Tengah hari, terik banget. Di depan terhampar laut biru dengan ombak putih yang bisa mencapai 9 lapis, tingginya sekitar 5 meteran. Delapan orang sedang bermain surfing; 5 bule dan 3 penduduk asli.

Seharusnya kami sudah berangkat menuju Baduy. Tertunda, karena menunggu seorang bule asal Australia yang tadinya bersedia untuk masuk dalam scene akhir dari shooting hari ini.

Ternyata, tuh bule Aussie, keasyikan main surfing; dan memang kalau sudah surfing, keasyikan, bisa lama banget nunggunya. Minimal, 3 jam mereka asyik mengejar ombak.

Kami masih setia pada janji bule Aussie yang akan balik ke pantai, tepat jam 10.00. Nyatanya, sampai jam 11.00, tuh bule ngga balik-balik juga. Handphone dia ngga bawa, dan jam juga udah pasti ngga bawa. Jadi, mana tau dia, sekarang udah jam berapa. Beberapa kali bolak-balik dengan papan selancar segede teras rumahnya itu, bule Aussie itu kembali ke tengah laut dan menunggu ombak untuk dikejar.

Nikmat bener, buat dia..

Kesel bener, buat kami yang dikejar jadwal.

Saya, yang bagian kreatif, akhirnya mikir-mikir juga, nyari alternatif bule lainnya. Kebetulan disana ada 4 bule; dari Aussie juga plus dari Bulgaria. Segera saya hampiri mereka.

“Kalau ngga keberatan, mau bantuin kita nggak… butuh bule nih untuk salah satu scene kita…?” tentu dalam bahasa Inggris.

Dua bule berjenggot, langsung menolak, sambil menunjukkan kaki kanannya yang lecet kena karang; satu lagi menceritakan pengalamannya barusan, dihadang sama ular belang di laut; dia takut dipatok ular rupanya.

Saya ngga menyerah, langsung menuju bule satu lagi, yang badannya paling macho. Sebelum menghampiri, teman saya bilang..

“Jangan bule yang itu; lagi bisulan….”

Hwaaaaaaaaaaaaa…

Bule, bisa bisulan juga ya.. pantesan jalannya jinjit dan celananya rada diangkat….

Ngga jadi deh.

Alhasil, nunggu aja tuh bule Aussie selesai surfing. Sepuas-puasnya aja, sekesel-keselnya aja.

Lagi melototin bule Aussie itu, tiba-tiba ada bule terakhir, menghampiri saya..

“Are you a Chelsea’s Fan?” tanyanya sambil menunjuk kaos Chelsea (asli lho), yang kebetulan saya pakai.

“Yes..of course…Frank Lampard is the best…” kata saya.. (ampun… mohon maaf ya MU, ngebohong deh…)

Rupanya, bule Bulgaria itu pernah kerja di Stamford Bridge, kandangnya Chelsea dan menjadi fans dari Chelsea, sampai sekarang. Sekalian, dia juga benci sama MU.

Perbincangan dari soal bola berpindah ke kegiatan shooting. Saya pun menceritakan tentang kegiatan yang kami lakukan, dan membutuhkan talent salah seorang bule. Eh…. ternyata dia menyanggupi; walaupun harus terjun lagi ke laut, untuk surfing, melakukan adegan seperti yang kami rancang.

Alhamdulillah… akhirnya shooting bisa dilanjutkan. Bule Bulgaria itu kooperatif banget.

Bagaimana kabarnya dengan bule Aussie itu..? jadi ngga penting deh.. kita biarin aja dia asyik dengan kegiatan surfingnya.

Makasih banyak ya kaos Chelsea…maaf ya MU. I still love you full….

One thought on “Bule Bulgaria dan Kaos Chelsea (asli)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *