Blogger Ngompol

Blogger ngomong politik?

Hmmm… apa bisa?

Karena pekerjaan Blogger adalah menulis sambil online, dengan membaca berita di berbagai website, portal hingga web, dan mendengar ‘obrolan online’ saja sudah bisa menjadi pemicu untuk tetap update dengan berita dan cerita yang terjadi di negara ini.

Blogger Ngompol (Ngomong Politik) adalah catatan tenting seorang blogger yang memposisikan diri sebagai ‘kameramen – pena’ yang memotret kejadian, fenomena, berita dan isu hangat dalam dunia politik dan kehidupan; dan menuliskannya dalam blog secara berkala.

Mulai dari fenomena persiapan pemilu, termasuk tragedi Situ Gintung yang ramai dengan spanduk parpol, hingga pelaksanaan pemilu yang carut marut, gonjang-ganjing kasus korupsi dan tentu saja ribut-ribut adu mulut, adu otot yang terjadi di lembaga yang berisi orang-orang yang ‘terhormat’.

Mengamati apa yang terjadi dan mencernanya dengan kacamata seorang blogger, tentu saja menjadikan buku ini seperti catatan yang menguraikan kisah dibalik berita yang muncul di media dan layar kaca. Dengan bahasa yang mengalir, karena tak ingin menghakimi, hanya membumbui dengan nilai yang mudah-mudahan bisa menyembuhkan.

Berbagai kejadian nyata yang menyentuh, lucu, ironi dan tentu saja memberikan gambaran betapa rendahnya pemahaman masyarakat tentang politik sekaligus betapa minimnya teladan dari para pemimpin nasional. Kesemuanya itu tersaji deng telanjang dan terang benderang di layar kaca, terbaca di media dan menjadi bahan obrolan yang bebas merdeka dibicarakan dimana pun berada.

Ada kisah Kepala Sekolah dan Contreng Kolektif yang dengan naïf menjadi golput administratif, atau kader salah satu partai yang berkolusi menggunakan DPT atas nama orang lain, karena petugasnya ternyata teman dari partainya, baca di Joki Contreng.

Betapa minimnya teladan dari para politisi di tingkat yang lebih tinggi, seperti pada cerita tenting Kutu Busuk, Bangsat dan Wakil Rakyat. Juga yang sangat happening, ketika ada konflik yang bertubi-tubi antar lembaga negara hingga muncul berbagai nama penghuni kebon binatanga, pada Cicak, Buaya, Godzilla, hingga Gurita.

Rakyat kehilangan contoh untuk ditiru dan menjadi penikmat berita tentang perilaku yang apolitis, egoism dan tentu saja berbagai kasus yang melelahkan bahkan untuk dilihat.

Tidak lupa pula mengkritisi tentang kepemimpinan SBY seperti ditulis pada SBY dan Tahu Berhadiah Cabe serta Mellowship, SBY,  Prita Mulyasari dan Luna Maya; serta Kepemimpinan Remote Control pada saat penetapan susunan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Di sela kepenatan rakyat yang kekurangan stok teladan; ada juga yang bisa menyejukkan, seperti Dahlan Iskan yang mengalami near death experience dan melakukan transplantasi hati, seperti yang ditulis dalam Dahlan Iskan: Tranplantasi Hati vs Transplantasi Qalbu.

Buku ini memang berpihak.. ya.. insyaallah berpihak pada perbaikan bangsa yang mengalami sakit di banyak organ tubuhnya. Buku ini bukan untuk menghakimi; hanya mengungkap fakta yang ada, dilihat dengan hati yang terus bekerja dan berharap, bahwa masih ada Indonesia yang lebih baik.

Semoga saja, Blogger Ngompol ini menjadi bagian dari citizen journalism, yang mencatat fenomena, kejadian dan berita dan menangkap isu global sehingga bisa menemukan sari untuk bisa dipraktekkan di lingkungan terdekat.

Terima kasih

Salam Lebah Cerdas untuk Indonesia yang lebih baik

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.