Jum’at, 2 Februari 2007.

Pagi-pagi buta saya sudah pamitan sama isteri. Hujan semalam sangat lebat. Naya, puteri saya masih tidur, nyenyak. Saya mengenakan celana selutut dan sandal jepit. Karena di luar air menggenangi jalan, setumit. Tas ransel saya gendong di punggung. Berat, karena di dalamnya ada laptop dan sepatu. Saya berjalan beberapa ratus meter. Saat itu jam 03.00, masih pagi buta. Sepi. Jalan tergenang air, di beberapa bagian, airnya deras. Mobil tidak ada. Taksi pun tidak ada. Padahal saya sudah memesan taksi Blue Bird. Mereka bilang, tidak bisa mengirim armada karena jalanan tergenang air.Saya mencari taksi. Melintas sebuah taksi warna biru, tapi bukan Blue Bird. Lewat begitu saja, menyisakan air yang mendera kaki, tidak sampai celana.Kembali mencari taksi, kini taksi warna krem. Saya yang bersendal jepit, celana selutut dan muka yang belum mandi, melongok ke supir taksi.

“Bandara Pak…” kata saya, sambil curiga. Maklum sepagi buta ini, apa pun bisa terjadi. Curiga perlu dong…

“Ngga De…” Kata supir taksi.

Kayanya dia curiga juga dan ngga yakin kalau saya punya tampang seperti seseorang yang akan pergi ke bandara.Hehehehe, sama-sama curiga. Saya curiga kalau supir taksinya punya niat jahat. Supir taksi juga curiga kalau saya punya niat jahat. Pandang-pandanganlah kita dengan saling curiga. Tidak ada transaksi.

Taksi berikut akhirnya menggembirakan saya, karena dia mau mengantar saya ke bandara. Aman. Saya langsung SMS ke Syahid, manajernya Helmy Yahya, bahwa sedang menuju ke bandara. Dimana-mana jalan memang mulai kebanjiran. Taksi berjalan seperti speed boat yang membelah air. Saya sampai bandara jam 05.00. Langsung shalat subuh.

Penerbangan 06.10, pesawat Mandala Air menuju Malang.

Di pesawat, saya, Syahid dan Helmy Yahya ngobrolin tentang acara seminar yang diadakan di Batu, Malang. Utamanya materi yang akan disampaikan.

Jam 8 kurang, kami tiba di Bandara Ahmad Yani, Malang. Bandaranya kecil, orang-orang yang menyambut kelihatan di balik pagar kawat. Seperti di terminal bis. Kita masuk dan seperti biasanya orang kampung, kalau habis naik pesawat, saya pasti pengen pipis.

Saya tanya petugas bandara…

“Toilet dimana Pak?”

“Deket genset, di belakang…!” katanya.Oh… ternyata, tempat pipisnya di belakang. Saya menuju ke belakang, di deket genset ada tolitet, di dalamnya ada bak besar berisi air dilengkapi dengan dua buah gayung. Dipikir-pikir ini bandara apa musholla…?

Menuju ke lokasi…

Kita berangkat menuju lokasi dalam suasana mendung. Panitia yang menjemput bertanya banyak tentang kondisi Jakarta yang di beberapa tempat kebanjiran. Memang beritanya mulai ramai di surat kabar dan televisi.

Acara seminar berlangsung lancar.

Malam, kita rencanya akan menggunakan pesawat Mandala Air dari Bandara Malang, untuk pulang ke Jakarta. Akan tetapi karena kondisi cuaca yang buruk, maka kita dipindahkan ke Bandara Juanda, Surabaya, untuk penerbangan besoknya, tanggal 3 Februari.

Berangkatlah kita ke Surabaya, melewati ‘jalan tikus’, karena jalan biasa akan melewati lumpur Lapindo. Bisa macet lumayan lama. Hanya 1 jam, kita sampai di Surabaya dan langsung mencari hotel dekat bandara. Harga hotel Rp 200.000 semalam satu kamar.

“Murah banget..” kata Helmy Yahya.

Kita menuju kamar, dipersilahkan room boy. Membuka pintu kamar, dan sesuai standar orang beradab, Helmy Yahya langsung melihat kamar mandi, sebagai ukuran bagus tidaknya sebuah kamar hotel.. dan apa yang ditemukan di kamar mandi? KECOA….!

“Pantesan murah Ban…. Pake kecoa…!” kata Helmy Yahya sambil nyengir.

Apa boleh buat, malam itu, setelah mengusir kecoa, kami bisa tidur sebentar.

Besok pagi, jam 06.10 pesawat Garuda menerbangkan kami ke Jakarta. Saya tidur sepanjang perjalanan.Jam 07.30 pesawat sampai Jakarta. Dan ketika keluar bandara, hujan sudah berhenti, banyak orang di bandara.

Banjir besar melanda Jakarta. Helmy Yahya tidak dijemput Mas Jum, supirnya dan memilih naik bis Damri, karena kendaraan pribadi tidak bisa masuk bandara, ada banjir besar yang menggenangi jalan tol menuju bandara. Syahid memilih jalan memutar menuju Tangerang, karena rumahnya di Blok M.

Saya? Ya naik bis Damri menuju Rawamangun dengan harapan bisa berhenti di Plumpang. Oh ya, harusnya hari ini saya datang ke pernikahannya Sahrul Gunawan. Saya SMS saja karena tidak bisa datang. Pasti banyak orang juga yang tidak bisa datang sepertinya. Kapan-kapan, kalau mau ngadain pernikahan di Jakarta, mesti kerjasama dengan Badan Meteorologi dan Geofisika sepertinya.

Bis Damri datang, penumpang penuh sesak, saya naik. Di dalam orang-orang ngomongin tentang besarnya hujan dan banjir yang terjadi dimana-mana. Ada orang yang akhirnya naik bis Damri dengan penjemputnya, karena mobil jemputannya adalah mobil sedan, dan sekarang sedang diderek, karena terjebak di jalan tol.

Di Plumpang, masih di tol, melewati fly over, saya melihat ke bawah seperti melihat danau. Plumpang butuh pelampung sepertinya.Bis merayap—mengendap tepatnya—karena padatnya lalu lintas. Saya berhenti di tengah jalan tol karena melihat ada motor ojek naik ke jalan tol.

“Bang… ke Semper ya, lewat Pasar Ular” kata saya

“20 ribu…Lewatnya Islamic aja, banjir di Pasar Ular…” kata tukang ojek.

Mahal bener.

Tapi, kapan lagi naik ojek lewat jalan tol.Saya melintasi jalan tol dengan ojek, menyeberangi ‘danau buatan’ karena banjir dan tiba di rumah dengan basah kuyup.Isteri saya menyambut di depan rumah yang sudah digenangi air, sedikit di bawah lutut. Naya digendongannya dan matanya berbinar, mencari ikan katanya… karena bagi Naya, air yang tergenang itu pasti ada hubungannya sama ikan.

Saya tersenyum, mencium kening isteri dan pipi Naya. Kerja bakti membuang air tergenang dari dalam rumah pun dimulai. Naya tetap gembira dan matanya berbinar mencari ikan.

One thought on “Banjir Jakarta dan Saling Curiga…

  1. Blognya bagus, Pak Baban. Nggak semua orang bisa menulis dengan gaya bercerita yang alurnya lancar mengalir begini. Sedikit masukan aja, penggunaan kata “kita” masih salah, seharusnya “kami”. Karena pembaca tidak involved dalam kisah itu tho?

    😉

  2. banjir sih udah kepastian… strategi ngadepinnya yang harus disusun. Saya tahun depan kemungkinan ngga kena banjir, soalnya melipir ke Bogor…yang ngirim banjir, hehehehe. thanks atas kujungannya

  3. Banjir mah “kudu” terjadi di jakarta, n sebagian besar justru karena kondisi jakarta sendiri (al. tinggi muka tanah yg semakin turun relatif thd muka air laut).
    Jadi, saya sbg pencari rupiah di jakarta akan selalu siap untuk mengayuh wahana apung jika “saatnya tiba”… banjirrr…

    : )

  4. setuju… but, kayanya kita harus ngeliat Belanda juga ya… kondisinya di bawah permukaan laut, tapi ngga banjir tuh.., padahal bendungannya dibangun dari kekayaan negara kita. Apa gubernur di Belanda kita kontrak aja untuk 1 periode pemerintahan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *