Di depan saya ada seorang kakek, memainkan suling. Nikmat betul dia melantunkan lagu Sunda. Kalangkang judulnya, kalau versi syair sih dinyanyikan oleh Ninuig Media (kalau ngga salah). Selesai memainkan lagu, dia kemudian mengambil kantong lusuh terbuat dari kain, sengaja disiapkan untuk diedarkan ke penumpang; tak seperti pengamen lain yang menggunakan kantong plastik bekas permen atau bahkan tangan telanjang.

Perlahan, karena memang sudah uzur, dia bergerak menyodorkan kantong itu ke satu per satu penumpang. Beberapa memberikan uang 1000-an. Setiap ada uang masuk ke kantongnya, dia menatap kepada si pemberi dan mengucap terima kasih dengan panjang, diiringi do’a yang dikomat-kamitkan, tak kedengaran dari posisi saya; pelan sekali.

Saya mengikuti pergerakak kakek pesuling itu. Setiap ada yang memberi, setiap itu pula dia mengucap terima kasih dan berdo’a dalam komat-kamitnya.

Ketika sampai di depan saya, dia menyodorkan kantong lusuh itu. Saya mengeluarkan uang, tak seberapa, tapi buat dia mungkin seberapa. Dia menatap saya, mengucap terima kasih dan melanjutkan dengan ucapan lain yang tadi tak terdengar…

“Semoga Allah lebih mencintai…”

Duh…!

Mau nangis rasanya, didoakan oleh orang tak dikenal, dengan do’a yang memang menjadi tujuan hidup setiap orang. Mau apalagi hidup di dunia, kecuali dicintai oleh Yang Maha Mencintai? Mau apalagi, coba?

Walaupun, ucapan dan do’a itu mungkin diucapkan oleh si kakek pesuling, tapi Allah Maha Mendengar, entah do’a yang mana, kepada siapa, yang Allah kabulkan.

Walaupun, mungkin saja, beberapa orang tidak memberi uang, karena pesuling itu punya pamrih, meniup seruling, kemudian meminta imbalan, buat saya tak jadi masalah. Toh, pamrihnya bukan meminta imbalan dari tiupan serulingnya, dan saya pun tak memberi karena tiupan serulingnya. Saya memberi bukan ber-pamrih, demi si kakek peniup seruling, tapi ya memberi saja.

Walaupun, mungkin saja, imbalan uang tak sepadan dengan kualitas tiupan serulingnya, sah-sah saja; karena ketika memberi dengan pamrih yang horizontal, karena alasan manusia, memang membuat dada ini tak lapang. Sama halnya dengan kakek peniup seruling itu, mungkin saja, doa’nya terucap kepada setiap pemberi imbalan, ketika hatinya lapang dan ikhlas. Bukankah hati lapang dan ikhlas adalah password untuk memiliki hubungan online tanpa hambatan dengan Allah?

Saya membuka sebuah harian ibukota. Di halaman muka, ditampilkan klaim antar pemimpin yang mengatakan bahwa 5 tahun terakhir adalah kontribusi besar dari perjuangannya. Hmmm.. bentuk lain dari pamrih, bahwa para pemimpin itu melakukan 5 tahun tindakan dengan imbalan dipilih kembali untuk 5 tahun berikutnya. Seolah hidup rakyat ini ber-jeda 5 tahun sekali.

Mungkin saja, buat para pemimpin dan elite politik, kehidupan rakyat ini berjeda 5 tahun sekali, seolah pemilihan nanti adalah pemilihan untuk 5 tahun berikutnya. Tak terpikirkah, bahwa setiap detik kehidupan, satu sama lain tersambung, tak ada jeda yang dibatasi oleh hitungan pemilihan apa pun itu.

Kakek pesuling itu memiliki pamrih meminta imbalan karena melantunkan lagu Kalangkang. Saya pamrih kepada Allah memberikan  imbalan kepada si kakek pesuling. Kakek pesuling itu pamrih kepada Allah, mendoakan saya.

Para pemimpin di negeri ini pun, mengklaim sukses dan pamrih kepada rakyat untuk dipilih kembali. Semoga saja, para pemimpin ini, di tengah malam, dalam kondisi yang hening, pamrih kepada Allah, mendoakan rakyatnya supaya mendapat kepalangan hati dan keikhlasan. Bukan do’a ditengah kerumunan manusia berbaju putih dengan sorotan kamere.

Karena, pamrih kepada Allah itu tak perlu ramai. Itu murni interaksi interaksi antara kelapangan hati dengan Sang Pemilik Hati.

One thought on “Capres, Kakek Pesuling dan Pamrih

  1. Subhanalloh, sebuah artikel yg menyejukkan hati. Alangkah nikmatnya hidup ini bila semua slalu ingat dgn sang Pencipta. Hidup di dunia ibarat orang dlm perjalanan cuma “mampir ngombe” (mampir minum), jadi mari gunakan waktu sebaik-baiknya sebelum ajal menjeput nyawa.

  2. “Melik ghendong lali”
    Pamrih mengghendong lupa.
    Kalau orang bicara tentang jasa sendiri:
    orang jadi tahu jasanya atau muak dengan pembicaraannya.

  3. Dengan ikhlas dan rasa sabar adalah kunci menuju pintu kasih sayang yang Maha Kuasa namun tidak semudah lidah berucap melainkan perbuatan yang nyata tanpa keluh kesah menerima ujian bahagia dan ujian derita serta menempatkannya sebagai nikmat bukan laknat. salam…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *