Setiap pagi, jika Anda naik kereta ekonomi jam 06.30, maka, biasanya kereta tiba jam 06.20. Kereta berhenti di jalur 4 atau jalur 7. Penumpang dari arah Bogor yang sudah berdiri berjajar, siap sedia ‘menyerbu’ masuk kereta.

Kereta masih jalan pun, banyak penumpang yang sudah berusaha masuk. Sementara, penumpang yang didalam, berebutan juga keluar. Kalau kereta pagi seperti ini, biasanya banyak penumpang dari kalangan siswa SMP atau SMA. Rutin, setiap pagi, saya dengar teriakan mereka,

“Hei…yang keluar dulu dong..gimana sih..tua-tua ngga pada tahu diri….” begitu, suara para ABG itu ‘ngomel’ setiap akan keluar kereta.

Tapi, teriakan itu tertelan oleh desakan penumpang yang akan masuk. Desak-desakan pun terjadi di pintu masuk.

Saya biasanya nunggu orang turun dulu, baru saya naik. Alhasil, saya kemungkinan ngga dapet tempat duduk. Oh, rupanya itu salah satu alasan utama, kenapa orang bela-belain berdesakan masuk, sementara ada yang mau turun dan keluar dari kereta. Mereka kadang nyikut, dorong, injak, berteriak, mengumpat…pokoknya segala cara dilakukan supaya bisa masuk dan mendapat tempat duduk di kereta.

Setelah semua turun, saya masuk dan tentu saja tidak mendapat tempat duduk. Saya baca koran Media Indonesia, karena harganya Rp 1000; dan membaca editorialnya yang menceritakan tentang pertemuan SBY-JK dan ulasan tentang bagaimana para caleg akan ‘melupakan’ sejenak nasib rakyat, ketika mereka kampanye untuk menduduki kursi di parlemen.

Saya berpikir, mungkin kelas dan caranya saja yang berbeda, antara penumpang yang desak-desakan, sikut-sikutan, dll untuk mendapat kursi di kereta; dengan para caleg itu yang bisa jadi, juga menghalalkan banyak cara, menyikut, mengumpat lawan politiknya, menginjak, dll; dengan alasan yang sama, yaitu untuk mendapatkan kursi.

Kita memang hidup diantara bangsa yang tak sempurna; tapi ketidaksempurnaan itu seringkali menjadi pembenaran dari tindakan yang seharusnya bisa lebih baik. Mendapat kursi itu bisa jadi baik, asal jangan jadi alasan dan pembenaran terhadap cara-cara yang seringkali merugikan banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *