Baban Sarbana

Social Business Coach

Baduy Pasti Tak Berlalu

Tiba di Ciboleger jam 10 malam. Perjalanan yang lumayan jauh, setelah sehari sebelumnya shooting di Pantai Sawarna.

Terminal Ciobleger, yang menjadi pintu masuk ke perkampungan Baduy luar, di malam itu, saat bulan puasa, sudah sepi dari kendaraan, tapi masih ramai oleh beberapa anak muda yang nongkrong, ada yang sekedar ngobrol, nyanyi-nyanyi dan beberapa orang bermain bola.

Kang Aad, yang menemani kami selama shooting di Banten ini, segera menemui Jaro alias Kepala Desa Bojong Menteng. Cukup lama juga kami menunggu kang Aad muncul kembali untuk memberikan kabar, apakah kami diterima oleh Jaro atau tidak.

Kang Aad muncul ditemani beberapa anak muda, bukan orang Baduy.
“Pak.. maaf, Jaro-nya sudah tidur, jadi baru bisa ditemui besok pagi saja” kata salah seorang dari mereka.
“Sementara, bisa langsung ke Kang Omo di Rumah Singgah Baduy” lanjutnya.

Kami pun bergegas membawa perlengkapan shooting ke Rumah Singgah Baduy, yang lokasinya tidak jauh, tapi jalannya menanjak.

Rumah Singgah Baduy yang dikelola oleh Kang Omo, ukurannya lumayan besar. Ruang tengahnya sangat lapang. Kami pun berbincang di ruang tengah itu. Saya, yang kebagian tugas sebagai kreatif, mulai banyak bertanya tentang kondisi perkampungan Baduy.

Rencananya kami akan mengekspos penangkap lebah, yang kalau disana, dikenal dengan jenis Odeng. Tapi, karena lebah itu adanya di Baduy Dalam yang harus ditempuh dengan berjalan kaki selama hampir 5 jam, itupun sudah pasti banyak melewati bukit, kami mengurungkan niat, karena tak cukup waktunya, mengingat malam ini juga kami harus berangkat lagi ke lokasi lain.

Dicarilah view lain dari kehidupan orang Baduy. Dan memang, Baduy Dalam yang berada di ujung perkampungan ini, tak pernah terjamah oleh dokumentasi foto maupun film, sehingga tak mungkin kami melakukan shooting disana. Padahal, kehidupan mereka sangat menarik.

Kang Omo pun menyarankan untuk mengekspos kehidupan Baduy Luar yang tak kalah menariknya. Perbincangan mengarah pada bagaimana orang Baduy hidup bersahabat dengan alam. Mereka mengenal pepatah:

DI GUNUNG AYA MEONGNA, DI LEBAK AYA BADAKNA, DI KAMPUNG AYA KOLOTNA, DI LEUWEUNG AYA NU NUNGGUANNA…

(Di gunung ada haimaunya, di rawa ada badaknya, di kampung ada tetua-nya, di hutan ada penunggunya).

Sehingga, setiap berinteraksi dengan alam, pasti ada ritual do’a atau apapun bentuknya, yang menunjukkan bagaimana mereka menaruh respek pada alam dan alam pun akan memberikan respek juga kepada manusia.

Baduy Luar dan Baduy Dalam memang memiliki perbedaan. Di Baduy Dalam, membangun rumah saja, tak diperbolehkan menggunakan paku, jadi rumahnya murni dibangun oleh bahan-bahan dari alam langsung. Penerangan pun tak ada yang menggunakan minyak tanah, mereka menggunakan minyak sayur dan damar, asli buatan sendiri.

Baduy Luar pakaiannya hitam-hitam dengan ikat kepala biru; sedangkan Baduy Dalam pakaiannya putih dengan ikat kepala putih.

Karena saat itu sedang musim durian, maka fokus perbincangan pun diarahkan ke panen durian yang dilakukan oleh Baduy Luar.

Biasanya mereka mengambil buah durian dan menjualnya di pasar, langsung. Ada juga yang diserahkan ke pengumpul, untuk kemudian dijual oleh mereka. Jangan heran, ketika memasuki kampung Baduy Luar, ada anak-anak kecil yang membawa pikulan yang di kedua ujungnya ada kantung karung bertali plastik yang membawa 20-an durian.

Ketika ditanya, akan dibawa kemana durian itu, mereka akan menjawab;

“Saya diupah membawa durian ini, Rp 5.000”.

Jadi, mereka membawa 20 durian, berjalan turun naik bukit selama 30 menit, untuk diserahkan ke pengumpul dan hanya mendapatkan upah Rp 5.000.

Mungkin saja, materi bagi mereka bukan segalanya, karena mereka bersahabat dengan alam dan mendapatkan kebutuhan mereka dari alam. Alam bisa memenuhi apa yang mereka butuhkan untuk hidup.

Mereka pun tak sekolah, karena pendidikan hampir semuanya berasal dari orang tua. Orang tua Baduy adalah teladan yang memberikan ilmu kepada anak-anaknya. Sekolah bagi mereka tak selalu terkait dengan pendidikan. Walaupun demikian, ada beberapa orang Baduy yang sudah bisa membaca, tak melalui sekolah, tapi melalui pembelajaran otodidak. Mereka belajar membaca melalui bungkus rokok atau apapun yang ada tulisannya.

Bahkan, ada seorang Baduy yang dibuatkan kartu nama, tanpa nomor handphone, tapi dengan alamat website-nya. WWW.YAHOO.COM. Dia tidak tahu, kalau www.yahoo.com itu adalah portal.

Prinsip mereka,

WALAUPUN TIDAK BERSEKOLAH, TAPI KAMI HARUS PUNYA ILMU

Perbincangan berlangsung hingga dini hari, kemudian kami istirahat sejenak, sebelum sahur dan melanjutkan shooting di pagi hari. Kami sudah sepakat untuk mengangkat kehidupan Baduy Luar, dari bagaimana anak-anak mereka berinteraksi, orang tua mendidik anak dan juga bagaimana mereka memperlakukan alam yang indah itu.

Shooting esok harinya menjadi sangat menyenangkan, karena kelelahan dalam perjalanan tergantikan oleh tingkah polah anak-anak Baduy Luar yang energik dan selalu ceria. Di wajah polos mereka, tampak keramahan, seperti melihat cermin fitrah saja. Mata pun terobati dengan keindahan alam yang tak dikotori oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Ketika kami akan membuat mainan TOKDAL (Diketrok Ngabedal alias Dipukul Melenting), permainan yang membutuhkan 2 buah kayu, satu berukuran 50 cm, satu lagi 10 cm, anak-anak Baduy memilih untuk mencari hingga jauh ke dalam, daripada memotong kayu yang masih berupa tanaman; walaupun itu di pinggir jalan atau semak-semak.

“NTONG PAKE KAYU NU ETA, AYA NU BOGANA (Jangan pake kayu itu, ada yang punya)” kata anak Baduy.

Shooting berhenti di Kampung Gazebo, yang di tengahnya dialiri sungai yang masih jernih. Di sekitar jembatan itu, nampak rumah penduduk Baduy Luar, yang terbuat dari bilik beratap daun aren. Karena sering di datangi pengunjung, di dekat jembatan bambu, di salah satu rumah, ada sebuah warung, yang menyediakan makanan dan minuman ringan.

Proses shooting menjadi sangat menyenangkan, rasanya menyenangkan menjadi bagian dari sebuah budaya yang kuat, mengakar dan memiliki prinsip untuk menaruh respek pada alam seperti ini. Hidup jadi damai dan indah; dan semuanya tercermin dari wajah-wajah yang mereka tampilkan. Tak ada gurat stress dan lelah, walaupun harus menempuh perjalanan naik turun bukit dan memikul beban durian atau kayu bakar cukup banyak.

Beban fisik mereka tak terasa, mungkin karena beban hidupnya yang ringan. Hidup mengalir seperti sungai yang mengalir jernih di bawah jembatan bambu Kampung Gazebo.

Jam 16.30, shooting selesai, dan kami kembali ke Rumah Singgah. Perjuangan selama menempuh perjalanan pun dimulai kembali, karena kami harus melalui rute yang sama, salah satunya menempuh tanjakan dengan kemiringan 50 derajat, sepanjang 1 km; ditambah lagi dengan hujan yang cukup deras.

Oleh orang Baduy, jarak Kampung Gazebo ke Rumah Singgah biasanya ditempuh dalam waktu 20 menit. Kami menempuhnya hampir 1 jam.

Sampai di Rumah Singgah, kami melepas lelah; setelah itu melanjutkan satu scene terakhir di Rumah Singgah.

Kami beruntung sekali, karena saat itu ada Ayah Mursyid, orang Baduy Dalam yang baru saja tiba dari Pandeglang. Mengenakan pakaian putih, dengan ikat kepala putih, Ayah Mursyid baru saja menempuh perjalan berjalan kaki selama 2 hari dari Pandeglang. Orang Baduy memang tak diperbolehkan mengenakan alas kaki dan menaiki kendaraan. Itu pelanggaran, dan setiap pelanggaran pasti diketahui tetua Baduy, entah bagaimana caranya. Mungkin karena persahabatan yang erat dengan alam, maka apa pun yang terjadi dan dimanapun terjadinya, mereka bisa berkomunikasi dengan alam.

Saya menghabiskan waktu lumayan banyak dengan Ayah Mursyid, belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang buat saya sungguh luar biasa. Ketika membuka laptop dan mengupload foto, Ayah Mursyid melihat buku-buku yang saya tulis, dan menanyakan profesi saya..

Jelas saja saya katakan, kalau saya penulis. Dan ajaib (buat saya), ternyata Ayah Mursyid ternyata sedang menyusun buku berujud “Baduy Bicara”, sudah dia susun, bekerja sama dengan seorang guru SMP; selama 8 tahun penyusunannya; dan sudah 75% selesai.

Wah… luar biasa, ada orang Baduy Dalam yang berinisiatif untuk menuliskan kehidupan mereka sendiri, bukan orang luar yang menulis tentang kehidupan mereka.

Segera saja, saya menawarkan bantuan untuk mengedit, menuliskan ulang, menguhubungkan dengan penerbit, pokoknya apa pun yang bisa saya lakukan untuk membantu Ayah Mursyid mewujudkan tujuannya mengkomunikasikan Baduy Dalam secara utuh dari perspektif warganya.

Luar biasa..

Semoga saja saya bisa kembali ke sana, belajar kembali tentang nilai-nilai kehidupan dan tentu saja, ada project khusus untuk menuntaskan penulisan buku.

Saya yakin, kekuatan nilai-nilai kehidupan yang mereka pertahankan, membuat Baduy Pasti Tak Berlalu, karena dengan tantangan kehidupan apa pun, selama ada nilai-nilai kehidupan yang dipertahankan dan bersumber pada kebijakan alam dan kemurahan Sang Pemilik Alam, insyaallah, kita akan bisa mengendalikan kehidupan dan bukan sebaliknya.

Baduy Pasti Tak Berlalu, karena sesungguhnya mereka adalah cermin bagaimana kita menaruh respek pada hasil ciptaan Allah dan Allah pun akan menganugerahi dengan rasa sayang-Nya yang tak terbatas. Saya yakin, mereka hidup damai seperti itu, karena disayangi Allah.

One comment on “Baduy Pasti Tak Berlalu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *