tertidur dan bangun kemudian Shalat Jum’at. Usai shalat Jum’at, disambung Shalat Ashar yang dijama’. Alhamdulillah.

Hujan gerimis mulai mengguyur Singapura. Kami bergerak menuju Kantor Microsoft Singapura yang letaknya tak jauh dari Merlion Park. Semua peserta kini menggunakan topi, takut hilang dan ketinggalan, katanya.

KANTOR MICROSOFT SINGAPURA

Kantor Microsoft Singapura ini gak terlalu besar, letaknya di Lantai 5. Yang unik, viewnya langsung ke Marina Bay Sands Hotel, jadi indah banget. Betah kalau ngantor disini.

Kami dipandu oleh karyawan Microsoft Singapura, melihat kemajuan teknologi yang dikreasi oleh Microsoft. Kelihatan sekali, para peserta dan pemenang Fast Browse & Win antusias. Saya juga antusias; tapi, apalagi pernah berkunjung ke kantor pusat Miscrosoft di Bellaveu, Seattle, USA.

Kemajuan teknologi mulai dari Microsoft Surface, yang main komputer touch screen berasa nge-DJ, sampai main-main game mirip xBOX tapi ukuruannya jumbo. Benar-benar berasa jadi anak kecil kembali. Ternyata, kemajuan teknologi a la Microsoft itu membawa kita kembali untuk belajar sambil bermain; kembali menemukan antusiasme belajar anak-anak pada diri kita. Dan itu sangat bagus.

Dari Microsoft Singapura, kami berangkat menuju acara utama. BELANJA. Destinasi: CHINA TOWN

BELANJA DI CHINA TOWN

Untungnya, Pak Rahmat, pemandu rombongan, tahu, toko mana yang harga jualnya paling murah; atau malah itu toko temannya Pak Rahmat? Ah, tak apa-apa lah, yang jelas, kami menuju China Town dengan antusiasme tinggi, karena bakalan membelikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Saya jadi ingat titipan Naya, puteri saya, “Abi, beliin boneka ya?” Langsung saya mencari boneka. Ya, gak nemu boneka tangan, akhirnya pilihan saya jatuh ke boneka khas Singapura. Yang asyik, harga untuk setiap souvenir, $SG 10 untuk 3 barang; dan tak harus barang yang sejenis. Memudahkan sekali.

Saya pun membeli 3 boneka, 4 kaos, 1 topi kecil China dan 1 butir kelapa (kalau ini bukan untuk dibawa pulang, tapi untuk diminum di tempat, karena kehausan).

Dan ternyata, setiap toko di ChinaTown itu harganya sama saja. Bisa-bisanya pemandu saja ini sih. Tak apalah. Yang jelas, enjoy shopping. Lebih asyik lagi, ternyata oh ternyata, kebanyakan turis yang belanja ke ChinaTown adalah orang Indonesia. Kedengeran dari bahasanya dan kelihatan dari perilaku belanjanya. Hehehe.

Puas belanja di Chinatown, tadinya kami akan kembali ke Marina Bay. Tapi, karena kesorean, kami pun sepakat untuk langsung menuju rumah makan di Jl. Bengcoloon, jaman dulu sih namanya Jalan Bengkulu; sekarang berganti jadi Bengcoloon. Sepanjang perjalanan, agak heran juga saya, karena tidak kelihatan hiruk pikuk orang berjalan kaki di sepanjang jalan utama, padahal hari ini week-end. Ternyata, para pekerja Singapura hampir semuanya menggunakan MRT yang ada di bawah tanah. Bagus sekali ya? Andaikan Jakarta sudah memiliki transportasi massal di bawah tanah, kemacetan akan segera hilang di jalan-jalan utama Jakarta.  Hotelnya bagus, di pusat kota, memudahkan sekali untuk menelusuri kehidupan Singapura.

BENGCOLOON RESTAURANT

Tiba di Hj. Mariyah Bengcoloon Restaurant, kami disambut dengan sajian makanan khas Indonesia. Rendang, sup, ayam goreng, sayur dan tentu saja sambal. Makanan yang enak dan sangat cocok dengan lidah orang Indonesia, karena yang masak memang orang Indonesia. Nikmat sekali.

Makan malam usai, destinasi selanjutnya adalah chek in ke Orchad Parade Hotel di Orchad Road yang sangat terkenal itu.

MENGINAP DI ORCHAD PARADE HOTEL

Orchad Road, Singapura; jalan utama yang sangat terkenal, rapi dan tertata; menjadi pemandangan yang sangat menarik. Saya membayangkan, andaikan saja Jakarta dikelola dengan benar, maka jalan-jalan utama di jakarta bisa seperti Orchad Road.

Sampai di Hotel, langsung check in. Hotelnya bagus, tapi tidak bagus bagi seorang blogger seperti saya; karena tidak ada free wifi. Hehehe. Tak apalah, tanpa wifi, berarti ada beberapa kegiatan lain yang bisa saya lakukan. Jalan-jalan misalnya.

Lewat twitter, saya pun bertanya tentang destinasi belanja yang menarik di Singapura. Tersebutlah nama Mustafa Center. Saya belum tahu saat itu, saya pikir semacam grosir atau toko kecil lah. Saya mengajak teman sekamar dan beberapa teman lain untuk jalan ke Mustafa Center, katanya harga barang disana lebih murah.

Ke Mustafa Center di dekat Little India, kami memilih menggunakan MRT. Harus transit dulu di stasiun Goody Gant, sebelum disambung ke Ferrer Park. Kami pun menggunakan mesin untuk membuat Smart Card, dengan destinasi Ferrer Park, harganya $SG 2.4. Cukup murah. Caranya pun mudah, tinggal masukkan data destinasi MRT dan akan keluar harga tiketnya. Masukan uang $SG, jika tak ada uang pas, maka akan keluar kembaliannya. Smart Card dengan tujuan yang tepat pun sudah kita peroleh. Hati-hati, jangan salah turun stasiun, bisa jadi smart cardnya tak berfungsi ketika keluar.

MUSTAFA CENTER

Ternyata Mustafa Center tak seperti dalam bayangan saya. Mustafa, yang dulunya adalah seorang pedagang kaki lima dan diusir-usir Satpol PP-nya Singapura itu kini menjadi komplek belanja yang sangat besar. Serupa mall sendiri. Salut. Dan inilah salah satu Singaporean Dream, bahwa setiap orang yang bekerja keras, pasti akan menuai sukses. Mustafa Center wujudnya.

Kami pun belanja sepuasnya di Mustafa Center. Karena ada beda perilaku belanja perempuan dan laki-laki, maka kami janjian untuk bertemu di lokasi tertentu usai belanja selama 1 jam. Betul saja, ternyata, hanya dala waktu 30 menit, kami, para laki-laki, sudah bosan belanja, dan tak jago dalam menawar. Barang pertama yang kami temui dan sukai, ya langsung dibeli. Beda dengan perempuan, bisa saja menawar dulu, atau melihat-lihat di lokasi yang berbeda, siapa tahu menemukan harga yang lebih murah.

Ramai sekali Mustafa Center ini, nyaris seperti pasar malam. Dan inilah pusat belanja yang buka 24 jam; karena biasanya, pusat belanja di Singapura sudah tutup jam 22.00, apalagi di akhir pekan. Selain belanja, kami pun bisa menikmati makanan yang kebanyakan disajikan oleh orang India, seperti martabak dengan berbagai isi dagingnya. Enak, tapi gede banget porsinya.

Karena MRT terakhir jam 23.00, maka jam 22.30 kami sudah keluar dari Mustafa Center. Kembali menuju hotel. Ketika sampai kembali di Orchad Road, tak lupa kami berfoto untuk mengabadikan Orchad Road di malam hari. Indah, rapi dan tertata. Itulah kesan yang didapatkan.

Kembali ke kamar hotel, mandi air hangat dan langsung bersiap tidur. Malam pertama di Singapura, menjadi malam yang menyenangkan, mengeyangkan dan melelahkan.

Besok, kami akan mengunjungi Universal Studio Singapura di Sentosa Island. Pengalaman yang pastinya seru.

Saya pun tidur dengan penuh senyum.

Berlanjut ke tulisan bagian (2)

Pejuang Hijab

Ketika saya kelas 1 SMANSA Bogor, kakak kelas tidak banyak yang berhijab. Ada salah satu kakak kelas yang sangat saya kagumi. Namanya RA. Saya kenalnya karena sama-sama ngaji di Majlis Taklim Al Ihya Bogor. Berhijab sejak SMP, kakak kelas bermata teduh dan sangat antusias kalau ngobrol ini, tidak menunjukkan ketakutannya ketika masuk SMA mengalami diskriminasi dalam hal pemakaian hijab. Saat itu hijab dilarang dikenakan oleh siswa SMA.

Tidak sendiri, bersama teman-teman karibnya, RA memperjuangkan hijab sebagai jalan hidupnya.
Kami, para adik kelas, yang laki-laki, hanya bisa mendoakan saja, dan sebagai bagian dari anak-anak Rohis, tentu seringkali berdiskusi secara internal dengan RA dan kawan-kawan lainnya.
Pertentangan hijab tersebut meluas, hingga masuk ke ranah pengadilan. Tentu sebuah kondisi yang menegangkan, bagi seorang siswa SMA yang harus menghadapi pengadilan.
Akan tetapi, saya lihat, karena yang diperjuangkannya adalah jalan hidup, maka tak ada gurat ketakutan diantara RA dan teman-temannya.
Bahkan, kondisi ketegangan tersebut membuat tumbuhnya solidaritas dan silaturahmi di antara para orang tua. Mereka mengadakan pengajian; uniknya, salah satunya selalu mendoakan agar Pak Ng, Kepala Sekolah SMAN 1 Bogor, bisa segera naik haji. Sama sekali tak ada hal-hal negatif tentang Pak Ng, lebih fokus kepada agara dibukakan hidayah, hati dan kebaikan bagi pak Kepala Sekolah SMAN 1 Bogor.
Tak semua sekuat RA dan kawan-kawannya. Ada yang harus membuka hijab dan mengenakan wig, atau memilih mengenakan hijab ketika lulus SMA nanti.
Interogasi demi interogasi dialami Teh RA dan kawan-kawannya. Dialog antara siswi SMA yang mempertahankan tuntutan akidah dengan seorang Kepala Sekolah yang bermaksud menegakan aturan hingga di titik Kepala Sekolah mengeluarkan siswi yang tetap memaksakan diri untuk berhijab.
Tak patah semangat, solidaritas makin kencang, hingga pihak-pihak seperti Kemendikbud hingga LBH pun jadi upaya untuk memperjuangkan hijab tersebut.
Pengadilan Negeri Bogor adalah saksi bagaimana kemudian massa turut menjadi pressure grup bagi perjuangan sekelompok remaja yang berhadapan dengan kekuasaan, memperjuangkan akidahnya tanpa takut akan akibatnya, karena yakin Allah Bersama mereka.
Dan keputusan pengadilan pun akhirnya memenangkan RA dan kawan-kawan sampai bisa bersekolah kembali di SMAN 1 Bogor dengan mengenakan hijab.
Itulah yang mengawali maraknya penggunaan hijab di SMA se Bogor dan mungkin se Indonesia. Walaupun negara belum selesai dengan hal tersebut; karena di masa-masa berikutnya, persoalan hijab ini tetap menimbulkan polemik ketika menjadi bagian dari seragam sekolah.
Saya bersama teman-teman yang lain di Rohis, salut dan bangga dengan semangat RA dan kawan-kawan yang lain. Yang saya inget, saya pernah ‘nangis’ di depan RA, untuk menyampaikan bahwa adik-adik Rohis kelas 1 ini sangat mendukung perjuangan kakak kelas yang kami banggakan; walaupun kami belum paham sempurna tentang perjuangan yang dilakukannya.
Tonggak sejarah, bahwa SMAN 1 Bogor adalah kawah candradimuka bagi pembentukan karakter dari orang-orang yang memperjuangkan akidahnya; dengan cara-cara yang baik dan berharap kebaikan untuk semua orang; berharap ada hikmah besar dari peristiwa yang dialaminya.

Kekuatan spiritual itu pula yang kemudian tahun 2013, RA menuliskan buku In God We Trust: Meretas Hijab dari Indonesia sampai Amerika; karena di Amerika, RA menghadapi diskriminasi yang de javu, seperti pernah dihadapinya di masa SMA; tentu dengan tingkat tantangan yang berbeda; karena yang dihadapinya adalah institusi US Army.
Saya beruntung berada satu rentang masa remaja di SMANSA Bogor; sehingga bisa belajar banyak dari karakter RA dan teman-temannya.
Allah Melindungi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.
Sekarang RA berdomisili di Amerika Serikat dan menbuka klinik dokter gigi di beberapa kota disana.
#teROHISin God We Trust