Kisah 1

Saya ingat, dulu, sewaktu duduk di kelas 4 SD, pernah tergabung dalam Grup Calung, namanya Mekar Sari asal Tamansari, Bogor. Calung itu salah satu jenis kesenian dari Jawa Barat. Saya megang kosrek, itu alat musik calung sayang paling mudah, hanya sebilah bambu yang diiris permukaannya, digesek saja pake uang logam cepe-an, dan berbunyi “srek…srek..srek…”, makanya namanya pun kosrek.

Seni tradisional Sunda makin sepi peminat. Akan tetapi, ketika beberapa hari lalu Gubernur Jawa Barat diduga melarang tari Jaipong, maka hebohlah para pelestari seni Sunda. Gubernur menyatakan bahwa perlu mengurangi tarian yang mengandung unsur 3G (Geol, Gitek, Goyang). Maka, ramailah media massa memberitakan.

Rupanya, ada birokrat di jajaran bawahnya yang mengubah himbauan itu menjadi larangan. Anjuran menjadi perintah melarang. Normatif menjadi eksekusi. Birokrat yang jadi peniup isu itu pun tidak nyata identitasnya, bersembunyi dibalik nama atasannya. Rupanya kejadian yang sama terjadi ketika pemerintahan gubernur yang lama. Dikira melarang, padahal tidak.

Ada birokrat pengecut dengan ciri pertama, yaitu menggunakan nama atasannya untuk menguatkan eksistensinya. Posisi dianggapnya alat untuk melarang. Tidak berani menggunakan namanya, maka digunakan nama oran besar. Hasilnya, resah di masyarakat, sementara dia bersembunyi.

Kisah 2

Saya pernah mengajukan permintaan bantuan untuk melaksanakan pesantren kilat. Dana yang dijanjikan 2.5 juta rupiah. Saya mengajukan proposal. Dana cari, siap diambil. Staf saya langsung mengetik jumlah yang dijanjikan, beserta namanya. Dia pergi ke kantor birokrat itu. Sampai disana, ditegur,

“Kenapa jumlah nominalnya diketik? Itu biar kita yang mengetik… cepetan ganti…” kata briokrat itu.

Staf saya bingung. Mau jujur kok susah. Akhirnya kuitansi diganti. Kali ini jumlah nominalnya kosong. Diberikan kepada birokrat tadi, dan dana pun cair. Dari 2.5 juta rupiah yang dijanjikan, yang diterima 2 juta rupiah, dengan kuitansi kosong nominalnya. Entah berapa yang nanti dituliskan disana.

Ini birokrat pengecut dengan ciri yang kedua. Mengambil keuntungan untuk institusi birokrasi dengan merugikan orang lain, bahkan menyakiti.

Kisah 3

Setiap Senin malam, jam 21.00 ada acara KPK di Trans TV. Kumpulan Perkara Korupsi. Dirancang demikian bagus dan detail. Menceritakan proses para birokrat yang kemudian terjerat kasus korupsi. Kerugian yang diderita negara hingga milyar-an. Jumlah uang yang jika dibagikan kepada rakyat, akan menghasilkan senyum yang sangat lebar dari hati yang sangat berterima kasih.

Para birokrat yang korup itu menduduki kursi terhormat, mobil mewah, rumah besar, diliput televisi, koran dan dunia maya.

Ini ciri birokrat pengecut ketiga, yang tidak punya hati nurani. Menjadikan posisi sebagai alat pengeruk keuntungan sendiri. Ini birokrat yang tidak takut kepada Tuhan dan parahnya berteman dengan setan. Tidak sadar bahwa uang haramnya akan menjadi darah dan daging untuk keluarganya, menjadikan setiap amal ibadahnya tidak diterima.

Para birokrat pengecut masih banyak berkeliaran. Menggunakan nama besar orang lain, merugikan orang lain, menyakiti orang lain dan tidak takut kepada Tuhan.

Mungkin saja mereka terselip dan berkaitan dengan orang-orang yang baliho, spanduk, poster dirinya kini bertebaran di jalan-jalan utama hingga pelosok desa. Beberapa diantara mereka akan kita pilih dan menentukan lahirnya birokrat-birokrat lain, yang bisa jadi diantaranya memiliki mental pengecut. Mudah-mudahan tidak banyak. Mudah-mudahan tidak salah pilih.

One thought on “3 Ciri Birokrat Pengecut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *