Pemilu 2004 diikuti oleh 24 partai politik. Kini, jumlahnya membengkak 45%, menjadi 44 partai politik. Kertas suara pun makin membesar. Tak cukup digelar di meja kecil, butuh waktu 2 menitan untuk membuka, mencontreng dan melipat kembali (itu tanpa berpikir siapa yang akan dipilih).

Pemilu kini memang membuka pintu rezeki bagi banyak pihak. Pengusaha sablon, tukang asongan, pengusaha digital printing, pengusaha foto, pokoknya banyak masyarakat yang diuntungkan dengan adanya kampanye. Pesta demokrasi yang diadakan 5 tahun sekali ini, memang menyedot perhatian banyak pihak.

Partai politik dan para caleg akan berusaha maksimal menarik perhatian massa. Dengan kampanye yang memukau, mendatangkan artis-artis yang bisa menghibur masyarakat. Sesungguhnya, beberapa gelintir masyarakat menganggap pawai kampanye tak ubahnya hiburan pawai yang lainnya, yang berujung pada kemacetan. Lumayan untuk mengisi hari. Makanya, tak salah, pawai itupun bisa jadi pintu rezeki untuk beberapa orang yang punya waktu banyak, sehingga bisa mengikuti pawai kampanye, baik ikut di satu partai atau di beberapa partai. Tak salah, jika di rumahnya, orang-orang seperti ini memiliki kaos dan bendera lebih dari satu partai.

Banyak partai, banyak rezeki, bagi para pengusaha yang terkait dengan atribut kampanye. Akan tetapi, rezeki sesaat itu bisa jadi petaka ketika, di akhir pemilu, yang terpilih adalah para wakil rakyat yang tak mewakili dirinya sendiri alias sibuk mengejar kepentingan diri dan golongannya. Makanya, bisa jadi rezeki sesaat ini berujung pada nestapa selama 5 tahun ke depan.

Oleh karena itu, akumulasi dari pengetahuan rakyat tentang cara memilih, pengenalan terhadap calon dan waktu-waktu kritis yang sering dimanfaatkan caleg dengan ‘serangan fajar’ akan berdampak pada kualitas wakil rakyat yang terpilih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *