Baban Sarbana

Social Business Coach

Putra Daerah Membangun

Membangun jejaring bersama dengan kawan-kawan seperjuangan, para social entrepreneur yang pulang kampung mengabdi untuk kemajuan daerah masing-masing.

Semuanya karena terpanggil (CALLING). Betul-betul dari hati terdalam untuk terlibat lebih banyak memajukan negeri melalui desa.

Baduy Pasti Tak Berlalu

Tiba di Ciboleger jam 10 malam. Perjalanan yang lumayan jauh, setelah sehari sebelumnya shooting di Pantai Sawarna.

Terminal Ciobleger, yang menjadi pintu masuk ke perkampungan Baduy luar, di malam itu, saat bulan puasa, sudah sepi dari kendaraan, tapi masih ramai oleh beberapa anak muda yang nongkrong, ada yang sekedar ngobrol, nyanyi-nyanyi dan beberapa orang bermain bola.

Kang Aad, yang menemani kami selama shooting di Banten ini, segera menemui Jaro alias Kepala Desa Bojong Menteng. Cukup lama juga kami menunggu kang Aad muncul kembali untuk memberikan kabar, apakah kami diterima oleh Jaro atau tidak.

Kang Aad muncul ditemani beberapa anak muda, bukan orang Baduy.
“Pak.. maaf, Jaro-nya sudah tidur, jadi baru bisa ditemui besok pagi saja” kata salah seorang dari mereka.
“Sementara, bisa langsung ke Kang Omo di Rumah Singgah Baduy” lanjutnya.

Continue reading

Punya Waktu Untuk Menikmati Uang dan Punya Uang untuk Menikmati Waktu

Paling tidak, ada 4 kondisi manusia yang membedakan satu dengan yang lainnya. Terkait dengan kemampuan pengelolaan waktu dan uang.

TIDAK MEMILIKI WAKTU DAN TIDAK MEMILIKI UANG
Anda sibuk dengan kegiatan tapi sebenarnya tidak memiliki uang. Karena uang itu pada hakikatnya milik orang lain, bisa milik supir kendaraan umum, warung makan di kantor Anda.
Kondisi ini dimiliki oleh buruh atau pegawai kecil yang penghasilannya sangat pas-pasan. Bekerja sangat keras untuk menghasilkan uang yang tidak mencukupi. Pada akhirnya, hidupnya berada dalam tekanan dan kesulitan. Secara mental, orang yang berada pada kondisi ini akan lebih banyak tergantung pada kebaikan orang lain untuk memperbaiki kehidupan finansialnya.

Continue reading

IONize Yourlife

Adalah hamparan laut biru yg tenang di hari yang cerah. Sebuah kapal pesiar melintasi laut dan mengarungi gelombang. Gelombang kecil bagi kapal pesiar itu. Orang-orang yg di dalamnya tak merasakan dampak dari gelombang tersebut.

Gelombang yang sama dilintasi kapal pesiar tersebut bergerak, merayap, menyentuh sebuah perahu nelayan kecil yang digunakan oleh seorang nelayan yang sedang memancing. Gelombang yang bagi kapal pesiar bukan masalah, karena kecil bagi ukuran sebesar kapal pesiar ternyata memberikan dampak yang berbeda bagi perahu nelayan tersebut.

Segera pemilik perahu nelayan mengerahkan semua kemampuan untuk mengatasi gelombang air yang terjadi. Energinya ditingkatkan untuk mengatasi interaksi dengan gelombang tersebut. Bersyukur kualitas nelayan sangat mumpuni, sehingga bisa menari di atas gelombang, bukan tertelan atau terbawa arus.

Ripple Effect

Menari-nari di atas gelombang dengan mengikuti ritme naik turunnya gelombang itulah yang menyelamatkannya. Gelombang tak dilawannya, ritmenya yang diikuti, bahkan dinikmati.

Kemampuan Sang Nelayan mengatasi gelombang, dengan mengerahkan kualitasnya mengendalikan perahu dan kesigapannya, kecepatannya, akselerasinya, yang menyelamatkan perahunya dari hempasan gelombang.

Ini cerita tentang ION.. partikel yang terdapat pada atom, di pusatnya ada proton dan neutron, di sekelilingnya ada elektron (partikel bermuatan negatif)… perahu dan kapal pesiar adalah atom, dan berbeda komposisi IONnya pada setiap atom.

Gelombang itu adalah stimulus yang memberikan getaran dan frekuensi, yang menyentuh perahu dan menjadi stimulus baru yang mengakibatkan pergerakan. Itulah resonansi.. getaran dengan frekuensi yang tepat akan memberikan pengaruh yang tepat.

Perahu kecil mengelola ION dalam atomnya bergerak mengikuti ritme naik turun, tak melawan, tapi justru menari di atas gelombang, mengikuti ritmenya. Itulah amplitudo…

Teman-teman..
Ibaratkanlah kita ini atom yang memiliki ion negatif dan positif, keseimbangannya yg membuat atom itu stabil–tawadzun.
Allah memberikan hidayah sosial kepada kita, stimulus berupa kepekaan melihat dan merasakan masalah di sekitar, dan alhamdulillah karena kita menerima getaran hidayah sosial inilah kemudian perubahan kita lakukan, dengan mengikuti ritme getaran yang Allah titipkan melalui rasa, tindakan dan hati kita. Ini adalah getaran yang menggerakan hati kita untuk menggerakan hati orang lain…

Getaran perubahan kemudian kita kirimkan melalui beragam media dan meresonansi beragam orang untuk memiliki ritme dan amplitudo yang sama, sehingga apa yang kita lakukan hanyalah setitik amal perbuatan yang berkat kehendak Allah bisa memberikan dampak perubahan bagi banyak orang…

Terimalah stimulus dari Allah melalui masalah orang-orang di sekitar kita, jadikan mereka sebagai ujian kesabaran sekaligus rasa syukur diberikannya kita akal yang sehat dan hati yang senantiasa merasa tak memiliki apa2 kecuali atas izinNya…

Semata untuk mengamalkan sebuah kalimat sederhana sarat makna “manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya”…

Bermanfaat.. itulah ritme dan amplitudo kita semua..

Salam..
Baban Sarbana
Catatan Tentang PDM..

Harga Diri dan Indeks Prestasi

Senin, 7 Agustus, sehari setelah ulang tahun saya yang ke-21, berkumpul orang-orang di depan Aula Kantor Pusat (AKP), melihat pengumuman kelulusan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Beberapa orang memberikan selamat kepada saya. “Selamat ulang tahun”, “Panjang umur ya…” Saya dengan biasa menyambut mereka. Mengucapkan terima kasih. Fokus saya tertuju pada pengumuman di tembok gedung AKP.

Melihat papan pengumuman dan mengurut no. registrasi mahasiswa, saya berhenti pada G.290071—itu nomor mahasiswa saya—Program Studi Ilmu Komputer, jari saya bergerak ke kanan dan menemukan kata-kata:

G. 290071 – KELUAR ….!

Continue reading

Keren! Di Los Angeles Ada Warung Jawa

Jalan-jalan ke luar negeri lebih dari seminggu, pasti sudah kangen dengan masakan Indonesia. Lidah tak bisa bohong. Begitu juga pengalaman saya ketika traveling ke Los Angeles dan berburu makanan Indonesia hingga menemukan Warung Jawa. Seru!

Rasanya tak lengkap bila saya sudah merasakan makanan dari 4 benua, yaitu Eropa, Amerika, Asia, Afrika. Selama satu minggu traveling di Los Angeles, AS, kalau belum mencicipi makanan dari negeri sendiri, terutama sambal, rasanya ada yang kurang.

Saya termasuk yang sangat menyukai sambal. Kalau kata orang, hambar sayur tanpa garam, lain halnya dengan saya yang ‘haram’ jika makan tanpa sambal!

Niat kuat yang terkumpul selama satu minggu akhirnya terlaksana, ketika saya membaca satu majalah yang memberikan alamat Wong Java House. Wong Java House merupakan, warung Jawa yang ada di Alhambra. Hmmm, lidah sudah melet saja membayangkan makanan yang akan tersaji.

Masalahnya adalah, letak Alhambra agak jauh dari tempat menginap saya di Downtown, LA. Tapi, demi ayam goreng dan semangkuk kecil sambal, ditambah lalapan yang sudah dirindukan, akhirnya saya nekat mengejar makanan istimewa pengobat rindu itu ketempat yang jauh.

Saya menggunakan kereta Metro Rail Train, dari 7th Street Metro Center. Untuk menaiki alat transportasi ini, traveler harus membayar sekitar USD 7 atau Rp 67.300 untuk Tap Card yang artinya, bisa menggunakan kereta dan bus yang terkoneksi selama seharian. Hitung-hitung sebagai persiapan jika tersesat. 

Benar saja, saya tersesat. Turun di stasiun paling ujung karena keenakan naik kereta alias ketiduran. Kemudian, saya bertanya ke orang sekitar dan mereka memberi tahu kalau akan ke Alhambra, turunnya di Memorial Park Station dan dilanjutkan dengan naik Metro Bus 762.

Alhasil, saya kembali lagi naik kereta. Untungnya tiket masih Tap Card selama satu hari, jadi tak perlu bayar lagi.

Turun dari kereta, saya pun menyeberangi 2 blok dan sampai di Fair Oaks. Tak lama berdiri di halte kecil, lewatlah bus 762. Tapi, berhentinya tidak di halte. ‘Supirnya baik hati’ meminta saya mengejar bus.

Ternyata halte tempat saya menunggu, bukan untuk bus 762, tapi 260. Jadilah saya berlari lumayan kencang mengejar bus tersebut. Meskipun capek, tetap bisa terkejar.

Naik Metro Bus, kemudian berlanjut ke Alhambra. Waktu yang ditempuh lumayan lama, sekitar 30 menitan. Tapi, jauh dan lama tak sebanding dengan nikmatnya makanan yang akan saya santap di warung Jawa.

Sampai di Alhambra, ternyata saya harus berjalan kaki lagi lumayan jauh. Mencari alamat dengan nomor rumah 1936, sementara saya berhenti di nomor 1000-an. Berjalan lah saya lumayan jauh. Tak apalah menikmati saja sore yang lumayan indah itu dan rela perut keroncongan.

Jelang pukul 19.00 akhirnya saya sampai di Wong Java House yang beralamat di 1936 West Valley Boulevard Alhambra, LA. Restonya kecil, tapi suasananya asri. Ketika ingin masuk, saya didahului oleh dua gadis yang cukup menarik, sepertinya mahasiswi.

Saya masuk dan langsung merasa seperti berada di Indonesia, mulai dari sapaan dan menu yang disajikan. Langsung saja saya memilih dan memesan ayam bakar ditambah sambal, dengan minuman es kelapa. Yummy….

Rupanya di restoran Wong Java ini menunya lumayan lengkap. Se-Nusantara ada, bukan makanan Jawa saja. Tidak heran, kalau pengunjung yang datang pun beraneka rupa. Termasuk dua gadis di hadapan saya yang sedang ketawa-ketiwi dan tak ada habisnya mengobrol.

Sambil menunggu makanan datang, saya memberanikan diri untuk mengajak ngobrol kedua gadis tersebut. Karena sama-sama dari Indonesia, mereka pun menyambut baik. Ternyata, kedua gadis manis ini adalah mahasiswa bidang keperawatan dan animasi. Gadis yang satu berasal dari Jakarta dan yang satu lagi dari Salatiga, Jawa Tengah. 

Akhirnya, dinner saya yang tadinya hanya sendirian berkat kebaikan dua gadis tadi, jadi bisa bersantap bersama. Asyiknya! Makan di Wong Java House, tidak cuma dapat makanan Indonesia, tapi kehangatan khas Indonesia. Apalagi bisa makan malam bersama pula dengan dua gadis Indonesia.

Obrolan pun makin seru ketika menceritakan kegiatan masing-masing. Yang saya kaget, ketika salah satu dari mereka bilang kalau dia lebih mencintai dan ingin mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, justru setelah berada di Los Angeles. Hal ini dirasakan karena cerita tentang Indonesia yang belum mereka tahu banyak oleh teman-teman bulenya.

Seusainya makan malam, saya ditanya mau pulang menggunakan apa. Saya bilang, saya naik bus dilanjutkan dengan kereta. Beruntung, mereka dengan baik hati menawari saya ikut numpang di mobilnya karena lokasi hotel saya yang berada di Downtown masih satu jalur dengan perjalanan mereka. Saya pun dengan senang hati menerima tawarannya sambil membayangkan, jika naik bus ditambah kereta yang akan memakan waktu hampir 2 jam.

Pulanglah saya dengan perut kenyang dan hati senang. Apalagi, naik mobil kawan-kawan baru sambil bertukar cerita. Ternyata, waktu tempuh saya siang tadi ke Wong Java House dari Downtown yang hampir 2 jam, kini dengan mobil pribadi bisa ditempuh dengan waktu hanya 15 menit saja. Memang, di LA lebih enak naik mobil pribadi daripada naik transportasi umum, apalagi bus.

Wah, pengalaman yang sangat seru dan menyenangkan. Makan di warung yang menyajikan makanan tradisional Indonesia dan mendapat kawan yang keramahannnya khas Indonesia. Kenyang, senang, happy! I love Indonesia.

Pelatihan Budaya Organisasi

Melalui metode Mind-Mapping, disusun budaya organisasi untuk pengelolaan Kebun Raya Bogor. Alhamdulillah, Kebun Raya Bogor yang merupakan ikon Bogor dan juga bagian dari ikon dunia, mendapatkan banyak pengakuan terhadap pengelolaannya.

Para Guru Motivasi

Keduanya adalah guru-guru saya. Mas Jamil Azzaini dan Guz Reza Syarief. Mengajarkan banyak hal tentang bagaimana menjadi trainer yang baik dan menginspirasi.

Energi keduanya menjadi bagian dari perkembangan diri saya untuk menjadi trainer, fasilitator, penulis yang berbagi kisah dan inspirasi ke semua orang.

Terima kasih Mas Jamil Azzaini

Terima kasih Guz Reza Syarief

Karya Inovasi Mainan Edukasi

Beberapa karya inovasi yang dihasilkan, utamanya adalah mainan edukasi. Mulai dari Mainan Edukasi Gizi Seimbang, Kartu Edukasi KINARA (Kisah Nabi & Rasul) serta Puzzle Doclang 99 (Dongeng Anak Cemerlang Asmaul Husna).

Geopreneur: Wirausaha Sosial Berbasis Desa

Semudah 1,2,3,4,5:

  1. Dimulai dari CALLING (panggilan)
  2. Lestarikan Alam, Sejahterakan warga
  3. Define (Tujuan), Design (Rancang Strategi), Do it (Lakukan Tindakan)
  4. Kolaborasi Motor, Mitra, Mentor dan Maestro
  5. Sinergi Pemerintah, Komunitas, Media, Akademik. Dunia Bisnis