Siang ini saya mulai ‘kerja’, bertemu dengan tokoh yang akan saya tuliskan pemikirannya.

Naik kereta Express AC, dikira lengang, tahunya cukup sesak. Melanjutkan dengan busway. Sesak juga di antrian. Tapi, di satu pintu, ternyata, tak sesak antriannya; hanya 2 orang saja, dengan penampakan yang sama, yaitu hamil. Saya lihat di pintu mau masuk busway itu ditempel tulisan:

KHUSUS IBU HAMIL

Hmmmmm, lumayan juga manajemennya. Menghormati ibu hamil yang tak mungkin antri berdesakan. Saya melanjutkan perjalanan, bergabung dengan sesaknya antrian. Lumayan panjang dan berkerumum, tak jelas arahnya.

Tadinya saya mau membeli minuman, karena haus juga dari Bogor. Di busway, ada mesin untuk membeli soft drink. Saya mendekat, ternyata di kaca depannya ada tulisan…

TIDAK JUALAN
TEKNISINYA PULANG KAMPUNG 1 BLN

Hehehehe… inilah kalau tergantung sama satu orang, tidak ada suksesi.

Jadilah saya yang kehausan ikut bergabung ke antrian. Cukup lama menunggu, barulah ada busway Kota-Blok M yang datang. Sebelum berhenti normal di antrian yang sesak, busway itu berhenti tepat di depan antrian 2 ibu hamil tadi. Mereka masuk ke busway dengan tenang.

Karena tak ada petugas jaga, entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja, beberapa lelaki, yang jelas bapak-bapak, ikutan masuk ke jalur ibu hamil itu. Udah jelas, mereka bapak dan pastinya tidak hamil.

Tanpa rasa malu, mereka duduk di dalam bis. Mungkin 5-6 orang. Salah satunya saya ingat mengenakan batik.

Tiba-tiba pula, ada penumpang lain yang berbicara ke petugas, mungkin menyampaikan komplain tentang ‘nyalip’nya bapak-bapak yang berlagak hamil tadi.

Petugas itu masuk dan menegur satu per satu bapak yang didalam bis. Beberapa keluar, satu orang di dalam, suami salah satu ibu hamil tadi sepertinya.

Bapak-bapak ‘hamil’ tadi keluar bis diikuti sorakan para pengantri. Saya sih ikutan lihat saja, tak sampai menyoraki.

Saya tenggelam lagi mendengarkan lagu-lagu dari iPod di telinga; lagu-lagunya Connie Talbot, penyanyi cilik fenomenal pemenang British Got Talent Contest.

Tiba-tiba, ada seorang bapak yang menyalip saya. Saya lihat dan perhatikan. Bapak itu mengenakan batik, sama dengan bapak yang tadi berlagak hamil. Bapak itu terus merangsek ke depan antrian. selip sana selip sini.

Saya jadi ingat tanggal 2 Oktober, ketika batik akan ‘dikukuhkan’ oleh PBB sebagai kekayaan budaya Indonesia. Tapi, kalau yang pakai batiknya seperti bapak selip-selip itu, bagaimana ya? Batik khan budaya Indonesia, bapak yang tadi orang Indonesia yang memakai batik…. tapi tak mencerminkan budaya yang baik… jadi malu melihatnya….

Batik itu jadi kemasan saja rupanya, mungkin sama dengan baju koko yang dipakai seseorang yang ternyata copet, mungkin sama dengan seseorang yang ‘mengenakan jabatan terhormat’ sebagai pakaiannya, tapi perilakunya cacat.

Bapak tadi masuk dalam bis yang sama dengan saya. Saya berdiri, dan bapak berbatik itu duduk. Kemudian masuk seorang ibu yang cukup tua dan menggendong anaknya, berdiri persis di depan bapak berbatik tadi. Tak ada reaksi. Diam. Tak bergerak karena mungkin hatinya tak bergerak.

Saya hanya memperhatikan saja. Miris.

Rasanya, mengakui batik sebagai bagian dari budaya Indonesia adalah satu hal, tapi ‘mengenakan budaya Indonesia’ yang tertib, baik, mengutamakan orang lain, respek dengan aturan adalah hal yang lain lagi.

Pakaian itu jadinya seperti tempat menyamar dan bersembunyi. Utamanya pakaian kekuasaan. Lihat saja ketika di Jakarta memberi sedekah kepada orang-orang tertentu dilarang, akan tetapi pimpinan tertinggi di Jakarta malah berbagi yang menimbulkan kericuhan.

Ah… rupanya saya harus bekerja keras mencintai negeri ini, mencintai dengan segala ketidaksempurnaannya dan berharap orang-orang yang bersembunyi di balik ‘pakaian-pakaian’ yang kelihatan baik itu punah ditelan oleh kebaikan sesungguhnya.

Mungkin Allah masih sayang kepada mereka, dan membuat mereka kelihatan baik, bukan semata karena mereka baik, tapi karena Allah tak membuka aib yang sesunguhnya mereka miliki.

One thought on “Bapak Ber-batik yang Berlagak Hamil

  1. Betul itu, kita memang harus bersyukur karena Allah masih menutupi aib-aib kita dan membiarkan kita bebas dengan topeng kita. Makanya sebelum Allah membuka dan menampakkan siapa kita sebenarnya, jadilah kita seperti topeng baik yang tampak dari luar itu. sehingga topeng itu bukan lagi topeng tapi kita yang sesungguhnya. Capek juga sih berpura-pura terus (jaim) makanya jadilah sesuai dengan yang sebenarnya Allah suruh kepada kita dan dicontohkan oleh Teladan kita Nabi Muhammad SAW. gak akan cape lagi deh, soalnya mau ada yang lihat kek, di tempat sepi atau ramai kita memang seperti itu adanya. Insya Allah saya pun sedang berusaha untuk menerapkan konsep ibadah yang sebenarnya, yang ikhlas dan benar sesuai syariat. Seperti kata Ibnu Taymiyah Ibadah yang diperintahkan Allah itu adalah sesungguhnya menggabungkan antara ketaatan yang sempurna dan kecintaan yang penuh. Soalnya buah atau hasil dari melakukan ibadah yang benar itu hemm manis dan lezat sekali rasanya. Selamat berusaha…dan memetik buahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *