Pulang lebih cepat, membuat saya agak lapang berdiri di gerbong paling belakang kereta ekonomi Pondok Cina – Bogor. Di depan saya, 5 bangku diduduki oleh 1 ibu-ibu, 1 orang wanita muda, 2 bapak-bapak (tepatnya kakek) dan 1 lagi seorang anak muda berbaju koko.

Di samping saya, seorang kakek, mungkin usianya lebih dari 70-an, berdiri, sambil saya lihat, kakinya agak gemetaran. Mungkin sudah tak kuat berdiri. Kakek yang berdiri itu persis berada di depan anak muda berbaju koko tipis serta si wanita muda. Anak muda berbaju koko itu sibuk, tenggelam dalam koran yang dibacanya. Tapi, sesekali dia melihat ke depan, dan saya yakin dia menyadari ada seorang kakek yang sedang berdiri gemetaran.

Sementara si wanita muda, tertidur dengan kepala menyandar ke belakang.

Saya melirik lagi si Kakek yang berdiri gemetaran. Kasihan juga. Kalau ibu-ibu yaw ajar tak memberikan tempat, 2 bapak-bapak juga wajar, karena tempat duduknya agak jauh. Tapi.. anak muda berbaju koko yang tenggelam membaca Koran itu, apa tidak melihat ada orang tua yang butuh tempat duduk?

Ketika kereta berjalan mendekat ke stasiun Depok Baru, tiba-tiba si wanita muda yang tertidur tadi bangun. Dan, langsung melihat ke kakek di depannya yang berdiri. Si wanita muda itu kemudian berkata ke si kakek..

“Pak.. gantian nih tempat duduknya…” Sambil berdiri, dia menuntun si Kakek yang tadinya berdiri untuk duduk di kursinya, persis di samping anak muda berbaju koko. Anak muda itu melihat si kakek tanpa ekspresi, seperti tak terjadi apa-apa.

Saya surprise bahwa si wanita muda itu, yang tadinya tak menyadari bahwa ada kakek yang berdiri di depannya, karena tertidur, yang bangun dan mempersilahkan untuk duduk; ketimbang si anak muda berbaju koko yang sebenarnya dari tadi sudah melihat si kakek yang berdiri gemetaran.

Saya surprise, si wanita muda itu ‘casingnya’ tak menunjukkan sebagai seorang yang berbuat baik seperti itu, tapi mungkin Allah mengirimkan ‘sinyal’ kepadanya untuk mendapatkan pahala.

Saya surprise, si anak muda berbaju koko itu ‘casingnya’ menunjukkan sebagai seorang yang mudah menolong, akan tetapi Allah tak mengirim ‘sinyal’ untuk menolong.

Casing memang tak bisa diubah, karena itu adalah kita apa adanya. Tapi, sinyal berhubungan dengan peluang, tak semua orang bisa memilikinya. Karena Allah yang mengaturnya.

One thought on “Casing itu Apa Adanya, Sinyal itu Karunia Tuhan

  1. Assalamualaikum Bang Baban… maaf ya so’ akrab, se so’ akrab Bang Baban menyapa Malaikat dgn sbutan Mala di dlm buku (: sy sdh mmbc buku Hati Tak Bersudut, dr cerita2 & tulisan abang di dlm buku, sdikit bs sy deskripsikan abang ini : suami yg amat sgt mencintai keluarga, very responsible, sabar, so far blm nemu yg jeleknya sih… krn br baca 1 x mgkn klw sdh 2-3 x br ketauan.. he..he.. Bang.. mw tulisan ttg gmn pdkt (klw bhs gaul skrg)/pacaran/ta’aruf islam yg detil/spesifik… khususnya yg berjilbab. klw dulu gaya ta’aruf/pdkt abang gmn sama Bundanya Naya. tks b4 lho Bang…. (klw comment blognya ; sgt inspiratif, mengisi saldo rohani dan wacana keislaman+keimanan)

    makasih ya udah beli dan baca, serta menikmati.. kalau gitu, bacanya 1 x aja, biar ngga ketahuan..hehehehe… mudah2an apa yang diungkapkan jadi do’a buat saya dan keluarga ya…? hmmm, mengenai cerita dengan Bunda Naya.. ntar lewat email aja ya…

  2. ^ waaaaaaaaaaaaaaaa..
    ada pembaca nih.. 😆
    kudu bikin forum tanya jawab dong..

    hhhmm..
    tapi mungkin karena ego laki2 mengalahkan perasaan perempuan.. hhhmm..

    thanks tulisannya..

  3. Ternyata, sense of peduli itu salah satunya karena pendidikan keluarga dan faktor lingkungan, Alhamdulillah dari kecil orangtua saya selalu mengajarkan dan mencontohkan tentang rasa peduli itu..dan saya dan suami berusaha untuk mengajarkan dan juga mencontohkan pada anak-anak saya. Hingga suatu hari anak saya yang saat itu masih duduk di kelas 3 SD (Sekarang udh kelas 5 SD), bercerita,”Ma, tadi berangkat sekolah abang ngeliat kakek-kakek yang lagi berdiri di deket sekolahan, abang nggak tau dia mau minta-minta atau bukan, tapi bajunya udah lusuh banget, trus aku kasian banget ngeliatnya..Ya udah, uang jajannya, aku kasiin aja.., abang sisain seribu untuk ongkos pulang, nggak apa-apa kan Ma?” Saya peluk dia dan jawab, kebaikan abang hari ini karena Allah ngasih kesempatan abang untuk berbuat baik..

  4. Don’t judge the book from it’s cover! itu emang pepatah yg bener bgt.

    Sy jadi teringat tmn saya, wanita cantik yg berprofesi sbg sekertaris, dia blm berjilbab tp dulu pernah sekolah di pesantren shg bs bhs arab. Saat ia naik angkot, kebetulan di seberangnya ada dua wanita berjilbab. Dlm perjalanan, rupanya 2 wanita itu membicarakan tmn saya dlm percakapan bhs arab. Berhub tmn sy mngerti apa yg mrk bicarakan, kupingnya panas juga. Tp ia mencoba utk bersabar. Saat turun dari angkot, tmn saya tiba2 timbul jailnya, Dia lalu berkata kpd 2 wanita tsb dg bhs Arab, kurang lebih artinya “Trmksh mbak atas masukannya, smg saya bisa segera mengenakan pakaian takwa seprti mbak2”. Merah padamlah kedua wanita tsb. Rasanya kita menag harus berhati2 utk tidak menggunjingkan orla, apalagi jika kita sdh menggunakan “casing” yg baik.

    Alhmd, pd akhirnya memang tmn saya itu memakai jilbab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *