Sabtu pagi ini, kereta agak lengang. Dari sekian banyak orang yang ada di kereta itu, tak ada satupun yang saya kenal. Saya adalah manusia statistic di antara demikian banyak orang yang ada di gerbong itu. Saya menjadi bagian dari gerbong itu karena saya adalah satu dari sekian banyak yang menggunakan kereta jam 7.02.

Di pojokan, ada sekelompok orang yang sedang membaca koran. Korannya berbeda-beda. Ada Warta Kota, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia dan Pos Kota. Semuanya melakukan aktivitas yang sama. Beberapa diantara mereka saling bertukar Koran, ketika salah satunya selesai.

Para pembaca koran itu adalah makhluk sosial, yang berkumpul dan melakukan kegiatan yang sama. Tak ada agenda dari kegiatan itu. Hanya melakukan aktivitas yang sama dan ada interaksi diantara mereka.

Di samping saya, duduk di samping ibu-ibu muda yang memangku anak. Di depannya, ada seorang ayah muda—suaminya—yang berdiri, karena walaupun lengang, semua kursi di kereta sudah penuh. Ayah muda ini mengenakan jaket bertuliskan Langleng Community.

Katanya di kereta ini ada sampai 9 bikers community. Ternyata, untuk membentuk komunitas seperti itu, cukup dengan punya kesamaan karena menggunakan kereta sebagai alat transportasi utama. Tak hanya Black Community atau Black Motor Community yang sudah eksis dan sering diliput televisi, tapi di kereta pun komunitas bikers yang eksis. Kegiatannya tak jauh dari jalan-jalan plus mancing atau bertanding futsal dan bulutangkas antar bikers.

Langleng Community ini digagas oleh salah seorang yang berasal dari Bogor, kebetulan bekerja di perusahaan konveksi. Sekalian promosi, sekaligus supaya dapat harga jaket yang murah. Biasanya mereka akan berkumpul di gerbong tertentu. Seperti sabtu ini, banyak yang menggunakan jaket yang sama, selain karena janjian, tentu saja karena hari itu juga hujan.

Langleng itu bahasa Sunda, yang merupakan sebutan untuk rasa yang terasa di kepala ketika pusing. Seperti nyut-nyutan tapi durasinya lebih panjang dan munculnya lebih jarang. Entah kenapa, nama langleng yang jadi identitas komunitas bikers itu; mudah-mudahan bukan karena mereka sering pusing karena masalah ekonomi. Anggotanya ada 200-an orang.

Langleng Community adalah komunitas politis; bukan politis dalam pengertian praktis, tapi karena mereka berkumpul tak sekedar punya aktivitas yang sama, tapi juga menyusun agenda. Paling ngga, mengurangi langleng alias pusingnya terhadap kehidupan berkurang. Setiap bikers community pun punya agenda yang berbeda.

Melewati Depok Lama, ada poster caleg yang mencantumkan dirinya sebagai Pelindung Koperasi Kereta 7.10. Ini rupanya caleg yang punya kepentingan politis supaya mendapat dukungan dari penumpang kereta yang jumlahnya lumayan banyak.

Di atas kereta, ada sekelompok anak yang berseragam sekolah, tertawa-tawa seolah tak merasa ada bahaya. Bisa jadi mereka pun punya komunitas tersendiri, janjian untuk berada di atas atap yang mana, atau mungkin saja, janjian mengenakan jenis baju tertentu.
Semuanya karena memiliki aktivitas yang sama, duduk di atas kereta, entah karena hobi atau memang tak punya karcis kereta.

Rupanya kesamaan waktu berangkat, kesamaan menempati gerbong tertentu, bisa jadi alasan untuk membentuk komunitas. Kadang kegiatannya tak jelas, hanya sekedar berkumpul, dan tentu saja punya identitas baru. Memang, menjadi bagian dari komunitas sepertinya sudah jadi kebutuhan seseorang sebagai manusia social. Pilihan bergabung dengan komunitas mana, itulah yang membedakan selera satu orang dengan orang lainnya.

Saya, belum tertarik bergabung dengan komunitas tertentu dalam kereta api ini. Mungkin kalau suatu saat ada blogger yang punya jadwal yang sama, siapa tahu bisa saling berbagi cerita tentang pengalaman mereka di kereta api dengan segala pernik ceritanya. Kalau orang-orang yang punya kesamaan motor atau jadwal kerja itu bisa membangun komunitas yang akhirnya membuat mereka satu dengan yang lain merasa sebagai bagian, kenapa tidak dengan para blogger yang juga punya kesamaan sebagai ‘duta pena di dunia maya’?

Kereta api bukan lagi sekedar alat transportasi. Ada kehidupan disana, ada dinamika di dalamnya. Jika kita peka, kereta api seperti laboratorium kehidupan yang bisa memberikan tamsil tentang begitu banyak hal untuk menjalani hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *