Ini true story…

Semuanya diawali ketika pada suatu malam, Jamal bermimpi didatangi seorang kakek berbaju putih; wajahnya tak nampak jelas. Tanpa berkata-kata, dia meletakkan sebuah karung berisi uang yang banyak di hadapan Jamal, yang sedang khusyuk berdo’a di sebuah musholla di pinggiran kampung.

 

Kakek berbaju putih itu kemudian berpesan kepada Jamal,

 

“Basuh telapak kaki ibumu, peras airnya dan minum. Itulah kunci keberkahan hidup”

 

Jamal terbangun. Dia melihat ke sekeliling. Saat itu dia berada di kamar belakang rumahnya. Rumah sederhana, diisi oleh sepasang orang tua yang membuka warung di bagian depan rumah. Jamal, sebagai anak tertua memiliki kamar sendiri—bukan kamar tepatnya, tapi ruangan kecil yang dibatasi triplek dan beralas kasur tipis yang kapasnya sudah muncul disana-sini. Sementara 2 kamar lainnya diisi oleh 6 orang adiknya. Satu kamar untuk 4 orang adik laki-lakinya dan satu kamar lagi untuk 2 adik perempuannya.

 

Jamal akhir-akhir ini memang sedang galau. Seminggu lalu dia lulus dari SMA Waskita. Tak ada uang untuk melanjutkan kuliah. Ibunya membuka warung kecil di depan rumah, menjual gorengan kampung seperti bakwan, tahu dan pisang goreng. Setiap subuh, Jamal dan adik-adiknya membantu Ibunya membuat adonan gorengan. Dari berjualan gorengan itulah, Jamal bisa menamatkan kuliah. Sementara 5 adiknya, yang saling berjarak usia 2 tahun, semuanya sekolah, kecuali si bungsu. Alhamdulillahnya, semua adiknya sekolah di SMA, SMP dan SD negeri, jadi biayanya tak terlalu mahal.

 

Ayahnya bertani kecil-kecilan, memiliki sepetak kebun yang ditanami pisang batu, karena daunnya cepat tumbuh dan sudah ada ‘kontrak’ dengan pengumpul daun pisang untuk dijual di pasar sebagai bungkus kue-kue jajanan pasar.

 

Kembali Jamal teringat dengan mimpi yang tak sekali mendatanginya setiap tidur sejenak, usia shalat tahajjud, untuk bangun melanjutkan shalat shubuh. Jamal rutin melakukan shalat thajjud sebagai upaya memupuk cintanya kepada Allah Sang Pemberi Keberkahan Hidup. Seminggu ini, 2 hari sekali mimpi itu datang.

 

Pagi hari, Jamal menuju ustadz Sutarman, untuk menanyakan arti mimpinya tersebut. Ustadz Sutarman menyarankan Jamal untuk menemui gurunya yang berada di Banten.

 

Jamal pun bergegas ke Banten. Dengan uang seadanya. Dia yakin, mimpi itu bukan sembarang mimpi.

 

Sampai disana Jamal bertemu dengan Kyai Solihin, yang memang terkenal sebagai ahli hikmah. Orangnya sederhana, akan tetapi caranya memberi saran untuk kehidupan yang berkah, selalu bisa diandalkan. Tak heran, Kyai Solihin pun sering didatangi oleh orang dari berbagai kalangan.

 

Ketika bertemu dengan Kyai Solihin, Jamal mengutarakan mimpinya…. Kyai Solihin manggut-manggut dan berkata,

 

“Ya.. kamu ikuti saja saran mimpi itu. Segera kamu pulang, temui ibumu, basuh telapak kakinya sambil berdo’a memohon keberkahan hidup kepada Allah. Peras air basuhan itu dalam baskom kecil, kemudian minum, sambil kamu terus berdo’a.”

 

Jamal pun pulang dengan hati yang mantap. Kegalauan hatinya berkurang.

 

Sesampai di rumah, Jamal mengutarakan hasil pertemuan dengan Kyai Solihin kepada ayah dan ibunya. Ibunya meneteskan air mata melihat niat Jamal yang begitu kuat untuk mendapatkan kehidupan yang berkah, walau dengan cara yang tidak lumrah.

 

Jamal kemudian mengambil 2 baskom kecil (1 baskom diisi air, 1 baskom kosong) dan sepotong kain.

Ibunya duduk di kursi kayu dan meletakkan kakinya di lantai. Jamal berlutut dan mulai membasuh telapak kaki ibunya sambil mengucap do’a. Setiap basuhan di kaki ibunya seolah pertanda bertambahnya cinta Jamal untuk ibunya. Pertanda keyakinan Jamal, bahwa berbuat baik kepada ibunya adalah pintu keberkahan hidup.

 

Kain basuhan telapak kaki itu kemudian diperas dan airnya disimpan di baskom yang kosong. Setelah 7 kali basuhan, Jamal menghentikan basuhan di telapak kaki ibunya. Jamal memindahkan air dari baskom yang berisi air perasan itu ke dalam gelas. Kemudian diminum. Gelas yang sama digunakan untuk menampung air dari baskom dan diminum lagi. Demikian, sehingga air perasan telapak kaki ibunya habis diminum Jamal.

 

Usai meminum air tersebut, Jamal kemudian pergi ke kamar dan melakukan shalat sunat. Jamal adalah sosok anak yang sholeh, cinta kepada kedua orang tua dan adik-adiknya. Tindakannya meminum air perasan telapak kaki ibunya dilakukan sebagai syari’at untuk mendapatkan keberkahan hidup. Cinta memang butuh wujud. Jamal mau melakukan, walaupun wujud cinta itu adalah meminum air perasan telapak kaki ibunya.

 

Setelah peristiwa itu, Jamal semakin tenang menjalani hidup. Jamal kini menjadi tulang punggung keluarga. Segala pekerjaan dilakukannya, selain tentunya melamar kesana kemari. Tapi, ijazah SMA tak cukup untuk mendapat pekerjaan yang bisa membiayai sekolah adik-adik yang dicintainya. Kadang adiknya tak tahu Jamal pergi kemana, akan tetapi ketika pulang membawa uang, Jamal pasti memberikan uang kepada ibunya, dibagikan kepada adik-adiknya yang masih sekolah.

 

Suatu hari, Pak Rudi, tetangga kami yang sudah menjadi pejabat Eselon II di sebuah perusahaan milik negara, memanggil Jamal ke rumahnya. Pak Rudi memang sebulan sekali datang ke villanya yang terletak tak jauh dari rumah Jamal. Pak Rudi termasuk salah satu orang paling kaya di desa Jamal.

 

Jamal menemui Pak Rudi dan rupanya Pak Rudi sudah mendengar tentang cerita Jamal yang kini butuh pekerjaan untuk membiayai 5 adiknya yang sekolah, adik bungsunya belum sekolah. Pak Rudi menawari Jamal untuk ikut ‘menjaga’ rumahnya di Jakarta. Pekerjaannya membantu membereskan rumah. Tugas utama Jamal adalah merawat burung peliharaan Pak Rudi, termasuk membersihkan kotoran dari kandangnya.

 

Pak Rudi memberikan sejumlah uang untuk Jamal setiap bulan. Setiap 2 bulan Jamal pulang ke Bogor dan memberikan uang itu kepada ibunya. Cinta Jamal kepada ibunya, membuatnya selalu ingat dan selama menjadi anak, akan selalu memprioritaskan ibunya.

 

Ketekunan Jamal dan rasa hormatnya kepada Pak Rudi yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri, membuat Jamal bisa membeli hati Pak Rudi. Akhirnya Pak Rudi menawarkan pekerjaan di perusahaan miliki negara itu kepada Jamal. Jamal senang bukan main, walaupun pekerjaannya adalah membuatkan kopi atau membantu apa pun yang dibutuhkan untuk para supir di perusahaan milik negara itu. Jamal mencintai pekerjaan itu dan melakukannya dengan sepenuh hati.

 

Bekerja sepenuh hati itu dilihat oleh Pak Rudi yang memberikan berbagai jenis pekerjaan yang semakin lama semakin meningkat. Pak Rudi kemudian merekomendasikan Jamal untuk menjadi pegawai tetap. Tentu, dengan pendidikan setamat SMA, Jamal memulai dari posisi sangat bawah. Gajinya kecil, tapi tak mengurangi ketekunannya dalam bekerja. Gaji kecil itu pula yang diserahkan sepenuhnya kepada ibu Jamal, untuk kemudian Jamal meminta bagiannya kembali.

 

Perlahan karir Jamal meningkat. Kondisi keluarganya pun membaik. Salah satu adiknya masuk perguruan tinggi di Bogor dan sudah bisa mencari penghasilan sendiri. Adiknya yang lain, karena sekolah di kedinasan, kemudian langsung bekerja. Berkuranglah beban di pundak Jamal untuk membiayai adiknya.

 

Jamal kemudian sampai pada usia pernikahan. Sebenarnya Jamal sudah memiliki incara seorang wanita tetangganya. Akan tetapi, kondisi keluarga yang berbeda strata ekonomi, membuat Jamal tidak diterima oleh keluarganya tersebut. Jamal kemudian menyerahkan pencarian jodoh kepada ibunya. Ibunya kemudian mempertemukan Jamal dengan Lisna, baru tamat SMP, yang masih memiliki hubungan saudara dengan Jamal.

 

Jamal pernah membaca tentang beberapa akibat dari pernikahan dengan saudara dekat. Tapi, ketaatan dan berharap berkah dari orangtuanya, membuat Jamal mengikuti permintaan ibunya dan menikah dengan Lisna. Jamal dan Lisna berkenalan selama 2 bulan untuk kemudian menikah.

 

Pernikahan Jamal dengan Lisna berlangsung dengan sederhana. Tak ada pesta besar, walaupun itu adalah pernikahan pertama dari keluarganya. Karena masih di kampung, ketika membuka kado pernikahan pun banyak kado-kado yang tak terduga. Dibungkus rapi dengan isi yang bermacam-macam: ada obat nyamuk bakar, uang Rp 50,-, sandal jepit, kardus kosong; selain kado yang layak seperti alat-alat makan dan beberapa baju serta uang. Semuanya diterima Jamal dengan lapang.

 

Keluarga muda itu pun hidup bersama ibu Jamal.

 

Karena rajin dan tekun, karir Jamal makin melesat, kemudian bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah sederhana. Sekali lagi, ibunya meminta Jamal agar tidak jauh dari ibunya. Jamal bisa memilih membeli tanah dimana saja, akan tetapi, sekali lagi, dengan ketaatan dan kecintaannya kepada ibunya, Jamal pun memilih untuk menebus tanah di dekat rumah ibunya, walaupun harganya lebih mahal.

 

Jamal dan Lisan kemudian membangun rumah sederhana di dekat rumah ibunya. Pembangunan rumah yang memakan waktu hingga 8 tahun, karena menyesuaikan dengan pendapatan Jamal. Selama pembangunan rumah itu pula lahir 3 anak Jamal, sehat-sehat semua; tidak seperti prediksi orang, bahwa pernikahan antar saudara dekat bisa memlahirkan anak yang kurang sehat. Mungkin, berkah dari ibunya itu yang membawa Jamal mendapat segala kemudahan.

 

Rezeki Jamal bertambah seiring dengan ketekunannya bekerja. Sambil tetap bekerja, Jamal membuka warung penjualan gas dari air mineral yang cukup laku. Pada awal bisnisnya, Jamal mengantarkan sendiri tabung gas dan air mineral. Dan, rupanya itu pula yang bisa menarik hati para pelanggan. Sekali lagi, dalam pekerjaan dan bisnis, Jamal selalu menyertakan hati dalam melakukannya. Itulah yang membuat Jamal bisa menarik hati para pelanggannya.

 

Bisnisnya maju pesat. Kekayaannya pun bertambah. Jamal bisa membeli kendaraan, walaupun masih sederhana. Anak-anaknya sekolah di pesantren. Jamal membeli beberapa lokasi tanah; untuk membangun pesantren suatu saat nanti, ketika anak-anaknya lulus dari pesantren.

 

Akan tetapi, ada kebiasaan kecil Jamal yang berimbas pada kebiasannya sekarang. Dulu, Jamal kalau makan nasi, sering ditaburi gula pasir, bukan garam. Konon, itu symbol bahwa suatu saat ketika besar nanti, rezeki Jamal akan menjadi rezeki saudar-saudaranya.

 

Itulah yang terjadi kepada Jamal saat sekarang, ketika bisnis dan pekerjaannya berjalan lancar.

 

Suatu hari, mobil Jamal dijual, tanahnya pun dijual. Usai mendapatkan uang, kemudian mendapat tambahan uang dari adik-adiknya yang sudah memiliki penghasilan, Jamal menabungnya di sebuah bank syari’ah. Jamal kemudian menemui orang tuanya, menyerahkan 2 buah tabungan, tulisannya: Tabungan Haji.

 

Jamal menjual tanah dan mobilnya untuk membiayai orang tuanya naik haji. Jamal bekerja keras untuk mengamankan keuangan keluarganya, sambil tetap memperhatikan orang tuanya. Jamal tidak ingin, perbuatan kepada orang tuanya mengganggu hubungan dengan isterinya. Jamal akhirnya bisa mengumpulkan uang untuk memberangkatkan orang tuanya naik haji.

 

Tak putus cinta Jamal untuk orang tuanya, sama dengan tak putus berkah menyertai Jamal dalam kehidupannya. Cinta tulus Jamal sepanjang hidup adalah password dari bagaimana Jamal mendapatkan cinta Allah yang berwujud keberkahan rezeki yang ketika sedikit maupun banyak, tetap diterimanya dengan hati lapang. Rezeki yang diberikan Jamal kepada ibunya tak pernah mengurangi rezeki yang Allah berikan kepadanya, malah Allah menambahnya berlipat. Jamal dilimpahi rezeki, karena Allah Mahatahu, rezeki itu adalah pintu bagi terbukanya rezeki bagi orang-orang yang dicintai Jamal.

 

Semuanya diawali dengan perwujudan cinta ketika Jamal ikhlas meminum air setelah membasuh telapak kaki ibunya. Tangan Jamal membasuh telapak kaki, mulutnya meminum air basuhan, seolah mewakili hatinya yang berkata,

 

“Ibu, aku mencintai telapak kakimu, karena disana ada surga”

 

Jamal yakin, keberkahan hidup di dunia adalah surga kecil yang Allah berikan kepada orang-orang yang mencintai ibunya karena mencintai-Nya.

 

 

(Diilhami kisah nyata)

One thought on ““Aku Mencintai Telapak Kakimu”

  1. Wah, Ban, tulisan lu itu emang gak pernah kering deh, selalu ada ajah…
    Maju terus Ban…

    mungkin karena dibasahi hati ya? cieeeeeeeee

  2. Very touchy Ban… Jadi ingin kenal lebih dekat sama Jamal dan liat rumah yang di Ciapus 🙂

    diantos di Ciapus Mas Amir, plus ikan bakar khusus untuk penyambutan….hehehehe

  3. Kunci keberkahan Jamal menurut saya adalah Cintanya yang tulus dan tak pernah lekang terhadap ibunya. Ridho ibunyalah yang membuat Allah melimpahkan berkahnya buat Jamal.

  4. Mimpi baik itu dari Allah
    Mimpi buruk dari setan

    Petuah kakek berbaju putih agak janggal.
    Ajaibnya si Jamal melakoninya.

    Anehnya, sang ibu mengiyakannya.
    Ketidaklogisan kejadian pun tercipta.

    Dan pada kenyataannya : Hadits ‘surga di bawah telapak kaki ibu’ itu dhaif.

    Saya tidak menafikan Power of Birulwadain.
    Tapi…akan lebih baik bila kelogisan pun tidak terabaikan.

    Jamal…Jamal…
    Semoga Allah menjagamu selalu…

    iya, hadistnya dhoif… makanya tidak diangkat sebagai hadits, karena beberapa orang butuh wujud cinta pada ibunya, tak sekedar ucapan. Ini cerita tentang kakak sulung saya kok…. emang ketika lulus SMA dan galau, dia sering menyendiri dan mimpi yang kadang jadi sugesti….Ibu Jamal tidak tamat SD tapi sangat mencintai anak-anaknya…tak banyak bertanya, hanya bisa merasakan cinta anaknya…

  5. Ban, tulisannya bagus banget, cuma biasana…supaya lebih seru, harus ada antiklimaks dunk, itulah perbedaan nyarita dan mamatahn, tapi secara keseluruhan, saya melihat Baban potensi sekali dan sangat produktif untuk tulisan2 begini, Bravo ya.., sukses selalu..

    hatur nuhun kang…..insyaAllah saya perbaiki… ini kisah nyata kakak sulung saya…hidupnya berkah bener….

  6. Ini cerita contoh Orang tua yang sukses mendidik anaknya.. gak bisa komen apa apa lagi… hik hik.. *terharu*

    abis ini cerita adiknya Jamal ya mas? 😉

    hehehehe..adiknya Jamal, ya saya dong….ceritanya saya sih termehek-mehek…mungkin kurang berkah sama Ibu…banyak kesandungnya….hihiihi

  7. Tulisan yang sangat menyentuh….yakinlah bahwa ridho Ibu itu ya ridho Illahi…..semoga banyak Jamal Jamal yang lain di Indonesia….bekerja dengan hati, ikhlas,….salute buat Pak Jamal dan Kang Baban

  8. SYUKUR. salah satu yang membentuk karakter Jamal seperti itu. Dari Syukur ini menimbulkan keikhlasannya dan kesabaran dalam ikhtiarnya yang dibarengi sikap tawakal.
    Rasa syukur itu dia wujudkan dengan besar cintanya kepada orang tuanya. Bukankah Allah SWT sangat mencintai hambanya yang memuliakan orang tua?
    dari situ orang lain melihat Jamal yang selalu ULET dan enteng dalam setiap langkah pekerjaannya.
    Bukankah Allah SWT akan memberikan nikmatnya yang banyak untuk hambanya yang pandai bersyukur?
    Hanya Allah SWT yang tahu hikmah sebenarnya dibalik cerita ini.

    setuju..bakti orang tua adalah tanda bersyukur…

  9. Kang Baban diberkati dgn talenta nulis lebih dari org lain..
    so, nulis terus yaa..!!

    btw, kalo sempet, tulisannya di edit lagi, aku ampe ngitung pake jari adiknya Kang Jamal ada berapa hahahaha… (tipe kritikus pencari kesalahan 😛 )

    udah dikoreksi Bu……..thx…

  10. Saya memang pernah mendengar mengenai “LAKU” minum air basuhan kaki ibu ini 8 tahun lalu. Saya kira itu hanya bualan. Ternyata memang ada ya? Surga memang berada di telapak kaki ibu.

  11. cerita yang amat bagus kang baban. mungkin jini bisa memberikan inspirasi kepada saya yang selama ini seringkali menyakiti orangtua baik ibu amaupun bapak baik secara langsung maupun tidak. apalagi saat ini saya secara geografis sangat jauh dengan orangtua. keep writing

    makasih..saya malah jadi ngebayangin, gimana orang yang jauh dari orang tuanya….terpisah pulau atau negara….hmmmm..berat banget ya…Jadi pengen bikin buku yang isinya cerita cinta pada orang tua….gimana?

  12. Terserah orang mau komentar apa Ban, tapi aku percaya, ketika Jamal sudah bertekad untuk memasrahkan hidup pada yang Maha Pengasih, saat itu lah perjalanan menuju kebahagiaan dimulai.

    sip..bener banget…emang, pasrah itu password hidup berkah….

  13. berhubung ibu saya sudah tiada, saya mau coba makan nasi ditaburi gula nya saja…
    Tapi memang ridho dari ortu membawa barokah.. saya percaya itu.
    terus nulis ya Kang Baban, saya selalu baca walau ga pernah comment

    kaya Jamal dong… semoga saja ‘kebiasaan barunya’ bisa jadi sugesti untuk hidup berkah. Makasih kalau udah baca…semoga manfaat….

  14. aku pernah dengar kisah anak yang berbakti kepada orang tua dan ikhlas melakukan itu selalu berakhir dengan indah…memang surga itu ada di telapak kaki ibu..

  15. Subhanalloh, bakti yg perlu ditiru, wlau dengan cara yg berbeda. Intinya ridho Alloh, ridho orangtua. Doa Ibu tak terhalang tuk terkabulkan. Krn kenyataan perubahan zaman dan pergeseran pola pikir dan gaya hidup bisa merubah tingkat bakti anak pada orangtua. Tugas orangtua memberikan kasih sayang dan perhatian tanpa ditakar pada keturunan kita, krn anak pun perlu simbolisasi kasih sayang dan perhatian orangtuanya hingga bakti anak pun akan diberikan minimal sama seperti yang dia terima dari kita sejak kecil. Semoga….

  16. Serasa baca naskah sinetron….
    Semoga siapa saja yg membacanya bisa meningkatkan rasa syukur dan cinta pada orang tua.

    semoga…..

  17. It’s very inspiring…Alhandullilah, saya punya temen ka Baban yg selalu mengisi hari-hari saya dengan cerita2nya yang menyejukkan…Keep writing ya kak…

  18. sangat mengharukan..

    entah kenapa, aku merasa ini de javu meski aku tidak melakukan seperti apa yang jamal lakukan kepada ibunya yaitu dengan mencuci kaki dan meminum air nya..

    aku merasakan sendiri, jika kita melakukan apapun untuk orang tua kita semua itu tidak akan membuat kita menjadi susah dan miskin.
    bahkan kebalikannya, kita akan mendapatkan lebih dari apa yang kita lakukan.
    contoh kasus disaat kerjaan aku tidak terlalu banyak, ayahku sakit dan harus dirawat di rumah sakit dengan biaya yang tidak sedikit tapi aku tidak pernah merasa susah karenanya, secara konkrit aku tidak mempunyai saldo yang lebih tapi Subhanallah aku tidak sampai berhutang untuk biaya semua itu, bahkan aku bisa berangkat umroh sampai 3 kali yang terakhir berdua mama karena nazar aku ke alm. papa..
    aku bisa membelikan mama rumah meski kecil dan sampai hari ini aku masih bisa hidup dan makan, padahal ketika sedang merenung, aku berfikir, kerjaan aku tidak banyak, nilai nya pun pas2an, secara konkrit tidak tampak tapi darimana datangnya kemudahan dan nikmat itu kalau bukan dari Gusti Allah..

    kesimpulan yang aku punya, jangan pernah menyakiti hati orang tua kita, jangan takut susah karena kondisi orang tua kita dan jangan takut miskin dengan materi yang kita beri pada orangtua kita, karena keberkahan hidup kita ada di dalam DOA orang tua kita, disetiap tarikan NAFAS orang tua adalah hidup kita..

    makasih Ia.. hmmm, malah merinding baca kisahnya Ia. Eniwei, tulisan tentang Papa Ia bisa tuh jadi bagian dari A to Z-nya Ia…nulisna pake hati sih ya, nyampe-nya juga ke hati deh….

  19. Ban, seneng banget bisa terus baca tulisan2 Baban. Insya Allah bahagianya ortu Baban punya anak2 spt kang Jamal dan Baban.
    Kalo dibuat sinetron, menurut saya, cerita ini lebih pas dikasih judul “Iklhas” Ban. Karena kelihatannya keikhlasan kang Jamal dalam setiap apa yg dilakukannya yg membuat beliau sukses dalam hidup.

    Alhamdulillah kalau baca dan seneng.. Ada juga yang baca tulisan saya, udah jarang, ngga seneng lagi.. namanya juga orang mau belajar… say it with blog……doain aja konsisten posting minimal 1 tulisan setiap hari…karena saya tau pasti ada yang baca dan seneng.

  20. Secuil bukti di dunia, bahwa surga di bawah telapak kaki ibu,..menyentuh dan menjadi kontemplasi bagi saya untuk lebih berbakti pada ibu.

    surga itu bukan di luar sana… terasa di dalam hati….

  21. Hello, mas Baban, satu lagi tulisan yang menginspirasi…menarik apa lagi ternyata di ilhami dari kisah nyata, cuma yang ini terasa agak berbeda ya, ehm apa ya, kurang lepas, sepertinya tata bahasanya terlalu dijaga dan jadi kaku, its my IMHO loh.. hehehhe aku suka gaya tulisannya mas baban yang biasa yang ga terlalu datar…tapi mungkin memang ada tujuannya dibuat seperti itu ya? sukses terus ya mas, terus berkarya dan jangan berhenti menulis. You give me inspirations.

    Hello Mala.. hehehehehe.. makasih inputnya..emang beda kalau script writer yang kasih komen…. semoga bisa lebih baik terus deh tulisannya…..

  22. Top Markotop (niru pa’ bondan huekekekek)
    Motivasi yg baik buat kita semua.

    Inti dari barokahnya itu sendiri sebetulnya bukan dari perantaranya, akan tetapi kepasrahan, ketulusan, keikhlasan seorang anak yg ingin sekali punya bhakti terhadap orang tua dan adik2nya.
    Boleh juga tuh bikin tulisan “Cinta pada Orangtua”

  23. Memang sudah sepatutnya kita berbuat baik kepada kedua orang ibu bapak kita, sebagai perwujudan taat dan syukur kita kepada Yang Maha Pencipta serta bakti kita atas segala susah payah keduanya di waktu kita belia (…hingga dewasa…).

    Orang tua bahagia, insya Allah hidup sejahtera.

    Sangat mengispirasi, Ban.
    Tetap semangat, semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia untuk acara selanjutnya… ^_^

    Orang tua bahagia, insya Allah hidup sejahtera.
    Rumus yang dahsyat

  24. Good story. Kalau dijadiin cerita sinetron lumayan juga nih, Ban. ataw acara termehek2 gitu?. Tapi beneran gitu celupan air kaki ibu?

    kok celupan, emang teh celup….? hehehehe, air perasan dari kain yang membasuh telapak kaki…. bukan kaki yang dicelupin ke ember….beneran kok.. tapi, ya itu simbol cinta kepada orang tua; jangan dilihat dari prosesinya aja, tapi behind the air basuhan kaki ibu…

  25. Subhanallah…cerita hidup yang luar biasa.. Jamal yang pekerja keras, tdk tinggi gengsi, lapang dada, qana’ah, pandai bersyukur mengantarkannya pada alur kehidupan yang begitu indah dan layak untuk diteladani. kalau untuk “air basuhan” …saya rasa itu hanya penyebab 0.000000sekian persen dech. tapi kalau ridho orang tua…,itu wajib.

  26. Pernah baca kisah begini juga, emang nyentuh hati banget ya….Restu Ibu adalah berkah buat anak anaknya. Baban pasti juga dapet berkah dong, walopun gak minum air basuhan kaki Ibu.
    Kalo bikin cerita cinta buat anak yang jauh dari orang tua, banyak yang bisa jadi contoh tuh…:)

    Hayu atuh Iyung..dibuat aja.. tentang anak yang jauh dari ortu….saya dah pilih judulnya..”Miss You Mom…..” Gimana?

  27. duh…tulisannya panjang banget yaa. ampe penasaran gimana akhir ceritanya. Alhamdulillah, selalu menginspirasi, Smoga saya bisa seperti Jamal. amin

  28. Aq adl org yg br full menyadari bhw ridha ortu adalah pembuka kebahagiaan anak2nya justru setelah kedua ortuku tiada.Menyentuh,Insya Allah tulisan A Baban bs membuka banyak hati agar tidak terlambat seperti aq.Terus nulis A !

  29. Subtansinya gua kira bukan dari membasuh telapak kaki ibu terus meminum airnya. Tapi lebih kepada bagaimana keluasan dan kelapangan hati untuk membaktikan hidup kepada orangtua secara ridho dan ikhlas. Meminum air itu hanya bentuk seremoni dari salah satu bentuk ungkapan keikhlasan tadi.
    Salut buat kang Baban, sudah mengangkat kisah keseharian untuk bahan perenungan dan diskusi para “fans”-nya. Mudah-mudahan bisa menjadi salah satu penawar untuk melampiaskan dahaga jiwa , kala menjalani kehidupan yang serba “ngga jelas” ini. Bravo.

  30. kunjungan pertama ke blog ini nih..
    tulisan yang baik. touchy bgt..
    jd kangen ibuku…
    thx y!

    do something to express your feeling

  31. Setiap orang memiliki versi kisahnya masing-masing mengenai hubungan istimewanya dengan orang tua masing-masing… dan kisah ini luar biasa…betapa perbuatan nyata ‘berkorelasi’ dengan berkah nyata lainnya…
    dan seperti biasanya … tulisan Baban selalu ada moral cerita yang bisa menginspirasi atau bahkan bisa diteladani secara nyata pula ….
    keep on writing and inspiring …

    korelasi antara perbuatan nyata dengan berkah nyata? hmmm.. jadi ini bisa dibuktikan secara ilmiah ya…?

  32. kalo ini kisah nyata…dahsyat sekali, bukti kasih sayang ibu kepada anak mengimbas pada rizqi si anak yg soleh..penegen deh jadi Jamal, sayang ibuku sudah meninggal, bisanya tinggal di doakan…..

    ini dari kisah nyata..ta…ta….ta… asli..li..li…li….

  33. Seandainya semua anak di dunia seperti Jamal
    Yang bersedia bersimpuh di telapak kaki ibunya
    Yang tak ragu meminum air bilasan kaki ibunya
    Yang senantiasa mendahulukan ridha orang tua dalam setiap langkahnya

    Seandainya setiap anak di dunia seperti Jamal
    Betapa berbahagianya hati setiap orang tua
    Dan betapa indahnya dunia ini penuh damai dan cinta
    Karena cinta orang tua berbalas bakti anaknya
    Saat setiap anak berkata,
    “Bunda… betapa aku mencintai telapak kaki Bunda, karena ada surga di sana…”

    Keep writing my dear friend, and keep inspiring…

  34. Salam kenal, Mr. Baban
    Kisah yang sangat menyentuh dan perlu dibaca, khususnya fresh graduate saat ini, yang lebih mengutamakan materi dari pada bekerja dengan hati.

    Ditunggu tulisan2 berikutnya…

    jangan bosen2 komen ya..

  35. jadi ingat waktu SMA, rajjiiiiin banget doa..sampe ngalamin mimpi2 yang besuk2nya jd nyata…mudah2an setelah membaca tulisan ini, aku jg lebih rajiiiiiiiin berdoa. Amiin.

    do’a itu senjatanya orang mukmin lho….

  36. Bakti dan cinta anak kepada orang tua adalah kewajiban yang tinggi nilainya.
    Saran saya, lebih baik dalam tulisan di atas, hal-hal yang berbau ‘aneh bin ajaib’ perlu hati-hati dalam penyampaiannya. Sesuatu yang ajaib bisa datang dari jin. Jin dapat melakukannya dengan izin Allah. Kalau perintah dalam mimpi berupa hal-hal aneh yang Rasulullah tidak jelaskan atau ajarkan, maka sebaiknya hati-hati, apalagi berbau mistis. Berbakti kepada orang tua sudah Rasulullah jelaskan tata caranya. Agama ini sudah sempurna, tinggal ikuti saja apa yang Rasul ajarkan dan tinggalkan hal-hal yang diada-adakan dalam agama. Semoga bermanfaat.

    terima kasih…memang mimpi itu banyak maknanya dan banyak juga sumbernya….bisa baik bisa buruk…

  37. Subahanallah…Kang, kisah ini seharusnya bisa mengingatkan Kita untuk senantiasa memahami tentang makna perjalanan hidup di dunia, dan bagaimana seharusnya Kita mengisi hari-harinya dengan satu keyakinan bahwa Kecintaan Allah melimpah tanpa batas untuk Kita dibalik rasa cinta yang tulus pada orang tua Kita…

    Terima kasih telah mengingatkan Saya dengan kisah-kisah seperti ini Kang….

  38. Ban, gw sedih banget dengan membaca tulisan km ni.. andai km nulisnya 7 tahun yang lalu mungkin aku masih sempat membuat mama bangga dengan diri gw dan bisa membahagiakan beliau.. tulisan lo inspiring banget ban… gw doain lo bisa menjadi salah satu penulis terbaik di Indonesia bahkan di dunia ..

    sy cuma nulis aja, ngalir… ya, jadi yang terbaik dari Indonesia bagian Ciapus, karena belum ada yang jadi penulis, sekolah pun ngga banyak yang tinggi-tinggi; dan menjadi penulis yang terbaik di dunia keluarga…makasih ya….semoga jadi do’a dan bisa diwujudkan…

  39. waduuhh.. koq betah ya nulis panjang. bukan orang sembarangan tentunya. apalagi kisah2 yg dibeberkan semua penuh inspiratif.

    mau ucapin thx kirimannya udah kuterima. gak nyangka. wes pokoknya thx berat.

    mas, mau donk ngasih siraman ttg kiat menulis di pondok pesantren? 😉

  40. Salut dech, terus nulis ya kak!

    Tularin semangat nulisnya buat pemula seperti saya yaa… yang pengen nulis tapi suka bingung mo nulis apa, jadinya yg paling gampang nulis tentang diri sendiri deh. Lho kok jd curhat sendiri…hehehe…

  41. Terlepas dari ada atau tidaknya unsur klenik dalam kisah nyata ini, di situlah letak keistimewaan orang tua terutama Ibu. Bahkan Nabi SAW pernah berkata bahwa ridho Allah itu bergantung dari ridho kedua orang tuanya,
    Nah, pertanyaannya adalah sudah seberapa besar bakti kita kepada orang tua kita tunjukkan?
    Ada juga loh anak yang berharap orang tuanya cepat mati demi alasan tertentu (kebanyakan sih karena alasan harta).
    Kita semua akan merasakan betapa beratnya perjuangan orang tua di kala membesarkan kita sebagai anak manakala kita berada di posisi mereka alias ketika kita berumah tangga dan memiliki anak.
    So.. buat yang ortunya masih hidup, manfaatkanlah sebesar-besarnya kesempatan itu untuk menujukkan bakti kita kepada ortu.

  42. Hadits yang mengatakan bahwa “surga di bawah telapak kaki ibu ” hendaknya jangan dimaknai secara harfiah, yang kemudian diterjemahkan bahwa berbakti kepada ibu harus mencuci kakinya, atau perbuatan lain sejenisnya. Menurutku, hadits ini ada dua makna :
    1. bahwa untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya terutama ibunya.
    2. bahwa kebahagiaan anak di dunia dan akhirat bergantung pada kasih sayang pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya. Orangtuanyalah yang bisa membawa ia ke surga

    Terima kasih masukannya… membasuh kaki Ibu, hanya syari’at; kabarnya hadits itu pun dhoif….

  43. Surga berada ditelapak kaki ibu bisa diartikan kita harus patuh akan nasihatnya serta bisa berbakti dengan sepenuh hati dan bisa mengerti dengan cara apa bisa membahagiakannya.

  44. jjrnya skrg ak tiba2 kpengen mmbasuh kaki mamaku,untuk mndpatkan kberkahan hdup..ak iseng seacrh d google ap ad hadis tntng hal ini..and ak liat blog ini,ak baca dan subhanallah apa ak bisa ky jamal??
    bisa membhagiakan kedua orang tuaku..
    krna slma ini,ak ngrsa cuma nyusahin mrka..

    keren banget tulisannya,mksh dah mmberiku insprisi baru untuk hdup lbih baik kdepannya..trima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *