Sejak ngeblog di blogdetik, saya berusaha untuk konsisten nge-blog, mungkin baru konsisten dari sisi kuantitas, jumlah tulisan. Berusaha untuk menulis satu artikel setiap hari. Hasilnya, dalam 4 bulan ini alhamdulillah, jumlah tulisan melebihi jumlah hari dalam setiap bulan. Tapi, konsistensinya baru dari sisi kuantitas, jumlah tulisan, belum sampai sisi kualitas tulisan.

Malam kemarin, saya membaca kembali komentar-komentar di tulisan saya. Utamanya di http://lebahcerdas.blogdetik.com/2009/02/13/perempuan-berkalung-sorban-dan-kritikus-bersorban/. Ada yang positif ada yang negatif.  Ada beberapa komentar yang to the point ngga setuju, ada yang merendahkan, mengkritik sangat tajam, ada juga yang positif, menghargai tulisan yang memang murni dari perspektif saya.

Memikirikan komentar-komentar sekaligus kritik yang negatif, membuat saya hampir tidak mau lagi menulis hal yang berkaitan dengan perspektif pribadi yang mungkin tidak menyenangkan buat beberapa orang. Hampir mutung, hampir saja komentar-komentar itu tidak saya ijinkan atau saya hapus supaya tidak muncul di blog saya.

Kemudian saya membaca buku Edward deBono, judulnya Textbook of Wisdom, tentang bagaimana menjadi berpikir bijak. Ya, bijak itu bisa jadi sebuah cara berpikir.

Edward deBono membedakan dengan sangat jelas tentang kepintaran dan kebijakan.

– Bahwa pintar adalah memahami dunia dari perspektif pribadi, sudut pandang pribadi.

– Bahwa bijak adalah memahami dunia dari perspektif banyak orang, sudut pandang banyak orang, kepintaran banyak orang.

Oke.. saya menemukan pencerahan, dan membaca kembali komentar dan kritik yang pedas, memojokkan, negatif itu sebagai bagian dari perspektif orang lain. Saya tidak mau membela diri lagi dengan perspektif saya sendiri. Salah satu komentar mengatakan saya sok pintar. Hmm, mungkin benar. Tapi, pintar itu memang salah satu cara pandang. Jadi sah-sah saja menjadi pintar. Jadi masalah ketika ditambah sok… artinya, kepintaran pribadi tidak terbuka terhadap kepintaran orang lain, makanya ‘dituduh’ sok pintar.

Saya tidak merasa pintar, saya hanya merasa punya sudut pandang dan menuliskannya di blog ini.

Sekarang, setiap membaca komentar yang rasanya menusuk, negatif, saya anggap saja itu bentuk kepintaran sang kritikus yang memang spesialis melihat hal-hal negatif pada diri orang lain. Itu butuh kepintaran juga. Saya hargai itu, tapi tentu saja tidak akan menghentikan saya untuk terus menulis. Sama dengan tidak berhentinya beberapa blogger yang memberi komentar negatif sebagai sebuah keahlian dan kepintaran.

Yang perlu diingat, tentu saja bahwa kita semua sedang belajar. Belajar untuk menjadi lebih baik, lebih bijak dan lebih menghargai.

Coba lihat surat kabar hari ini, anggota Dewan yang terhormat saja tidak berpikir bijak menerima kritik dari Pertamina, makanya rapat kedua lembaga di Indonesia itu pun ditunda. Oleh karena itu, mungkin berpikir bijak ini harus jadi kebiasaan di setiap sendi kehidupan.

Saya juga sedang berusaha untuk memiliki keahlian berpikir bijak ini. Silahkan saja memberi komentar, mau yang positif, negatif, cuma mampir. Saya sekarang membuka hati untuk menerimanya. Terima kasih untuk waktu dan komentarnya. Selama niat baik, kritik negatif pun bisa menyehatkan. Kecuali niatnya memang sudah tidak baik.

Semoga bangsa ini menjadikan berpikir bijak sebagai salah satu cara menanggapi kritik. Saya sedang berusaha keras menuju ke arah sana. 

One thought on “Berpikir Bijak dari Kritik

  1. wah.. kalimat itu..

    <blockquote- Bahwa pintar adalah memahami dunia dari perspektif pribadi, sudut pandang pribadi.

    – Bahwa bijak adalah memahami dunia dari perspektif banyak orang, sudut pandang banyak orang, kepintaran banyak orang

    thanks bro..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *