Seperti biasa, pagi hari di kereta api ekspress..

Duduk dan menggelar koran ‘CENGPAR’ aliasa SeCENG NgamPAR; harian nasional yang harganya seribu, sebagian dibaca, sebagian lagi dipakai sebagai alas duduk di lantar kereta.

Beda-beda bagian alas yang dipakai alas duduknya. Ambillah contoh, jika koran yang dibaca adalah koran yang memuat informasi tentang lelang nasional. Bagi saya, bagian yang dipakai untuk alas duduk adalah bagian lelang; yang memang tidak ada bahan untuk dibaca sebagai sebuah berita. Saya tak berkepentingan dengan informasi lelang tersebut.

Akan tetapi, saya jadi ingat ketika bergabung dalam Sekolah Demokrasi Indonesia, ada kawan saya yang menjadi informan bagi temannya yang lain, yang kebetulan mendapatkan koran tersebut agak sore, padahal dia berkepentingan dengan informasi lelang tersebut. Bagi dia, halaman itu menjadi maha penting dan tak akan dipakai sebagai alas duduk.

Bagi yang lain juga berbeda alas duduk yang dipakainya. Tapi, sampai saat ini, jarang saya lihat, yang digunakan alas duduk adalah covernya. Karena, biasanya di bagian cover itulah, identitas koran itu terlihat; yang kadang menjadi tujuan utama dari pembaca untuk melihat. Sekaligus, bagian mana yang dipakai sebagai alas duduk; juga bisa membedakan identitas si pembaca.

Nah…

Ketika saya membaca itulah, saya menerawang ke depan dan mata saya tertuju pada seseorang yang sedang membaca sebuah buku. Mungkin biasa, ketika seseorang membaca buku di kereta.

Kali ini menjadi tidak biasa, karena orang itu masih muda, mengenakan kaos, berjenggot lumayan lebat dan di tangan kirinya, ada sebuah buku berjudul “Bangga Dengan Jenggot” sementara tangan kanannya mengelus-elus jenggotnya…

Lucu juga saya pikir. Orang berjenggot baca buku “Bangga Dengan Jenggot”.

Apakah itu penegasan, promosi, atau apa? Tak penting bagi saya. Cukup senang dengan orang yang masih punya minat baca tinggi. Walaupun saya juga tak tahu, apakah itu jenggot ideologis ataukah jenggot stylist?

Orang berjenggot adalah identitas–apalagi jika jenggotnya ideologis, karena mengikuti sunnah Rasul atau karena pemahaman terhadap sebuah konsep tertentu. Membaca buku “Bangga Dengan Jenggot” pun identitas; menegaskan bahwa ia memiliki jenggot karena ideologis.

Hmmmmm…..

Saya melanjutkan kembali bacaan saya. Tenggelam dengan lamunan saya, tentang gagasan-gagasan tulisan. Saya mengeluarkan diary kecil dan mulai membuat mind-mapping. Bisa jadi ada orang yang melihat, mengamati dan kemudian mengambil kesimpulan setelah melihat saya, di kereta dan menulis di catatan kecil. Mungkin mereka menduga saya adalah tukang kredit yang sedang menghitung jumlah klien yang harus saya tagih hari ini…

Hehehehe….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *