Seperti biasa, malam mingguan, saya ngajak isteri untuk makan di luar. Pilihannya kali ini adalah makan mie di salah satu tempat di Jl Kramat Raya, Semper. Saya dengar dari isteri saya, bahwa dulunya, pemilik kios itu menyewa teras rumah dan memiliki satu gerobak mie ayam saja. Karena ketekunan dan keberuntungan, usahanya makin maju. Kini, ia memiliki kantin yang lumayan luas sekaligus membeli rumah yang dulu disewanya. Jadi, pasti ada yang menarik dari makanannya. Tidak mungkin bisa sesukses itu jika tidak ada sesuatu yang istimewa dari makanan yang dijualnya.

Saya datang ke sana, dan memesan dua porsi. Bakso Super dan Mie Ayam Bakso untuk isteri saya. Hmmm.. memang enak ternyata. Mak Nyossss! Pantes saja orang ngantri makan disitu. Walaupun harganya lumayan mahal untuk kantin pinggir jalan seperti itu. Tak apalah. Itung-itung malam mingguan sama isteri.

Selesai makan, saya yang mengendarai motor, kemudian jalan-jalan ke Jakarta Islamic Center, yang kalau malam minggu memang rame banget. Banyak yang berjualan disana. Mulai dari jualan CD bajakan, pakaian, makanan, sepatu, pokoknya seperti pasar tumpah saja. Saya hanya melihat-lihat saja. Ingin lihat keramaian saja.

Pulangnya saya mampir ke tempat cuci motor steam. Isteri saya cerita lagi. Dulunya, Cuma sepetak kecil saja tempat cuci motornya. Kini sudah luas banget, mungkin 5 kali lipat dari semula. Saya masukan motor ke tempat cuci dan menunggu dengan, mungkin, ada 10 orang yang sama-sama sedang menunggu motornya dicuci. Hmmm, lumayan juga. Satu motor yang dicuci, ongkosnya Rp 7.000, jadi kalau 10 motor, berarti Rp 70.000. Sehari bisa dapat berapa ya?

Padahal bisnisnya khan mencuci kotoran yang menempel di motor. Bahkan, tidak seperti di tempat lain, motornya pun sampai digulingkan, dan bagian bawahnya dibersihkan. Serius betul pekerjaannya. Kemudian kotoran yang ada di sela-sela roda atau bagian yang sulit dijangkau, disikat dengan sikat gigi. Tujuannya membersihkan kotoran. Tapi, dengan profesionalisme, bisnis mencuci kotoran itu kini mendatangkan pendapatan yang lumayan.

Sambil menunggu, saya lihat-lihat ke sekeliling. Rupanya, selain menyediakan jasa cuci motor, pemiliknya juga memiliki kios yang menjual makanan kecil dan peralatan motor. Di bagian depan kios ada spanduk yang bertuliskan Djarum Black dan Djarum Slimz dengan gambar-gambar seperti layaknya iklan di televisi. Saya berpikir, apakah pemasanga spanduk-spanduk yang biasa diberikan oleh perusahaan rokok untuk kios-kios tertentu yang letaknya di pinggir jalan itu ada bayaran tertentu untuk setiap kios itu, ataukah hanya titip pasang spanduk saja?

Pikiran itu hanya terlintas saja. Saya tidak perlu mencari jawabannya. Saya membeli makanan ringan dan memakannya berdua dengan isteri saya. Tak terasa, motor pun selesai dicuci. Sudah kinclong sekarang. Saya pun pulang ke rumah.

Lumayan lah, malam minggu, bisa jalan-jalan sambil ngobrol. Murah meriah dan rame, sambil tentu saja mendapatkan inspirasi dari tukang mie ayam yang awalnya menyewa, kini berkat usahanya yang maju, bahkan bisa membeli rumah yang dulu disewanya. Juga tempat cuci motor yang bisa memiliki tempat 5 kali lipat dari bisnis semula. Semuanya bisa terjadi hanya karena ketekunan dan keberuntungan.

One thought on “Bisnis Nyuci Kotoran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *