Baban Sarbana

Social Business Coach

Desa Butuh Lo Sob!

Buku Desa Butuh Lo Sob adalah kumpulan tulisan tentang strategi taktis untuk melakukan wirausaha sosial berbasis desa…

Ditulis oleh para penggiat wirausaha sosial di komunitas Putra Daerah Membangun.

OCTABRAND

Anda mau tahu bagaimana membangun personal branding? silahkan isi kuisioner berikut ini dan Anda akan mendapatkan umpan balik segera.

link: https://forms.gle/HFb4qgdQC7JVqKr57

Terima kasih.

Innangkis (Inovasi Penanganan Kemiskinan)




Innangkis (Inovasi Penanganan Kemiskinan) Tamansari.
Penggagas: Baban Sarbana, Mahasiswa S3, Program Komunikasi Pembangunan, FEMA IPB; Ketua Umun Himpunan Alumni IPB Kab Bogor, Direktur BUMDES Tamansari.
Azizah Halimah, Pengurus DPP HA IPB, Ketua Karang Taruna Desa Sirnagalih.

Paparan kami bagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Apa yang SUDAH kami lakukan (sejarah dan rekam jejak)
2. Apa yang AKAN kami lakukan (harapan di masa depan)
3. Apa yang sedang kami lakukan (program saat ini)

PERTAMA
Kecamatan Tamansari terdiri dari 8 Desa, salah satunya Desa Tamansari yang menjadi locus awal program Innaking Kab Bogor 2019. Selanjutnya akan merambah ke desa-desa lain dengan pengembangan model sesuai situasi dan kondisi.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat dan penanganan kemiskinan, dilakukan oleh Yayasan Berkah Yatim Mandiri atai YatimOnline sejak 2010. Awalnya mengumpulkan santunan melalui jejaring online seperti facebook dan BBM (saat itu). fokus pada anak yatim, piatu dan yatim piatu serta dhuafa. Terdapat 73 anak yang menjadi anggota. Tahun 2011, YatimOnline mendapat penghargaan dalam Aksi Klikhati sebagai gerakan sosial yang menggunakan social media.
Tahun 2013, setelah melihat profile keluarga yatim dhuafa, dimana Ibu menjadi pilar ekonomi, maka didirikan KUBYD (Kelompok Usaha Bunda Yatim Dhuafa) dengan anggota 29 orang dan menjadi cikal bakal Koperasi Cilawi (Cinta Telaga Wisata).
Tahun 2014, mendirikan PAUD An Nahlya, untuk akses pendidikan usia dini, dan berjalan hingga saat ini.
Tahun 2018, rintisan yatimonline terkait kesehatan yaitu Kampung IDEAS (Integrasi Desa Anti Stunting) menjadi salah satu praktek baik dan dipresentasikan di ASEAN – India Grassroot Innovation Forum di Puspitek Tangerang, serta SUN Annual Meeting di Bappenas RI.
Perjalanan sejarah YatimOnline menggambarkan fokus pada 3 pilar pembangunan manusia, yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi.
Hingga saat ini, anggota yatimonline ada yang telah lulus menjadi sarjana dan diploma.

 Kami akan cerita tentang Ibu Y, yang rumahnya (seharusnya) mendapat bantuan renovasi rumah yang saat ini bernama Rutilahu; janji mulai disampaikan saat pilkades bbrp tahun lalu, rumahnya salah satu yang akan direnovasi. Setelah pilkades berakhir dan sang calon jadi, ternyata janji tidak terpenuhi, rumah tetap dalam kondisi mempirhatinkan. hingga suami Ibu Y pun jatuh sakit dan beberapa waktu kemudian jatuh sakit dan meninggal. Dua anak Ibu Y mendapat santunan pendidikan dan melanjutkan sekolah. Suatu saat, Yayasan mengumpulkan donasi secara online dan berhasil mengumpulkan dana untuk merenovasi rumah. Selain itu, Ibu Y juga diberi modal usaha, berjualan karedok; kebetulan kakaknya memiliki keahlian membuat sendal, sehingga ada kakak yang BEKERJA, Ibu yang memiliki USAHA dan adik-adiknya yang SEKOLAH. Itulah program yang kami lakukan selama ini dan sudah berjalan selama hampir 10 tahun. Begitu pola potret keluarga yatim lainnya.

KEDUA.
Di masa depan, kami fokus pada penerima manfaat, utamanya wilayah yang menjadi kantong kemiskinan. Minimnya data resmi dan akses digital yang tidak kami dapatkan, membuat kegiatan kami seolah tak ‘membantu orang2 miskin’; padahal kenyataannya, orang2 yang kami bantu, secara kasat mata memang berada dalam kemiskinan dan beberapa tidak terdata resmi. Ke depan, DATA PENERIMA MANFAAT, MITRA YANG TEPAT, dan MEMBANGUN PARTISIPASI WARGA dalam Self Help alias menolong dirinya sendiri, menjadi prioritas.
Data yang baru sepekan lalu kami dapatkan dari PKH, itu pun masih data mentah, belum diolah jadi infografis, menunjukan memang locus di RW 5, utamanya RW 4 (Legok Emper) yang selama ini kami lakukan, adalah penerima terbanyak PKH (20 keluarga); itu pun belum semua terdata. Padahal RT 4 RW 5 memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata karena letaknya di sisi Setu Tamansari dan warganya memiliki kemampuan membuat olahan makanan, utamanya makanan tradisional. Ke depan, dalam rangka penangan kemiskinan, lokasi RT 4 RW 5 ini akan dijadikan kampung wisata kuliner tradisional dan edukasi gizi dan anti stunting (masih ada penderita KEK dan stunting). Dalam rangka program desain kampung anti stunting inilah, kami sedang mengajukan kemitraan dengan Bappenas RI, semoga di tahun 2020, terealisasi. Kami juga menjajaki kemitraan dengan Lawang Geledegan yang berjarak 1.5 KM dari setu tamansari.
Selain RT 4  RW 5, wilayah penerima PKH terbanyak adalah RW 8, Bobojong. Padahal di lokasi tersebut terdapat sentra pohpohan dan hutan taman nasional yang dikelola mandiri oleh Kelompom Tani yang dipimpin Bapak Tawi.
Dua lokasi yang menjadi kantong penerima PKH terbanyak, dengan potensi yang cukup besar, hanya saja belum optimal, menjadi prioritas kami melalui program ORTOP (One RT One Product).

Kami memotret keluarga penerima manfaat, menjadi 3 posisi, diibaratkan tangan, yaitu:
1. Tangan di Bawah
adalah anak-anak usia sekolah atau lanjut usia; yang belum bisa mendapatkan penghasilan. Mereka harus mendapatkan SANTUNAN untuk AKSES PENDIDIKAN
2. Tangan di Tengah
Anggota keluarga PM yang putus sekolah atau telah selesai masa sekolah, memiliki potensi untuk mendapat penghasilan, oleh karena itu kebutuhannya adalah LAPANGAN PEKERJAAN dan BALAI LATIHAN KERJA
3. Tangan di Atas
Ibu-ibu atau anak muda yang didampingi untuk melakukan  rintisan usaha. Oleh karena itu, mereka butuh MODAL dan PENDAMPINGAN USAHA.

Ketiga posisi tangan dalam keluarga penerima manfaat inilah yang menjadi prioritas program penanganan kemiskinan, sehingga setiap keluarga PM akan:
1. Meningkatkan pendapatan keluarga
2. Mendapatkan pekerjaan
3. Mendapatkan akses pendidikan standar (SMA/SMK), jika perlu sampai kuliah

CONTOH.
Ina…, anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakaknya tamatan SMP, Inayah menjadi satu-satunya yang (insyaallah) tamat SMA dan semoga lanjut kuliah. Saat ini, Inayah mendapatkan beasiswa pendidikan dari Yayasan di SMK Kesuma Bangsa, jurusan desain grafis dan difasilitasi kursus mingguan dari relawan guru untuk meningkatkan keahliannya.
Ibunya Ina adalah ART, dengan penghasilan Rp 400K/bulan, setelah sebelumnya bekerja sebagai penjaja kopi tarling (starbuck keliling) di Pasar Bogor, suaminya sudah wafat.
Keluarga ini tak terdata sebagai penerima PKH, penerima Rutilahu.
Ke depan, kami memastikan menjamin biaya pendidikannya, karena ibunya tidak mungkin berusaha, hanya bisa bekerja.

Hal seperti ini harusnya menjadi tanggung jawab negara. Persoalan pendidikan adalah hal krusial yang merupakan investasi masa depan.
Masih banyak Ina-Ina yang lain yang kondisinya sama atau malah lebih memprihatinkan.

KETIGA
Apa yang kami lakukan saat ini?

Kami menyusunnya menjadi 3 tahapan, yaitu GEO
1. Goals
Memastikan akurasi penerima manfaat melalui kroscek data dengan PKH, Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni), BLNT (Bantuan Langsung Non Tunai), BSM (Bantuan Siswa Miskin) dan program-program pemerintah lainnya; supaya terdata dan tertata dengan baik.
2. Ecosystem
Memastikan stakeholders terkait penanganan kemiskinan di tingkat desa bisa sinergis, seperti (BUMDES, Kelompok Swadaya Masyarakat, Posyandu, Karang Taruna, PKK, dll) serta lembaga di tingkat kecamatan dan kabupaten (dinas terkait). Selain itu, Ekosistem penanganan kemiskinan juga melibatkan komunitas, dunia usaha, media dan dunia akademik atau yg dikenal sebagai sinergi Pentahelix – ABCGM (Academic, Business, Community, Government, Media)
3. Organization
Organisasi partisipatif yang melibatkan warga untuk mencari solusi bersama-sama, sehingga tersusun peta masalah dan potensi, penyusunan program dan action plan yang melibatkan ekosistem penangan kemiskinan.
Kami saat ini sudah memiliki badan hukum Yayasan (aspek pendidikan), rintisan koperasi (aspek ekonomi), rintisan IDEAS- Integrasi Desa Anti Stunting (aspek kesehatan) dan terbuka untuk bermitra dengan berbagai pihak.

CLOSING:
kami yakin, kehebatan kita bukan karena kenal dengan orang-orang kuat, akan tetapi bisa jadi karena terkabulnya do’a orang-orang lemah yang kita bantu dengan ikhlas.

Milenial Sang Geopreneur

Yogyakarta – Milenial dikenal sebagai generasi yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru, salah satunya berbisnis. Hanya saja milenial tak melulu mengetahui tahapan-tahapan bisnis sehingga seringkali bisnis yang dibangun jatuh sebelum waktunya.  Dalam rangka menguatkan potensi berbisnis 176 penerima manfaat Beastudi Etos, pada Minggu (05/08) Sociopreneur Camp (SPC) 2019 menggelar Training Inovasi Pemberdayaan bersama Baban Sarbana, CEO PT. Rumah Tulis.

Baban mengatakan jika keinginan milenial untuk membangun bisnis merupakan hal positif. Bila milenial menjadi pengusaha, tentu akan memiliki dampak baik untuk masyarakat. Keinginan besar milenial untuk membangun bisnis, menurut Baban, dapat dioptimalisasi sedini mungkin melalui pengembangan strategi melalui pemberdayaan masyarakat.

“Sudah sepatutnya milenial mengubah masalah menjadi potensi dan memaksimalisasi solusi dengan melihat kebutuhan masyarakat di lokasi tempat kalian tinggal,” ujar Baban.

Dalam pendekatan bisnisnya Baban menggunakan Geopreneur sebagai acuan dalam pemberdayaan masyarakat. Geopreneur merupakan pendekatan kewirausahaan sosial berbasis pertanian dan perdesaan yang Baban kembangkan dengan membuat Goal-Setting, Empowerment, Organization melalui tiga langkah membangun kewirausahaan sosial.

“Menetapkan tujuan bersama melalui pendekatan partisipatif wajib dilakukan milenial. Sebab hal tersebut akan membentuk soical mapping sehingga kalian bisa menilik masalah maupun potensi yang ada di masyarakat,” kata Baban. “Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan berbasis daya saring, daya saing, dan daya sanding akan menghasilkan proses bottom up dan didukung oleh stakeholders yang memiliki peran penting dalam pengentasan masalah dan pengoptimalan potensi masyarakat,” tambahnya.

Baban mengingatkan anak muda untuk menjadi wirausaha yang mengikuti perkembangan zaman melalui ekonomi digital tanpa melupakan penyusunan action plan yang disertai dengan eksekusi detail dan melibatkan ragan komponen masyarakat.

“Jadilah milenial yang kompeten dan berkomitmen menuntaskan agenda membangun masyarakat,” pesan Baban. (AR)

Sociopreneur, Solusi Perubahan Sosial dengan Pendekatan Wirausaha

Foto : Istimewa

Ketika menyebut kata entrepreneur apa yang pertama kali terbesit di pikiran teman-teman?. Istilah ini tentu tak asing lagi di telinga kita, utamanya kaum milenial saat ini. Enterpreneur yang dalam bahasa indoesia berarti wirausahawan selalu identik dengan bisnis.

Namun tahukah kamu ada istilah lain dari kata entrepreneur yang mungkin kalian belum ketahui?, istilah itu adalah sociopreneur, seorang entrepreneur yang melakukan kegiatan bisnisnya dengan tujuan memperdayakan lingkungan.
Jika interpreneur pada umunya hanya fokus menghasilkan profit, sociopreneur juga berfokus membuat perubahan sosial. Memulai bisnis dengan model seperti ini butuh proses, komitmen dan persiapan yang matang. Prospek kerja di bidang ini pun sangat mumpuni, selain berwirausaha juga dapat membawa manfaat bagi orang banyak.

Untuk mengulas lebih dalam mengenai sociopreneur, reporter identitas, Muhammad Arwinsyah berkesempatan melakukan wawancara dengan Baban Sarbana, seorang sociopreneur, sekaligus Founder Kampung Wisata Edukasi Gizi Seimbang (Zimba) serta pendiri Yayasan Berkah Yatim Mandiri (YatimOnline). Berikut kutipan wawancaranya saat mengisi kegiatan Training Inovasi Pemberdayaan yang diadakan Beastudi Indonesia, di Yogyakarta, Minggu (05/08).

1. Apa pendapat Anda tentang Sociopreneur?

Sociopreneurship adalah pilihan solusi di masyarakat untuk menyelesaikan masalah sosial melalui pendekatan wirausaha. Banyak cara untuk mewujudkan kesejahteraan di masyarakat, salah satunya sociopreneurship. Kini, sociopreneur menjadi gaya hidup dan jalan hidup bagi banyak orang, termasuk kaum milenial untuk menjadi bagian dari proses perwujudan kesejahteraan masyarakat.

2. Apa yang membuat anda memilih bidang ini?

Saya memilih bidang ini bukan karena tertarik di bidang sociopreneur. Tetapi, karena panggilan/calling ketika memutuskan untuk kembali ke desa, membangun masyarakat dan memilih sociopreneurship sebagai metodenya.

3. Usaha-usaha apa saja yang Anda lakukan di bidang ini?

Saya melakukan sociopreneurship melalui 3 pendekatan, yang saya singkat menjadi GEOpreneur. GEOpreneur merupakan singkatan G (Goals), E (Empowerment) dan O (Organization).
– Goals dimulai dari dua hal, pertama memahami masalah dan potensi yang ada di masyarakat, kemudian merancang tujuan-tujuan berjangka yang menjadi rencana pencapaian. Sejak 2010, terhitung hamper 10 tahun hingga saat ini, kami berproses dengan dinamika dan potensi masyarakat untuk menentukan tujuan bersama dan berikhtiar mewujudkannya.
– Empowerment adalah proses pemberdayaan masyarakat, melalui berbagai pendekatan, mulai dari aspek pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat adalah proses berkelanjutan yang harus terus berjalan, hingga masyarakat bisa membantu dirinya sendiri.
– Organization adalah mendirikan organisasi untuk mengelola kegiatan sociopreneurship yang berbadan hukum, mulai dari yayasan, koperasi hingga badan usaha.
GEOPreneur inilah yang menjadi platform untuk dalam pelaksanaan sociopreneur yang kami lakukan.

4. Bagaimana mahasiswa dapat meningkatkan kreativitasnya di bidang ini?

Mahasiswa harus lebih peka untuk mendefinisikan masalah dan potensi yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Mahasiswa juga harus banyak belajar, baik dari literatur maupun belajar dari praktik-praktik yang telah dilakukan oleh para pendahulunya. Yang lebih penting adalah memanfaatkan teknologi yang semakin pesat berkembang untuk mengelola sociopreneuship, sehingga menjadi technosociopreneur.

5. Kreativitas/skill apa saja yang mesti mahasiswa miliki agar mampu membangun semangatnya untuk bergerak di bidang ini?

Melatih kemampuan berpikir seperti HOTS (High Order Thinking Skill) sehingga kita bisa menjawab masalah dari berbagai sudut pandang. Kreativitas seperti ini akan menghasilkan mahasiswa yang tidak hanya pintar (memahami banyak hal dari satu sudut pandang), akan tetapi juga menghasilkan mahasiswa yang bijak (memahami satu hal dari banyak sudut pandang). Kreativitas dalam menulis juga perlu dilatih, karena socipreneurship adalah kemampuan membangun narasi yang menyentuh hati banyak orang dan menggerakannya. Yang terakhir, kreativitas dalam meningkatkan kompetensi digital, sehingga bisa menjadi pemenang dalam era digital.

6. Mengapa mahasiswa mesti bergerak di bidang ini?

Mahasiswa adalah agen perubahan atau agent of change, oleh karena itu harus menekuni sociopreneurship, karena sociopreneurship adalah bagian dari upaya melakukan perubahan di masyarakat. Mahasiswa juga adalah iron stock, generasi penerus yang akan memastikan bangsa ini sampai pada cita-citanya sesuai janji kemerdekaan, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan.

7. Bagaimana prospek kedepannya?

Prospek sociopreneurship sangat bagus, karena berkembang pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Jika dulu, aktivitas sosial seolah terpisah dengan bisnis, maka pendekatan sociopreneurship saat ini bisa menjadi pilihan tepat bagi mahasiswa sebagai pilihan jalan hidupnya.

8. Perencanaan apa saja yang mesti dimiliki agar mampu membangun jiwa Sociopreneur?

Saya menyebut proses perencanaan ini dengan singkatan KEPOlogi, yaitu:
– Kondisi. Memahami kondisi masyarakat yang menjadi obyek kegiatan pemberdaayan ekonomi masyarakat. Mendefinisikan masalah dengan sejelas-jelasnya, karena memahami masalah adalah bagian dari menghasilkan solusi.
– Elaborasi. Melakukan elaborasi potensi yang bisa digali di masyarakat dan sekitarnya. Galian potensi yang sekaligus bisa menjadi potensi menyelesaikan masalah.
– Program. Menyusun program bersama dengan masyarakat dan stakeholders (pemerintahan desa, komunitas, akademisi, dll)
– Optimalisasi. Menyusun tujuan-tujuan berjangka ke depan untuk bisa mengoptimalkan potensi dan jaringan yang ada; serta menyusun program-program yang tertata untuk mewujudkannya.

9. Apakah mesti punya role model dalam melakukan kegiatan kedepannya?

Sociopreneur harus memiliki role model untuk mempelajari kesuksesan dan kegagalan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Role model bisa dipelajari baik secara langsung maupun melalui media digital. Role model juga bisa dijadikan sebagai mentor yang bisa memberikan gambaran jalan yang akan ditempuh sebagai sociopreneur.

10. Harapan Anda terhadap Sociopreneur kedepannya?

Saya harap seorang sociopreneur menjadikan dirinya sebagai Angel of Change (malaikat perubahan) yang tidak pernah berhenti belajar.

Keren! Di Los Angeles Ada Warung Jawa

Jalan-jalan ke luar negeri lebih dari seminggu, pasti sudah kangen dengan masakan Indonesia. Lidah tak bisa bohong. Begitu juga pengalaman saya ketika traveling ke Los Angeles dan berburu makanan Indonesia hingga menemukan Warung Jawa. Seru!

Rasanya tak lengkap bila saya sudah merasakan makanan dari 4 benua, yaitu Eropa, Amerika, Asia, Afrika. Selama satu minggu traveling di Los Angeles, AS, kalau belum mencicipi makanan dari negeri sendiri, terutama sambal, rasanya ada yang kurang.

Saya termasuk yang sangat menyukai sambal. Kalau kata orang, hambar sayur tanpa garam, lain halnya dengan saya yang ‘haram’ jika makan tanpa sambal!

Niat kuat yang terkumpul selama satu minggu akhirnya terlaksana, ketika saya membaca satu majalah yang memberikan alamat Wong Java House. Wong Java House merupakan, warung Jawa yang ada di Alhambra. Hmmm, lidah sudah melet saja membayangkan makanan yang akan tersaji.

Masalahnya adalah, letak Alhambra agak jauh dari tempat menginap saya di Downtown, LA. Tapi, demi ayam goreng dan semangkuk kecil sambal, ditambah lalapan yang sudah dirindukan, akhirnya saya nekat mengejar makanan istimewa pengobat rindu itu ketempat yang jauh.

Saya menggunakan kereta Metro Rail Train, dari 7th Street Metro Center. Untuk menaiki alat transportasi ini, traveler harus membayar sekitar USD 7 atau Rp 67.300 untuk Tap Card yang artinya, bisa menggunakan kereta dan bus yang terkoneksi selama seharian. Hitung-hitung sebagai persiapan jika tersesat. 

Benar saja, saya tersesat. Turun di stasiun paling ujung karena keenakan naik kereta alias ketiduran. Kemudian, saya bertanya ke orang sekitar dan mereka memberi tahu kalau akan ke Alhambra, turunnya di Memorial Park Station dan dilanjutkan dengan naik Metro Bus 762.

Alhasil, saya kembali lagi naik kereta. Untungnya tiket masih Tap Card selama satu hari, jadi tak perlu bayar lagi.

Turun dari kereta, saya pun menyeberangi 2 blok dan sampai di Fair Oaks. Tak lama berdiri di halte kecil, lewatlah bus 762. Tapi, berhentinya tidak di halte. ‘Supirnya baik hati’ meminta saya mengejar bus.

Ternyata halte tempat saya menunggu, bukan untuk bus 762, tapi 260. Jadilah saya berlari lumayan kencang mengejar bus tersebut. Meskipun capek, tetap bisa terkejar.

Naik Metro Bus, kemudian berlanjut ke Alhambra. Waktu yang ditempuh lumayan lama, sekitar 30 menitan. Tapi, jauh dan lama tak sebanding dengan nikmatnya makanan yang akan saya santap di warung Jawa.

Sampai di Alhambra, ternyata saya harus berjalan kaki lagi lumayan jauh. Mencari alamat dengan nomor rumah 1936, sementara saya berhenti di nomor 1000-an. Berjalan lah saya lumayan jauh. Tak apalah menikmati saja sore yang lumayan indah itu dan rela perut keroncongan.

Jelang pukul 19.00 akhirnya saya sampai di Wong Java House yang beralamat di 1936 West Valley Boulevard Alhambra, LA. Restonya kecil, tapi suasananya asri. Ketika ingin masuk, saya didahului oleh dua gadis yang cukup menarik, sepertinya mahasiswi.

Saya masuk dan langsung merasa seperti berada di Indonesia, mulai dari sapaan dan menu yang disajikan. Langsung saja saya memilih dan memesan ayam bakar ditambah sambal, dengan minuman es kelapa. Yummy….

Rupanya di restoran Wong Java ini menunya lumayan lengkap. Se-Nusantara ada, bukan makanan Jawa saja. Tidak heran, kalau pengunjung yang datang pun beraneka rupa. Termasuk dua gadis di hadapan saya yang sedang ketawa-ketiwi dan tak ada habisnya mengobrol.

Sambil menunggu makanan datang, saya memberanikan diri untuk mengajak ngobrol kedua gadis tersebut. Karena sama-sama dari Indonesia, mereka pun menyambut baik. Ternyata, kedua gadis manis ini adalah mahasiswa bidang keperawatan dan animasi. Gadis yang satu berasal dari Jakarta dan yang satu lagi dari Salatiga, Jawa Tengah. 

Akhirnya, dinner saya yang tadinya hanya sendirian berkat kebaikan dua gadis tadi, jadi bisa bersantap bersama. Asyiknya! Makan di Wong Java House, tidak cuma dapat makanan Indonesia, tapi kehangatan khas Indonesia. Apalagi bisa makan malam bersama pula dengan dua gadis Indonesia.

Obrolan pun makin seru ketika menceritakan kegiatan masing-masing. Yang saya kaget, ketika salah satu dari mereka bilang kalau dia lebih mencintai dan ingin mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, justru setelah berada di Los Angeles. Hal ini dirasakan karena cerita tentang Indonesia yang belum mereka tahu banyak oleh teman-teman bulenya.

Seusainya makan malam, saya ditanya mau pulang menggunakan apa. Saya bilang, saya naik bus dilanjutkan dengan kereta. Beruntung, mereka dengan baik hati menawari saya ikut numpang di mobilnya karena lokasi hotel saya yang berada di Downtown masih satu jalur dengan perjalanan mereka. Saya pun dengan senang hati menerima tawarannya sambil membayangkan, jika naik bus ditambah kereta yang akan memakan waktu hampir 2 jam.

Pulanglah saya dengan perut kenyang dan hati senang. Apalagi, naik mobil kawan-kawan baru sambil bertukar cerita. Ternyata, waktu tempuh saya siang tadi ke Wong Java House dari Downtown yang hampir 2 jam, kini dengan mobil pribadi bisa ditempuh dengan waktu hanya 15 menit saja. Memang, di LA lebih enak naik mobil pribadi daripada naik transportasi umum, apalagi bus.

Wah, pengalaman yang sangat seru dan menyenangkan. Makan di warung yang menyajikan makanan tradisional Indonesia dan mendapat kawan yang keramahannnya khas Indonesia. Kenyang, senang, happy! I love Indonesia.