Baban Sarbana

Social Business Coach

Anak SMA Sudah Jadi Pembimbing Haji

Kelas 3 SMA memang tidak dibolehkan aktif dalam organisasi apa pun, baik OSIS maupun DKM. Akhirnya, saya dan Novi Hardian ditunjuk untuk menjadi panitia dadakan. Kami berdua kebagian jadi panitia untuk Manasik Haji. Pekerjaannya menyiapkan alat-alat untuk praktek manasih haji itu. Mulai dari miniatur ka’bah, makam Ibrahim, jumroh, hingga petunjuk rute tempat selayaknya pelaksanaan haji beneran.

Pekerjaan yang cukup berat adalah membuat kiswah untuk menutup ka’bah. Warisan dari panitia sebelumnya adalah kain hitam yang di bagian atasnya diberi garis kuning. Saya puny ide untuk memberi tambahan tulisan kaligrafi dengan dibordir.

Kebetulan, ketua DKM kami—Zaenal Abidin—ayahnya punya toko pakaian bordiran. Saya Tanya, berapa harganya? Ternyata Rp 50.000. Wah, dapat uang darimana ya?

Ngga kehabisan akal, saya akhirnya bawa kotak kardus kecil, terus ngider ke setiap kelas. Pengalaman sebagai pembawa kotak kardus untuk meminta sumbangan ketika ada teman atau keluarganya meninggal, membuat saya dikenal sebagai peminta sumbangan. Ketika saya masuk ke setiap kelas, saya memberikan alasan membawa kardus untuk meminta sumbangan.

Sumbangannya ngga besar, setiap orang Rp 200,- boleh lebih jangan kurang. Karena siswa SMA 1 kelas 3 saat itu sekitar 300 orang, maka akan terkumpul Rp 60.000,- Alhamdulillah terkumpul Rp 77.000,- saya berikan semuanya ke Zaenal sebagai biaya bordir kiswah ka’bah.

Akan tetapi, masalah belum selesai. Ternyata untuk membuat bordir, perlu desain kaligrafinya. Karena tukang bordir tinggal mengikuti polanya saja. Saya akhirnya meminta pensil jahit ke kakak saya yang kebetulan jurusan busana di SMKK. Saya ingat pernah diajarakan membuat kaligrafi oleh Hafiz Haryadi, teman saya di eskul Pramuka; caranya dengan menggunakan dua pensil yang diikat karet.

Saya menuliskan ayat kursi sepanjang hampir 7 meter. Kertasnya menggunakan kertas printer yang tersambung, yang pinggirnya bolong-bolong, biasanya digunakan untuk print dot matrix. Kemudian dialasi karbon, dan dituliskan ke kain kiswah warna hitam. Supaya lebih jelas, saya menggunakan pensil jahit sebagai alat tulis di kain kiswah itu, supaya kelihatan dan mudah dihapus juga.

Pembuatan lafadz ayat kursi selesai dan kain kiswah yang sudah ada tulisan bahan bordirannya saya berikan ke Zaenal. Dua hari beres katanya. Syukurlah, sesuai dengan rencana kalau begitu.

Pelaksanaan Manasik Haji

Malam sebelum pelaksanaan, saya dan Novi menginap di sekolah. Karena musholla belum jadi, maka kami tidur di gudang, yang dijadikan sebagai Musholla darurat. Disitu saya buat juga Mading, mungkin yang baca saya sendiri, karena siapa juga yang mau datang ke ruangan yang letaknya di pojok seperti itu. Mading di Musholla Darurat itu namanya Mading Darurat.

Malam itu, Novi agak demam, padahal pekerjaan masih banyak. Terutama membuat papan nama. Karena segala benda untuk manasik haji adalah warisan dari angkatan sebelumnya, maka beberapa alat terbenam entah dimana. Salah satunya papan nama lokasi. Saya akhirnya membeli cat air warna hitam. Novi yang punya sedikit bakat untuk menulis, dan saya yang punya bakat lebih sedikit lagi, akhirnya membuat papan nama dengan menggunakan cat air. Hasilnya, saya dan Novi secara bergantian meniup tulisan cat air itu supaya pagi kering dan tidak belepotan. Yang saya ingat, salah satu tulisan yang hilang adalah penujuk arah tempat Mekah dalam bahasa Arab, dan tanda jumroh setinggi 1 meter, berupa karton putih yang didalamnya ada kerangka bamboo, kemudian harus kami lukis seolah-olah itu terbuat dari batu. Saya dan Novi bergantian meniup ‘lukisan’ itu supaya cepat kering.

Novi terbatuk-batuk terus sepanjang malam, saya sulit tidur jadinya. Jam 3 pagi baru bisa tidur, itu pun hanya sebentar. Kami bangun lagi pas subuh dan sholat berjamaah. Pemasangan alat-alat manasik haji pun dimulai.

Miniatur ka’bah sudah dipasang sebelumnya, diletakkan di tengah lapangan bulutangkis, di depan kantor guru. Di kiswahnya sudah ada bordiran lafadz ayat kursi. Saya puas melihatnya, walaupun hurufnya agak meletot-meletot. Tinggal memasang beberapa alat manasik lainnya. Makam Ibrahim, Jumroh aqobah, penunjuk lokasi, dan ternyata ada yang tidak ada, Makam Ismail. Saya baru ingat, makam Ismail itu terbuat dari besi yang disusun setengah lingkaran, kemudian ditutup kain putih. Besi itu hilang, karena diambil pemulung, mungkin untuk dijual. Saya deg-degan juga, karena sampai pagi menjelang, kami belum bisa menemukan besi untuk makam Sulaeman itu.

Jam 06.00, Ibu Chaeriyah, guru Agama SMA 1 Bogor, komandan besar, datang dan menanyakan persiapan. Saya bilang,

“Semuanya siap Bu, kecuali makam Ismail.” Kata saya, yang artinya sebenarnya belum siap semua.

“ Terus bagaimana? Cari akal dong” Ibu Chaeriyah mulai keluar intruksinya.

Saya tidak kehilangan akal, akhirnya mengambil batako beberapa potong di luar, karena saat itu SMA 1 sedang membangun musholla di belakang. Batako saya bawa ke depan kiswah, saya susun membentuk setengah lingkaran; kemudian ditutupi kain putih. Persis seperti yang diinginkan Bu Chaeriyah; yang melihat saya dan teman-teman yang datang lebih pagi mengangkut batako, dan mengacungkan jempol. “Bagus!” katanya.

Jam 07.00 manasik dimulai. Saya ikutan jadi peserta manasik, karena semua siswa harus ikut untuk kelengkapan nilai mata pelajaran Agama Islam. Setiap kelompok terdiri dari 6 – 8 orang. Saya satu kelompok dengan teman-teman yang tidak tergabung dengan kelompok lainnya. Mungkin kelompok saya satu-satunya yang di dalamnya ada perempuan—Fina namanya. Perempuan yang saya ingat, tidak pernah lagi mau ikutan pelajaran berenang sejak SMP, karena ketika pertama kali berenang di kolam renang Mila Kencana, langsung dipelototi teman-teman laki-lakinya sekelas.

Sambil manasik, saya sambil melihat perlatan-peralatan yang digunakan. Saya khawatir dengan jumroh aqobah, karena alat manasih itu adalah target lemparan batu, seolah-olah melempar setan. Kalau saya sih membawa kerikil, ukurannya kecil, paling sebesar ujung jempol tangan. Tapi, beberapa teman, kelihatannya membawa batu sebesar kepalan tangan, dan langsung dilemparkan ke jumroh aqobah. Alhasil, beberapa bagian robek. Hmmm, nambah kerjaan, karena manasik haji dilakukan selama 2 hari.

Malamnya, saya dan Novi kembali mengerjakan perbaikan alat manasik haji. Kembali kami menginap di sekolah.

Menjadi Pembimbing Haji

Hari Senin, sebelum upacara, saya dipanggil Bu Chaeriyah.

“Kamu nanti umumkan ya, pemenang manasik haji, soalnya mereka akan jadi pembimbing haji siang nanti di Mesjid Raya…” kata Bu Chaeriyah.

Hah… saya belum pernah memberi pengumuman di depan peserta upacara. Biasanya yang memberi pengumuman itu guru atau pengurus OSIS. Di ujung upacara, saya maju ke depan, mengumumkan regu pememang manasik haji, yang ternyata adalah teman sekelas saya. Saya juga mengumumkan nama-nama siswa yang akan menjadi pembimbing haji di Mesjid Raya siang ini. Ketika nama saya disebut—karena saya juga terpilih—saya nambahin, itu nama saya… peserta upacara teriak huuuuuuuuuuuu.

Siang kami, siswa yang terpilih menjadi ‘pembimbing praktek haji’ berkumpul di lapangan bulutangkis. Semua alat manasik sudah dimasukkan ke mobil hi-jet bak coklat tua milik Pak Yusuf Sulaeman, guru matematika sekaligus wali kelas saya waktu kelas 1.

Kami diberi baju ihram, harus langsung dipakai. Saya nanya,

“Terus kita naik apa? Ada mobil siapa? Atau naik angkot dengan baju begini?”

“Nggak, kalian semua naik mobilnya pak Ucup..” kata Bu Chaeriyah, tegas.

Hah…lagi. Jadilah, kami naik mobil bak dengan pakaian ihram. Perasaan seperti kambing mau dipotong untuk kurban. Mobil bergerak mengelilingi Kebon Raya, menuju Mesjid Raya. Selama perjalanan, rasanya muka saya tambah tebal, karena orang-orang di jalan sudah pasti menoleh ke arah kami. Kami cuma tersenyum saja, mau ke haji pake mobil bak hi jet, kata saya dalam hati. Kapan nyampe-nya?

Sampai di Mesjid Raya, sudah menunggu 500 jemaah haji yang siap berangkat ke tanah suci. Begitu melihat kami, siswa SMA yang akan mencontohkan praktek manasik haji, mereka senyum-senyum saja. Bagi saya sih tidak masalah, soalnya kita khan sudah khatam manasik haji di sekolah. Segala bacaan, gerakan sudah hafal. Bedanya, kami tidak pergi ke Mekkah.

Saya merinding ketika setiap perkataan kami diikuti oleh jemaah haji di belakang. Bagaimana rasanya jika itu terjadi di tengah jutaan orang di Mekkah? Subhanallah.

Manasik Haji di Mesjid Raya berlangsung lancar, peserta menyalami kami dan kami pun gembira. Senang rasanya menjadi bagian dari perjalanan spiritual mereka. Kami berfoto di depan Mesjid Raya Bogor. Sambil bergurau,

“Siapa nih yang beneran pergi haji duluan?”

Dalam hati, saya berdo’a, semoga suatu saat salah seorang dari jemaah haji yang tadi mengikuti manasik haji adalah kedua orang tua saya. Sepuluh tahun kemudian 2 orang diantara kami pergi haji. Do’a saya terkabul 15 tahun kemudian, ketika orang tua saya pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, seperti kata orang di kampung saya, kedua orang tua saya jarang pergi jauh, tapi sekalinya pergi, malah jauuuuuuuuuuhh banget—ke rumah Allah. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *