Sambil membaca dongeng lebah untuk mengantar tidur Naya, anak saya; sekilas saya mendengar di Metro TV, ada 6 caleg yang mundur karena diterima sebagai PNS. Saya menghentikan bacaan saya, dan Naya pun sudah terlelap. Saya memperhatikan berita itu dan ingat dengan beberapa teman saya yang sekarang jadi caleg.

Banyak juga yang menjadi caleg karena pilihan yang sedikit; missal teman saya di sebuah kota kecil di Sumatera, terpilih jadi caleg karena dia satu-satunya kandidat yang sudah bergelar sarjana. Isterinya dokter yang sedang PTT disana. Ada juga teman saya yang lain; pontang panting ngurusin perusahaannya, sambil terus berusaha sosialisasi ke masyarakat. Duit jelas tak punya, tapi karena sudah amanah, sekuat tenaga dikerjakan; dibantu oleh teman-teman secara sukarela.

Memang beberapa teman lain yang jadi anggota legislative terpilih tahun 1999 dan tak terpilih lagi tahun 2004, ngga jelas pekerjaannya; karena memang sebelumnya pun tak jelas juga pekerjaannya.

Bagi beberapa orang, menjadi caleg itu seperti melamar pekerjaan. Harapannya adalah punya pekerjaan. Tak terpikir masalah pengabdian. Tak terpikir masalah apa yang bisa diberi, karena yang dimiliki pun nyaris tak ada. Jangankan non-materi, materi pun masih belum cukup. Buktinya mereka memilih mundur karena diterima jadi PNS, karena alasan ekonomi yang lebih menjanjikan.

Mengerikan nantinya, jika anggota legislative didominasi oleh orang-orang yang menganggap posisinya sebagai pekerjaan. Pasti banyak yang akan mereka ambil disbanding yang akan mereka berikan. Pasti banyak yang selisih saldo tabungannya banyak, karena memang sebelumnya sedikit.

Mengerikan nantinya, jika anggota legislative didominasi oleh orang-orang yang tak jelas pekerjaannya, karena tak terukur kinerjanya. Bagaimana mungkin akan melayani rakyat jika tak punya ukuran kinerja yang terlatih dari performa pekerjaan, profesi atau bisnis sebelumnya.

Mengerikan nantinya, jika anggota legislative didominasi oleh orang-orang yang memiliki mental meminta pekerjaan, berlindung dari kepastian masa depan ekonomi, tak berani bertarung dengan risiko financial ketika mereka menjadi anggota legislative.

Menjadi caleg bukan masalah apa yang bisa diambil, tapi apa yang bisa diberi. Menjadi caleg bukan masalah apa yang bisa dilakukan orang lain untuknya, tapi apa yang bisa dilakukannya untuk orang lain. Menjadi caleg bukan masalah mendapatkan kepastian ekonomi, tapi justru risiko.

Jika para caleg itu berniat maju hanya karena ingin mendapatkan pekerjaan, celakalah rakyat. Jika caleg maju sambil melamar pekerjaan kesana kemari dan ketika pekerjaannya diterima, celakalah rakyat, karena aspirasinya dianggap sebagai sambilan.

Tapi, saya yakin, masih banyak pula caleg yang dengan pengorbanan besar, berani maju karena niatnya memang mengabdi, rindu perubahan dan yakin dengan apa yang akan diperbuatnya kelak.

One thought on “Caleg Mundur Karena Diterima Jadi PNS

  1. kayaknya job legislatif ini menjanjikan ya… makanya mereka berani naruhin modal yang gede biar menang
    wuiiiiih serem kalo menang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *