Baban Sarbana

Social Business Coach

Browsing Archive:

Daily Archives: June 11, 2019

Keren! Di Los Angeles Ada Warung Jawa

Jalan-jalan ke luar negeri lebih dari seminggu, pasti sudah kangen dengan masakan Indonesia. Lidah tak bisa bohong. Begitu juga pengalaman saya ketika traveling ke Los Angeles dan berburu makanan Indonesia hingga menemukan Warung Jawa. Seru!

Rasanya tak lengkap bila saya sudah merasakan makanan dari 4 benua, yaitu Eropa, Amerika, Asia, Afrika. Selama satu minggu traveling di Los Angeles, AS, kalau belum mencicipi makanan dari negeri sendiri, terutama sambal, rasanya ada yang kurang.

Saya termasuk yang sangat menyukai sambal. Kalau kata orang, hambar sayur tanpa garam, lain halnya dengan saya yang ‘haram’ jika makan tanpa sambal!

Niat kuat yang terkumpul selama satu minggu akhirnya terlaksana, ketika saya membaca satu majalah yang memberikan alamat Wong Java House. Wong Java House merupakan, warung Jawa yang ada di Alhambra. Hmmm, lidah sudah melet saja membayangkan makanan yang akan tersaji.

Masalahnya adalah, letak Alhambra agak jauh dari tempat menginap saya di Downtown, LA. Tapi, demi ayam goreng dan semangkuk kecil sambal, ditambah lalapan yang sudah dirindukan, akhirnya saya nekat mengejar makanan istimewa pengobat rindu itu ketempat yang jauh.

Saya menggunakan kereta Metro Rail Train, dari 7th Street Metro Center. Untuk menaiki alat transportasi ini, traveler harus membayar sekitar USD 7 atau Rp 67.300 untuk Tap Card yang artinya, bisa menggunakan kereta dan bus yang terkoneksi selama seharian. Hitung-hitung sebagai persiapan jika tersesat. 

Benar saja, saya tersesat. Turun di stasiun paling ujung karena keenakan naik kereta alias ketiduran. Kemudian, saya bertanya ke orang sekitar dan mereka memberi tahu kalau akan ke Alhambra, turunnya di Memorial Park Station dan dilanjutkan dengan naik Metro Bus 762.

Alhasil, saya kembali lagi naik kereta. Untungnya tiket masih Tap Card selama satu hari, jadi tak perlu bayar lagi.

Turun dari kereta, saya pun menyeberangi 2 blok dan sampai di Fair Oaks. Tak lama berdiri di halte kecil, lewatlah bus 762. Tapi, berhentinya tidak di halte. ‘Supirnya baik hati’ meminta saya mengejar bus.

Ternyata halte tempat saya menunggu, bukan untuk bus 762, tapi 260. Jadilah saya berlari lumayan kencang mengejar bus tersebut. Meskipun capek, tetap bisa terkejar.

Naik Metro Bus, kemudian berlanjut ke Alhambra. Waktu yang ditempuh lumayan lama, sekitar 30 menitan. Tapi, jauh dan lama tak sebanding dengan nikmatnya makanan yang akan saya santap di warung Jawa.

Sampai di Alhambra, ternyata saya harus berjalan kaki lagi lumayan jauh. Mencari alamat dengan nomor rumah 1936, sementara saya berhenti di nomor 1000-an. Berjalan lah saya lumayan jauh. Tak apalah menikmati saja sore yang lumayan indah itu dan rela perut keroncongan.

Jelang pukul 19.00 akhirnya saya sampai di Wong Java House yang beralamat di 1936 West Valley Boulevard Alhambra, LA. Restonya kecil, tapi suasananya asri. Ketika ingin masuk, saya didahului oleh dua gadis yang cukup menarik, sepertinya mahasiswi.

Saya masuk dan langsung merasa seperti berada di Indonesia, mulai dari sapaan dan menu yang disajikan. Langsung saja saya memilih dan memesan ayam bakar ditambah sambal, dengan minuman es kelapa. Yummy….

Rupanya di restoran Wong Java ini menunya lumayan lengkap. Se-Nusantara ada, bukan makanan Jawa saja. Tidak heran, kalau pengunjung yang datang pun beraneka rupa. Termasuk dua gadis di hadapan saya yang sedang ketawa-ketiwi dan tak ada habisnya mengobrol.

Sambil menunggu makanan datang, saya memberanikan diri untuk mengajak ngobrol kedua gadis tersebut. Karena sama-sama dari Indonesia, mereka pun menyambut baik. Ternyata, kedua gadis manis ini adalah mahasiswa bidang keperawatan dan animasi. Gadis yang satu berasal dari Jakarta dan yang satu lagi dari Salatiga, Jawa Tengah. 

Akhirnya, dinner saya yang tadinya hanya sendirian berkat kebaikan dua gadis tadi, jadi bisa bersantap bersama. Asyiknya! Makan di Wong Java House, tidak cuma dapat makanan Indonesia, tapi kehangatan khas Indonesia. Apalagi bisa makan malam bersama pula dengan dua gadis Indonesia.

Obrolan pun makin seru ketika menceritakan kegiatan masing-masing. Yang saya kaget, ketika salah satu dari mereka bilang kalau dia lebih mencintai dan ingin mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, justru setelah berada di Los Angeles. Hal ini dirasakan karena cerita tentang Indonesia yang belum mereka tahu banyak oleh teman-teman bulenya.

Seusainya makan malam, saya ditanya mau pulang menggunakan apa. Saya bilang, saya naik bus dilanjutkan dengan kereta. Beruntung, mereka dengan baik hati menawari saya ikut numpang di mobilnya karena lokasi hotel saya yang berada di Downtown masih satu jalur dengan perjalanan mereka. Saya pun dengan senang hati menerima tawarannya sambil membayangkan, jika naik bus ditambah kereta yang akan memakan waktu hampir 2 jam.

Pulanglah saya dengan perut kenyang dan hati senang. Apalagi, naik mobil kawan-kawan baru sambil bertukar cerita. Ternyata, waktu tempuh saya siang tadi ke Wong Java House dari Downtown yang hampir 2 jam, kini dengan mobil pribadi bisa ditempuh dengan waktu hanya 15 menit saja. Memang, di LA lebih enak naik mobil pribadi daripada naik transportasi umum, apalagi bus.

Wah, pengalaman yang sangat seru dan menyenangkan. Makan di warung yang menyajikan makanan tradisional Indonesia dan mendapat kawan yang keramahannnya khas Indonesia. Kenyang, senang, happy! I love Indonesia.

Pelatihan Budaya Organisasi

Melalui metode Mind-Mapping, disusun budaya organisasi untuk pengelolaan Kebun Raya Bogor. Alhamdulillah, Kebun Raya Bogor yang merupakan ikon Bogor dan juga bagian dari ikon dunia, mendapatkan banyak pengakuan terhadap pengelolaannya.

Para Guru Motivasi

Keduanya adalah guru-guru saya. Mas Jamil Azzaini dan Guz Reza Syarief. Mengajarkan banyak hal tentang bagaimana menjadi trainer yang baik dan menginspirasi.

Energi keduanya menjadi bagian dari perkembangan diri saya untuk menjadi trainer, fasilitator, penulis yang berbagi kisah dan inspirasi ke semua orang.

Terima kasih Mas Jamil Azzaini

Terima kasih Guz Reza Syarief

Karya Inovasi Mainan Edukasi

Beberapa karya inovasi yang dihasilkan, utamanya adalah mainan edukasi. Mulai dari Mainan Edukasi Gizi Seimbang, Kartu Edukasi KINARA (Kisah Nabi & Rasul) serta Puzzle Doclang 99 (Dongeng Anak Cemerlang Asmaul Husna).

Geopreneur: Wirausaha Sosial Berbasis Desa

Semudah 1,2,3,4,5:

  1. Dimulai dari CALLING (panggilan)
  2. Lestarikan Alam, Sejahterakan warga
  3. Define (Tujuan), Design (Rancang Strategi), Do it (Lakukan Tindakan)
  4. Kolaborasi Motor, Mitra, Mentor dan Maestro
  5. Sinergi Pemerintah, Komunitas, Media, Akademik. Dunia Bisnis

Putra Daerah Membangun

Membangun jejaring bersama dengan kawan-kawan seperjuangan, para social entrepreneur yang pulang kampung mengabdi untuk kemajuan daerah masing-masing.

Semuanya karena terpanggil (CALLING). Betul-betul dari hati terdalam untuk terlibat lebih banyak memajukan negeri melalui desa.

Baduy Pasti Tak Berlalu

Tiba di Ciboleger jam 10 malam. Perjalanan yang lumayan jauh, setelah sehari sebelumnya shooting di Pantai Sawarna.

Terminal Ciobleger, yang menjadi pintu masuk ke perkampungan Baduy luar, di malam itu, saat bulan puasa, sudah sepi dari kendaraan, tapi masih ramai oleh beberapa anak muda yang nongkrong, ada yang sekedar ngobrol, nyanyi-nyanyi dan beberapa orang bermain bola.

Kang Aad, yang menemani kami selama shooting di Banten ini, segera menemui Jaro alias Kepala Desa Bojong Menteng. Cukup lama juga kami menunggu kang Aad muncul kembali untuk memberikan kabar, apakah kami diterima oleh Jaro atau tidak.

Kang Aad muncul ditemani beberapa anak muda, bukan orang Baduy.
“Pak.. maaf, Jaro-nya sudah tidur, jadi baru bisa ditemui besok pagi saja” kata salah seorang dari mereka.
“Sementara, bisa langsung ke Kang Omo di Rumah Singgah Baduy” lanjutnya.

Continue reading